ضمن جولة في صحيح مسلم: اللمعة في بيان صفات السبعة
Jaulah Shahih Muslim :
Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (Bagian Kesebelas)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan ini masuk dalam Kategori Hadits
السابع: ((ورجلٌ ذكر الله خاليًا، ففاضت عيناه)):
Ketujuh: Seorang laki-laki yang mengingat Allah dalam keadaan sunyi, lalu kedua matanya meneteskan air mata:
• ((ففاضت عيناه))؛ أي: فاضت وسالت دموعُ عينيه؛ لأن العين لا تفيض، والذي يفيض هو الدمع، وأسند الفيض للعين مبالغة كأنها هي التي فاضت، وهذا يسمى مجازًا مرسلاً.
- “Kedua matanya meneteskan air mata” (fadhat ‘ainahu); maknanya air matanya mengalir dan tumpah. Secara bahasa, mata itu sendiri tidak “meluap”, melainkan air matanyalah yang meluap. Penyandaran kata “meluap” kepada mata merupakan bentuk hiperbola (mubaalaghah), seolah-olah mata itu sendirilah yang meluap; dalam ilmu balaghah ini disebut sebagai majaz mursal.
• ((ذكر الله خاليًا)): إما بالتذكُّر بالقلب والفكر، وإما بالذِّكر باللسان، و(خاليًا)؛ أي: في موضع خالٍ ليس فيه أحد من الناس؛ ليكون أبعدَ عن الرياء، وأقربَ إلى الإخلاص، وخاليًا من الالتفات لغير الله – تعالى.
- “Mengingat Allah dalam keadaan sunyi”: Baik dengan mengingat di dalam hati dan pikiran, maupun dengan zikir melalui lisan. “Sunyi” (khaliyan) berarti berada di tempat sepi yang tidak ada seorang pun di sana, agar lebih jauh dari sifat riya, lebih dekat kepada keikhlasan, serta bersih dari berpaling kepada selain Allah Ta’ala.
قال القرطبي – رحمه الله -: “فيض العين: بكاؤها، وهو على حسب حال الذكر، وبحسب ما ينكشف له من أوصافه – تعالى – فإن انكشف له غضبُه، فبكاؤه عن خوف، وإن انكشف له جماله وجلاله، فبكاؤه عن محبة وشوق، وهكذا يتلوَّن الذاكر بحسب ما يذكر من الأسماء والصفات”؛ (انظر: “المفهم”، حديث (899)).
Al-Qurthubi—rahimahullah—berkata: “Meluapnya mata artinya tangisannya, dan itu tergantung pada keadaan zikirnya serta apa yang tersingkap baginya dari sifat-sifat Allah Ta’ala. Jika yang tersingkap baginya adalah kemurkaan-Nya, maka tangisannya muncul karena rasa takut. Jika yang tersingkap baginya adalah keindahan dan keagungan-Nya, maka tangisannya muncul karena cinta dan rindu. Demikianlah orang yang berzikir berubah-ubah keadaannya sesuai dengan asma dan sifat yang ia zikirkan.” (Lihat: “Al-Mufhim”, hadis 899).
• في إيراد هذه الخصلة فضلُ البكاء من خشية الله – تعالى – أو شوقًا لما عند الله، وأعظمه النظر إلى وجهه الكريم – نسأل الله تعالى من فضله.
Dalam pencantuman perkara ini, terdapat keutamaan menangis karena takut kepada Allah Ta’ala atau karena rindu akan apa yang ada di sisi Allah, yang puncaknya adalah melihat kepada Wajah-Nya yang Mulia—kita memohon karunia-Nya kepada Allah Ta’ala.
هذا ما تيسر بيانه بإيجاز عن هؤلاء السبعة، والحق أن الحديث عن كل واحد منهم يطول؛ فهي صفات عظيمة توحي بكمال كل خصلة ذُكرت.
Inilah penjelasan ringkas yang dapat disampaikan mengenai tujuh golongan ini. Sebenarnya, pembahasan mengenai masing-masing golongan sangatlah panjang; mereka memiliki sifat-sifat agung yang menunjukkan kesempurnaan setiap perkara yang disebutkan.
قال شيخ الإسلام ابن تيمية – رحمه الله -: “فذكر صلى الله عليه وسلم هؤلاء السبعة، إذ كل واحد منهم كمل العبادة التي يقوم بها، فالإمام العادل كمل ما يجب من الإمارة، والشاب الناشئ في عبادة الله كمل ما يجب من عبادة الله، والذي قلبُه معلق بالمساجد كمل عمارة المسجد بالصلوات الخمس؛ لقوله: ﴿ إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ ﴾ [التوبة: 18]، والعفيف كمل الخوف من الله، والمتصدق كمل الصدقة، والباكي كمل الإخلاص”؛ (انظر: “مجموع الفتاوى”، 23/144).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—rahimahullah—berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan ketujuh golongan ini karena masing-masing dari mereka telah menyempurnakan ibadah yang dilakukannya. Pemimpin yang adil menyempurnakan kewajiban kepemimpinan; pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah menyempurnakan kewajiban ibadah; orang yang hatinya terpaut dengan masjid menyempurnakan pemakmuran masjid dengan shalat lima waktu—berdasarkan firman-Nya: {Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk} [At-Taubah: 18]; orang yang menjaga kehormatan menyempurnakan rasa takut kepada Allah; orang yang bersedekah menyempurnakan sedekahnya; dan orang yang menangis menyempurnakan keikhlasannya.” (Lihat: “Majmu’ al-Fatawa”, 23/144).
