ضمن جولة في صحيح مسلم: اللمعة في بيان صفات السبعة
Jaulah Shahih Muslim :
Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (Bagian Kesembilan)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan ini masuk dalam Kategori Hadits
الخامس: ((ورجلٌ دعتْه امرأةٌ ذات منصبٍ وجمالٍ، فقال: إني أخاف الله)):
Kelima: Seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’:
((دعته))؛ أي: طلبتْه لفعل الفاحشة والزنا بها، وهذه أول الدواعي في هذه الخصلة، فالطلب جاء منها، وثاني الدواعي: أنها ذات منصب؛ أي: أصل وشرف ومال، وثالثها: أنها ذات جمال، ولا يمتنع عن ذلك مع وجود هذه الدواعي إلا قلبٌ عظُم فيه الخوفُ من الله.
- “Diajaknya”; artinya: wanita itu memintanya untuk melakukan perbuatan keji dan zina dengannya. Ini adalah pendorong pertama dalam perkara ini, yaitu permintaan datang dari pihak wanita. Pendorong kedua: wanita itu memiliki kedudukan; yakni asal-usul (nasab), kemuliaan, dan harta. Pendorong ketiga: wanita itu memiliki kecantikan. Tidak ada yang bisa menahan diri dari hal itu di tengah adanya pendorong-pendorong tersebut kecuali hati yang di dalamnya terdapat rasa takut yang besar kepada Allah.
• خص المنصب والجمال؛ لشدة رغبة الناس فيهما، وحرصهم عليهما وندرة اجتماعهما في واحد.
- Pengkhususan penyebutan kedudukan dan kecantikan adalah karena besarnya keinginan manusia terhadap keduanya, antusiasme mereka terhadapnya, serta jarangnya kedua hal tersebut terkumpul pada satu orang.
• قال القرطبي – رحمه الله -: معنى “دعته”: عرضت نفسها عليه؛ أي: للفاحشة، وقول المدعو في مثل هذا الحال: إني أخاف الله، وامتناعه لذلك دليلٌ على عظيم معرفته بالله – تعالى – وشدة خوفه من عقابه، ومتين تقواه، وحيائه من الله – تعالى – وهذا هو المقام اليوسفي”؛ (انظر: “المفهم”، حديث (899)).
- Al-Qurthubi—rahimahullah—berkata: “Makna ‘diajaknya’ adalah wanita itu menawarkan dirinya kepadanya; yakni untuk perbuatan keji. Perkataan orang yang diajak dalam kondisi seperti ini: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, serta penolakannya terhadap ajakan tersebut, merupakan bukti atas besarnya makrifatnya (pengenalannya) kepada Allah Ta’ala, kuatnya rasa takutnya terhadap siksaan-Nya, kokohnya ketakwaannya, serta rasa malunya kepada Allah Ta’ala. Inilah yang disebut sebagai Al-Maqam Al-Yusufi (kedudukan seperti Nabi Yusuf).” (Lihat: “Al-Mufhim”, hadis (899)).
• ((إني أخاف الله)): الخوف من الله: هو الرهبة من عذابه، فالذي مَنَعَه من فعل الفاحشة هو الخوف من الله، لا سبب آخر، وقال: (إني أخاف الله)، يحتمل أنه قالها بقلبه؛ ليزجر نفسه، ويحتمل أنه قالها بلسانه؛ ليزجرها – أي: المرأة الطالبة – ليزجرها عن الفاحشة بتذكيرها بالله – تعالى – أو ليعتذر إليها، وقوله ذلك فيه دلالة على شدة خوفه من الله – تعالى – كما تقدم بيانه.
- Sesungguhnya aku takut kepada Allah: Rasa takut kepada Allah adalah rasa ngeri terhadap azab-Nya. Maka yang mencegahnya dari melakukan perbuatan keji tersebut adalah rasa takut kepada Allah, bukan karena alasan lain. Mengenai perkataan (Sesungguhnya aku takut kepada Allah), ada kemungkinan bahwa ia mengucapkannya dalam hati untuk menahan dirinya sendiri, dan ada kemungkinan ia mengucapkannya dengan lisan untuk mencegah wanita tersebut—yakni wanita yang mengajak—dari perbuatan keji dengan mengingatkannya kepada Allah Ta’ala, atau sebagai bentuk alasan penolakan kepadanya. Perkataan tersebut menunjukkan besarnya rasa takutnya kepada Allah Ta’ala sebagaimana penjelasan yang telah lalu.
Leave a Reply