Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (5)



ضمن جولة في صحيح مسلم: اللمعة في بيان صفات السبعة

Jaulah Shahih Muslim :

Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (Bagian Kelima)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan ini masuk dalam Kategori Hadits

والقول الثاني: إنه ظلٌّ يخلقه – تعالى – في ذلك اليوم، يظلل به من يستحق هذا الفضل:

Pendapat Kedua: Bahwa ia adalah naungan yang diciptakan oleh Allah Ta’ala pada hari tersebut, untuk menaungi siapa saja yang berhak mendapatkan keutamaan ini.

وهو اختيار الشيخ ابن عثيمين – رحمه الله – حيث قال: “لكن الله – عز وجل – يخلق شيئًا يظلل به من يشاء من عباده، يوم لا ظل إلا ظله، هذا هو معنى الحديث، ولا يجوز أن يكون له معنى سوى هذا”؛ (انظر: “شرح رياض الصالحين”، 1/735).

Ini adalah pilihan Syekh Ibnu Utsaimin—rahimahullah—di mana beliau berkata: “Akan tetapi Allah Azza wa Jalla menciptakan sesuatu yang dengannya Dia menaungi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Inilah makna hadits tersebut, dan tidak boleh ada makna selain ini.” (Lihat: “Syarh Riyadhus Shalihin”, 1/735).

وقال (في صفحة 783): “حتى الرواية التي وردت في ظل عرشه، فيها نظر؛ لأن المعروف أن العرش أكبر من السموات والأرض والشمس والقمر والنجوم… لو صح الحديث، لقلنا: ربما يكون طرف العرش مثلاً، والله – عز وجل – على كل شيء قدير، لكن هذه اللفظة في صحتها نظر، والصواب أنه ظل يخلقه الله في ذلك اليوم، إما من الغمام أو من غير ذلك، فالله أعلم به”، 

Beliau juga berkata (di halaman 783): “Bahkan riwayat yang menyebutkan ‘naungan Arsy-Nya’ pun perlu ditinjau kembali (fiihi nazhar); karena yang diketahui secara umum adalah bahwa Arsy itu lebih besar daripada langit, bumi, matahari, bulan, dan bintang-bintang… Jika hadits tersebut sahih, maka kita katakan: mungkin yang dimaksud adalah tepi Arsy misalnya, dan Allah Azza wa Jalla Maha Kuasa atas segala sesuatu. Akan tetapi kesahihan lafaz ini perlu ditinjau, dan yang benar adalah bahwa ia merupakan naungan yang Allah ciptakan pada hari itu, baik itu berupa awan atau selainnya, dan Allah-lah yang lebih mengetahui tentang hal tersebut.”

وأيضًا ذكر نحو ذلك في صفحة (950) (انظر: “شرح رياض الصالحين”، في مجلدين، طبعة دار السلام)، وقال في “شرحه للعقيدة الواسطية” (ص497): “((لا ظل إلا ظله)): يعني: إلا الظل الذي يخلقه، وليس كما توهم بعض الناس أنه ظل ذات الرب – جل وعلا – فإن هذا باطل؛ لأنه يستلزم حينئذٍ أن تكون الشمس فوق الله – عز وجل”.

Beliau juga menyebutkan hal serupa di halaman (950) (Lihat: “Syarh Riyadhus Shalihin”, cetakan Darus Salam). Beliau berkata pula dalam “Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyyah” (hal. 497): “((Tidak ada naungan kecuali naungan-Nya)): maksudnya adalah naungan yang Dia ciptakan, dan bukan seperti anggapan sebagian orang bahwa itu adalah naungan Zat Allah Jalla wa ‘Ala, karena hal ini batil; sebab jika demikian, konsekuensinya adalah matahari berada di atas Allah Azza wa Jalla.”

والقول الثالث: إنه ظلٌّ اللهُ أعلمُ بكيفيته، يمر كما جاء في النصوص، ونثبته من غير تأويل وتفسير وتكييف له:

Pendapat Ketiga: Bahwa ia adalah naungan yang Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya (kaifiyah-nya), dibiarkan sebagaimana yang datang dalam teks dalil (nash), dan kita menetapkannya tanpa melakukan takwil (penafsiran menyimpang), tafsir, maupun takyif (penggambaran bentuk).