سادسًا: ذكر الرجل في الحديث لا مفهوم له، فليس المراد أنه لا يدخل في الفضل إلا الرجالُ؛ بل تشترك النساءُ معهم فيما ذُكر، ويستثنى من ذلك (الإمام العادل) إن كان المراد به الإمامة العظمى، وإلا فإن المرأة يمكن أن تدخل، بحيث تكون ذات عيال فتعدل بينهم،
Keenam: Penyebutan “laki-laki” (Ar-Rajul) dalam hadis tidak memiliki makna pembatasan (tidak memiliki mafhum). Maksudnya, bukan berarti keutamaan ini hanya didapat oleh laki-laki saja; melainkan kaum wanita pun berserikat (berbagi peran) dengan mereka dalam apa yang telah disebutkan. Dikecualikan dari hal itu adalah “Pemimpin yang Adil” jika yang dimaksud adalah kepemimpinan tertinggi (Imamah ‘Udhma). Namun jika bukan itu, maka wanita bisa termasuk di dalamnya, misalnya ia memiliki anak-anak lalu ia berlaku adil di antara mereka.
وكذلك يستثنى خدمة ملازمة المسجد؛ لأن صلاة المرأة في بيتها أفضل، على أنه يحتمل أيضًا دخولها في هذا الفضل، وذلك حين يكون قلبها معلقًا بالصلاة؛ لأن فضل تعلق قلب المرء بالمساجد إنما هو من أجل ما عمرت به من المساجد، وأعظمها الصلاة، فإذا تعلق قلب المرأة بالصلاة، كان ذلك محتملاً لدخولها في هذا الفضل، وفضل الله – تعالى – واسع، والله أعلم.
Demikian pula dikecualikan dalam hal menetap di masjid, karena shalatnya wanita di rumahnya adalah lebih utama. Walaupun demikian, ada kemungkinan ia tetap masuk dalam keutamaan ini, yaitu ketika hatinya terpaut dengan shalat. Sebab, keutamaan terpautnya hati seseorang dengan masjid adalah karena tujuan memakmurkan masjid tersebut, dan yang paling utama adalah shalat. Jika hati seorang wanita terpaut dengan shalat, maka hal itu memungkinkan ia masuk ke dalam keutamaan ini, dan karunia Allah Ta’ala itu sangatlah luas. Wallahu a’lam.
قال الشيخ ابن عثيمين – رحمه الله -: “فهل مثله من لا يحضر المساجد؛ لكن قلبه معلق بالصلاة؟ يعنى: امرأة مثلاً في بيتها قلبُها معلَّقٌ بالصلاة، أو إنسان مريض لا يستطيع الصلاة في المسجد؛ لكن قلبه معلق بالعبادة من باب أولى؛ لأن المساجد أماكن العبادة… الذي يظهر لي: أن الذي قلبه معلق بالصلاة، سواء كان يؤديها في البيت لعذر، أو لكونه ليس من أهل الجماعة – يدخل في الحديث”؛ (انظر: “شرح البخاري”، لشيخنا ابن عثيمين، 3/84).
Syekh Ibnu Utsaimin—rahimahullah—berkata: “Apakah orang yang tidak menghadiri masjid namun hatinya terpaut dengan shalat dianggap serupa dengannya? Misalnya seorang wanita di rumahnya yang hatinya terpaut dengan shalat, atau orang sakit yang tidak mampu shalat di masjid namun hatinya terpaut dengan ibadah; maka ini lebih utama lagi karena masjid adalah tempat ibadah… Yang tampak bagi saya adalah: orang yang hatinya terpaut dengan shalat—baik ia melakukannya di rumah karena uzur atau karena ia bukan termasuk ahli jamaah (wanita)—maka ia masuk ke dalam hadis ini.” (Lihat: “Syarh al-Bukhari” karya Syekh kami Ibnu Utsaimin, 3/84).
وأما الصفات الأخرى الواردة في الحديث، فمشاركة النساء للرجال فيهن حاصلة لهن، والله أعلم.
Adapun sifat-sifat lainnya yang disebutkan dalam hadis, maka keikutsertaan wanita bersama laki-laki dalam hal tersebut telah tetap bagi mereka. Wallahu a’lam.
Alhamdulillah selesai rangkaian artikel 11 (Sebelas) Seri
Sumber : Alukah
Leave a Reply