ضمن جولة في صحيح مسلم: اللمعة في بيان صفات السبعة
Jaulah Shahih Muslim :
Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (Bagian Kesepuluh)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan ini masuk dalam Kategori Hadits
السادس: ((ورجلٌ تصدق بصدقةٍ فأخفاها؛ حتى لا تعلم يمينه ما تنفق شماله)):
Keenam: Seorang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu ia menyembunyikannya; sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kirinya :
((حتى لا تعلم يمينه ما تنفق شماله)): هكذا في رواية مسلم، ورواية البخاري:
- “Hingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kirinya”: Demikianlah yang termaktub dalam riwayat Muslim. Adapun dalam riwayat Bukhari disebutkan :
حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه
Hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya
وهي الصواب؛ لأن المعروف في النفقة أنها تكون باليمين، وأما رواية مسلم ففيها قلب.
dan inilah yang benar (lebih tepat secara konteks); karena sudah semestinya nafkah atau sedekah itu diberikan dengan tangan kanan, sedangkan dalam riwayat Muslim terjadi qalb (pertukaran posisi kata).
قال القاضي عياض – رحمه الله -: “كذا روي عن مسلم هنا في جميع النسخ الواصلة إلينا، والمعروف الصحيح: ((حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه))، وكذا وقع في الموطأ والبخاري، وهو وجه الكلام؛ لأن النفقة المعهود فيها اليمين، ويشبه أن يكون الوهم فيها من الناقلين عن مسلم، بدليل إدخاله بعده حديث مالك…”؛ (انظر: “كمال المعلم”، 3/563، وانظر: “شرح النووي لمسلم”، حديث (1031)، وانظر: “الفتح”، حديث (660)).
Al-Qadhi ‘Iyadh—rahimahullah—berkata:
“Demikianlah yang diriwayatkan dari Muslim di sini dalam semua naskah yang sampai kepada kita. Namun, yang masyhur dan sahih adalah: ‘Hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya’. Demikian pula yang terdapat dalam Al-Muwaththa’ dan Al-Bukhari, dan itulah susunan kalimat yang semestinya; karena tangan kananlah yang biasa digunakan untuk memberi nafkah. Tampaknya kekeliruan ini berasal dari para perawi yang menukil dari Muslim, dengan bukti bahwa ia (Muslim) mencantumkan hadis Malik setelahnya…” (Lihat: Ikmal al-Mu’lim, 3/563; Syarh An-Nawawi ‘ala Muslim, hadis 1031; dan Al-Fath, hadis 660).
• المقصود من ذلك: هو المبالغة في الإخفاء والاستتار بالصدقة عند بذلها، بحيث لا تعلم الشمال بما تصدَّقت اليمينُ مع قربها وملازمتها له، فضرب المثال هنا لبيان المبالغة في الإخفاء وطلب الإخلاص، وليس المراد ظاهر المثال بأن يخفي شماله عند بذل يمينه للصدقة – والله تعالى أعلم.
- Maksud dari ungkapan tersebut: Adalah bentuk hiperbola (penggambaran yang sangat kuat) dalam menyembunyikan dan merahasiakan sedekah saat memberikannya. Saking rahasianya, diibaratkan tangan kiri tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanan padahal jarak keduanya sangat dekat dan selalu berdampingan. Maka, contoh di sini adalah untuk menunjukkan kesungguhan dalam merahasiakan amal dan mencari keikhlasan, bukan makna tekstual bahwa seseorang harus benar-benar menyembunyikan tangan kirinya saat tangan kanannya memberi sedekah—wallahu Ta’ala a’lam.
• قوله: ((تصدق بصدقةٍ)): صدقة نكرة، والتنكير يفيد العموم، فيشمل كلَّ ما يتصدق به من قليل أو كثير، وظاهر الحديث: أن الصدقة الأفضلُ فيها الإخفاءُ، سواء كانت صدقة واجبة كالزكاة، أو صدقة تطوع؛ لأن اللفظ عام يشمل ذلك، ونقل النووي أن أكثر العلماء على أن الصدقة الواجبة الإعلانُ بها أفضل، وليس في المسألة نصٌّ يفصل ذلك؛ ولذلك جرى الخلاف في هذه المسألة، والأظهر – والله أعلم – أن الأفضل في الصدقة – واجبةً أو مستحبةً
- Sabda beliau: ((Tersedekah dengan suatu sedekah)): Kata “sedekah” di sini berbentuk nakirah (indefinit), yang memberikan makna umum. Ini mencakup segala hal yang disedekahkan, baik sedikit maupun banyak. Zahir hadis menunjukkan bahwa sedekah yang paling utama adalah yang dirahasiakan, baik itu sedekah wajib (zakat) maupun sedekah sunnah; karena lafaznya bersifat umum mencakup keduanya. An-Nawawi menukil bahwa mayoritas ulama berpendapat bahwa sedekah wajib lebih utama untuk ditampakkan (diumumkan). Namun, dalam masalah ini tidak ada nas (teks dalil) yang memberikan keputusan mutlak, sehingga terjadilah perbedaan pendapat. Pendapat yang lebih kuat—wallahu a’lam—adalah bahwa yang paling utama dalam bersedekah—baik wajib maupun sunnah—adalah:
• الإخفاء، إلا إذا وجدتْ مصلحة للإعلان، فالإعلان أفضل، ويدل على ذلك النص والنظر.