وهو اختيار الشيخ ابن باز – رحمه الله – فقد سئل (في شريط “فتاوى متنوعة” – الطائف – منتصف الوجه الأول) بما هذا نصه: قال السائل: ذكر أحد العلماء عند حديثه عن ظل الله قوله: “الله – عز وجل – يخلق شيئًا يظلل به من شاء من عباده”، فهل يستقيم هذا المعنى؟

Ini adalah pilihan Syekh Ibnu Baz—rahimahullah. Beliau pernah ditanya (dalam kaset “Fatawa Mutanawwi’ah” – Thaif – pertengahan sisi pertama) dengan redaksi sebagai berikut: Penanya berkata: “Salah seorang ulama ketika berbicara tentang naungan Allah menyebutkan perkataannya: ‘Allah Azza wa Jalla menciptakan sesuatu yang dengannya Dia menaungi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya’, apakah makna ini tepat?”

فأجاب: هذا من التأويل لا يجوز هذا من التأويل؛ بل يجب إمرار الحديث على ظاهره، ويقول الله أعلم بكيفيته، يظلهم الله بظله على الكيفية التي يعلمها – سبحانه وتعالى”.

Maka beliau menjawab: “Ini termasuk takwil, tidak boleh (mengatakan) ini karena termasuk takwil; bahkan wajib membiarkan hadits tersebut sesuai zahirnya, dan ia (seharusnya) berkata: ‘Allah lebih mengetahui bagaimana hakikatnya, Allah menaungi mereka dengan naungan-Nya sesuai hakikat yang diketahui oleh-Nya Subhanahu wa Ta’ala’.”

وبيَّن في موضع آخر أنه لا حاجة لحمل المطلق على المقيد، وأن ظل الله – تعالى – ورد في أحاديث، وظل العرش في أحاديث أخرى.

Beliau juga menjelaskan di tempat lain bahwa tidak perlu membawa dalil mutlak kepada dalil muqayyad (terikat), dan bahwa naungan Allah Ta’ala disebutkan dalam beberapa hadits, sementara naungan Arsy disebutkan dalam hadits-hadits lainnya.

هذا هو ملخص الكلام على هذه المسألة، وتقدم أن القول الأول هو قول جماعة من الأئمة المتقدمين، وأما حديث الباب فقد جاء تقييده بظل العرش، وهي رواية في “سنن سعيد بن منصور” من حديث سلمان – رضي الله عنه – بلفظ: ((سبعة يظلهم الله في ظل عرشه…)) وذكر الحديث، 

Inilah ringkasan pembahasan dalam masalah ini. Telah disebutkan sebelumnya bahwa pendapat pertama adalah pendapat sekelompok imam terdahulu. Adapun hadits dalam bab ini, terdapat riwayat yang membatasinya sebagai “naungan Arsy”, yaitu riwayat dalam “Sunan Said bin Manshur” dari hadits Salman radhiyallahu ‘anhu dengan lafaz: ((Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan Arsy-Nya…)) dan beliau menyebutkan hadits tersebut.

وهي رواية حسَّن إسنادَها ابنُ حجر (في “فتح الباري”، حديث660)، وجزم بها القرطبي (في “المفهم”، حديث 899)، وكذلك النووي (في “شرحه لمسلم”، حديث (1031))، واستشهد بها شيخ الإسلام ابن تيمية (في “الفتاوى”، 17/25) ونسبها للصحيحين، واستدل بها ابن القيم (في “طريق الهجرتين”، 525)، وكذلك الشيخ السعدي في تفسيره وذكره لقصة يوسف ص (409) – رحم الله جميع علمائنا، وأثابهم على التماسهم للصواب، والله أعلم.

Ini adalah riwayat yang sanadnya dihasankan oleh Ibnu Hajar (dalam “Fathul Bari”, hadits 660), dipastikan (kesahihannya) oleh Al-Qurthubi (dalam “Al-Mufhim”, hadits 899), demikian pula An-Nawawi (dalam “Syarh Muslim”, hadits 1031), dan dijadikan hujah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (dalam “Al-Fatawa”, 17/25) serta menisbatkannya kepada Shahihain (Bukhari-Muslim), dan dijadikan dalil oleh Ibnu al-Qayyim (dalam “Thariq al-Hijratain”, 525), begitu pula Syekh As-Sa’di dalam tafsirnya saat menyebutkan kisah Nabi Yusuf hal. (409)—semoga Allah merahmati semua ulama kita dan memberi mereka pahala atas upaya mereka dalam mencari kebenaran, wallahu a’lam.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

 

 

 



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.