ضمن جولة في صحيح مسلم: اللمعة في بيان صفات السبعة
Jaulah Shahih Muslim :
Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (Bagian Keenam)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan ini masuk dalam Kategori Hadits
رابعًا: بيان فضل هؤلاء السبعة:
Keempat: Penjelasan Keutamaan Tujuh Golongan Ini:
في الحديث بيان فضل هؤلاء السبعة يوم القيامة، وهو ظل الله – تعالى – لهم في ذلك اليوم، يوم لا ظل إلا ظله، فليس للناس ما يستظلون به من حرِّ الشمس وكربِ ذلك اليوم، إلا من ييسِّر الله له ذلك، فيسعد بنيل صفة من هذه الصفات لحاجته لهذا الظل؛
Dalam hadits ini terdapat penjelasan tentang keutamaan tujuh golongan ini pada hari kiamat, yaitu adanya naungan Allah Ta’ala bagi mereka pada hari tersebut; hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Manusia tidak memiliki apa pun untuk dijadikan tempat bernaung dari panas matahari dan kesusahan hari itu, kecuali bagi orang yang Allah mudahkan hal tersebut baginya. Maka ia pun berbahagia dengan meraih salah satu dari sifat-sifat ini karena kebutuhannya akan naungan tersebut.
ففي ذلك اليوم الطويلِ قدرُه؛ قال الله – تعالى – عنه:
Sebab, pada hari yang sangat lama masanya itu—Allah Ta’ala berfirman tentangnya :
﴿ تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ ﴾ [المعارج: 4]،
{Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun} [Al-Ma’arij: 4]
العظيمِ هولُه؛
yang sangat dahsyat kengeriannya :
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ ﴾ [الحج: 1]،
{Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan hari kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar} [Al-Hajj: 1]—
الشديدِ كربُه؛
serta yang sangat berat kesusahannya :
﴿ فَكَيْفَ تَتَّقُونَ إِنْ كَفَرْتُمْ يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيبًا ﴾ [المزمل: 17] –
{Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban} [Al-Muzzammil: 17]
تدنو الشمس فيه من الخلائق؛ فعن المقداد بن الأسود – رضي الله عنه – قال النبي صلى الله عليه وسلم:
matahari didekatkan kepada para makhluk. Dari Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
تُدنَى الشمس من الخلائق، حتى تكون منهم بمقدار ميل، فيكون الناس على قدر أعمالهم في العرق؛ فمنهم من يكون العرق إلى كعبيه، ومنهم من يكون إلى ركبتيه، ومنهم من يُلجمه العرقُ إلجامًا؛ (رواه مسلم)
“Matahari didekatkan kepada para makhluk, hingga jaraknya dari mereka seukuran satu mil, maka manusia berada dalam keringat sesuai dengan kadar amal perbuatan mereka; di antara mereka ada yang keringatnya mencapai kedua mata kakinya, di antara mereka ada yang mencapai kedua lututnya, dan di antara mereka ada yang keringatnya mengekang mereka (sampai ke mulut) dengan sebenar-benarnya mengekang.” (Diriwayatkan oleh Muslim).
وفي الصحيحين من حديث أبي هريرة – رضي الله عنه -:
Dan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :
يعرق الناس يوم القيامة، حتى يذهب عرقهم في الأرض سبعين ذراعًا
“Manusia bercucuran keringat pada hari kiamat, hingga keringat mereka meresap ke dalam bumi sejauh tujuh puluh hasta.”
فيا سعادة من نال الظل في ذلك اليوم!
Maka alangkah bahagianya orang yang mendapatkan naungan pada hari tersebut!
خامسًا: الكلام على الأصناف الواردة في الحديث:
Kelima: Penjelasan Mengenai Golongan-Golongan yang Disebutkan dalam Hadits:
الأول: (الإمام العادل):
Pertama: (Pemimpin yang Adil):
• الإمام العادل: الإمام المراد به الحاكم أو السلطان، ويدخل فيه القاضي أيضًا، وكل من له ولاية على غيره.
Pemimpin yang Adil: Yang dimaksud dengan “Imam” (pemimpin) adalah penguasa atau sultan, dan termasuk di dalamnya adalah hakim, serta setiap orang yang memiliki kepemimpinan atau otoritas atas orang lain.
قال ابن حجر – رحمه الله -:
Ibnu Hajar rahimahullah berkata :
“ويلحق به كلُّ من وَلِيَ شيئًا من أمور المسلمين فعَدَلَ فيه، ويؤيِّده رواية مسلم من حديث عبدالله بن عمرو – رضي الله عنهما – ورفعه: ((إن المقسطين عند الله على منابر من نور عن يمين الرحمن، الذين يَعدِلون في حكمهم وأهليهم وما ولوا))، وأحسن ما فسِّر به العادل: أنه الذي يتبع أمر الله – تعالى – بوضع كل شيء في موضعه، من غير إفراط ولا تفريط”؛ (انظر: “الفتح”، حديث (660)).
“Termasuk ke dalamnya adalah setiap orang yang mengurus sesuatu dari urusan kaum muslimin lalu ia berlaku adil padanya. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (sampai kepada Nabi): ‘Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di sebelah kanan Ar-Rahman, yaitu orang-orang yang berlaku adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan apa yang mereka pimpin.’ Penjelasan terbaik mengenai ‘yang adil’ adalah: ia yang mengikuti perintah Allah Ta’ala dengan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya, tanpa berlebihan (ifrath) dan tanpa meremehkan (tafrith).” (Lihat: “Al-Fath”, hadits (660)).
• قدِّم الإمام العادل في الذِّكر؛ لعموم النفع به، فنفعه متعدٍّ، فإن عَدَلَ، عدل من تحته وصلحت أحوال الناس، والعادل يحكم بين الناس بالعدل، فلا يميل مع الهوى، ولا يرتشي بمال، ولا يضيع ما أمره الله به.
Pemimpin yang adil didahulukan penyebutannya karena luasnya manfaat yang ia berikan; manfaatnya bersifat luas bagi orang lain (muta’addi). Jika ia adil, maka orang-orang di bawahnya akan adil dan keadaan manusia pun menjadi baik. Pemimpin yang adil memutuskan perkara di antara manusia dengan keadilan, sehingga ia tidak condong mengikuti hawa nafsu, tidak menerima suap dengan harta, dan tidak menyia-nyiakan apa yang telah Allah perintahkan kepadanya.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : Alukah
Leave a Reply