- Merahasiakannya, kecuali jika terdapat maslahat dalam menampakkannya, maka menampakkannya menjadi lebih utama. Hal ini ditunjukkan oleh dalil nas maupun logika (nazhar).
فمن النص: قوله – تعالى -: ﴿ إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴾ [البقرة: 271].
Dari sisi nash: Firman Allah Ta’ala:
{Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.} [Al-Baqarah: 271].
واختلف أهل العلم في المراد بالصدقة في الآية، فقيل: صدقة الفرض، وقيل: صدقة التطوع.
Para ahli ilmu berselisih pendapat mengenai makna sedekah dalam ayat ini; ada yang mengatakan sedekah fardu (zakat), ada pula yang mengatakan sedekah sunnah.
وأيضًا حديث الباب عام يشمل صدقة الفرض والنفل.
Selain itu, hadis dalam bab ini bersifat umum mencakup sedekah fardu maupun nafilah (tambahan).
ومن حيث النظر: فإن في صدقة السرِّ تحقُّقَ ثلاثة أمور، بخلاف صدقة العلانية، فأمر واحد، ففي صدقة السر:
- Dari sisi logika (nazhar): Sesungguhnya dalam sedekah secara rahasia terdapat pencapaian tiga hal, berbeda dengan sedekah terang-terangan yang hanya mencapai satu hal. Dalam sedekah rahasia terdapat:
أ- إيصال الخير والنفع للفقير وسد حاجته، وهذا يتحقق في صدقة العلن أيضًا.
Tersampaikannya kebaikan dan manfaat kepada fakir serta terpenuhinya kebutuhannya. Hal ini tercapai juga dalam sedekah terang-terangan.
ب- أن صدقة السر أقرب إلى الإخلاص، وأبعد عن الرياء.
Sedekah rahasia lebih dekat kepada keikhlasan dan lebih jauh dari riya (pamer).
ج- في صدقة السر مراعاةٌ لحال الفقير، واحترام لشعوره، لا سيما المتعفِّف منهم، فهو يرغب في ذلك؛ خشية احتقار الناس له، أو نسبته إلى أنه يأخذ الصدقات ونحو ذلك، وقد امتدحهم الله – عز وجل – بقوله:
Dalam sedekah rahasia terdapat penjagaan terhadap kondisi si fakir dan penghormatan terhadap perasaannya, terutama bagi mereka yang menjaga kehormatan dirinya (muta’affif). Mereka lebih menyukai hal itu karena takut dipandang rendah oleh orang lain atau diasosiasikan sebagai penerima sedekah. Allah Azza wa Jalla telah memuji mereka dengan firman-Nya :
﴿ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ ﴾ [البقرة: 273].
{Orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang-orang kaya karena mereka menjaga diri (dari meminta-minta)} [Al-Baqarah: 273].
فالأفضل – والله أعلم – صدقة السر، ولكن صدقة العلن أفضل في أحيان تقتضيها المصلحة، كأنْ يكون المتصدق ممن يُقتدَى به، وتنبعث الهمم على الإنفاق إذا رأتْه ينفق،
Maka yang paling utama—wallahu a’lam—adalah sedekah secara rahasia. Namun, sedekah terang-terangan bisa menjadi lebih utama pada waktu-waktu yang menuntut adanya maslahat, misalnya: jika pemberi sedekah adalah orang yang diikuti (tokoh), di mana semangat orang lain untuk berinfak akan bangkit jika melihatnya berinfak.
كما يحصل في بعض المشاريع الخيرية حينما يعلن من يقتدى به الصدقة، فيقتدي به غيرُه؛ لما رواه مسلم في صحيحه، قال النبي صلى الله عليه وسلم:
Hal ini terjadi pada sebagian proyek kebaikan ketika orang yang menjadi teladan mengumumkan sedekahnya, lalu orang lain mengikutinya; berdasarkan hadis riwayat Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
من سنَّ في الإسلام سنة حسنة، فله أجرُها، وأجرُ من عمل بها إلى يوم القيامة
“Barangsiapa yang memulai suatu jalan kebaikan dalam Islam, maka baginya pahala amal tersebut dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat.”
وكذا من أمِنَ على نفسه الرياء، أما من خاف ذلك، فالسر أفضل، ومن المصلحة في الإعلان أن يُتَّهم الإنسان بأنه لا يخرج زكاة ماله، ويساء به الظن، فيُظهرها حينئذٍ، ونحو ذلك من المصلحة الراجحة في الإعلان، فالسرُّ والعلن في الصدقة يختلف باختلاف الأحوال – والله تعالى أعلم.
Demikian pula bagi orang yang merasa aman dirinya dari sifat riya. Adapun bagi yang takut akan hal itu, maka merahasiakannya adalah lebih utama. Termasuk maslahat dalam menampakkan sedekah adalah agar seseorang tidak tertuduh sebagai orang yang tidak mengeluarkan zakat malnya sehingga timbul prasangka buruk, maka saat itulah ia menampakkannya. Kesimpulannya, antara merahasiakan atau menampakkan sedekah itu berbeda-beda tergantung situasinya—wallahu Ta’ala a’lam.
Leave a Reply