لم تستطع قضاء ما عليها من الصوم
Tidak Mampu Mengqadha Hutang Puasanya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tidak Mampu Mengqadha Hutang Puasanya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
امرأة كبيرة في السن كانت قد أفطرت شهرين في ماضي عمرها بسبب الحمل والإرضاع وقد كان يسود الجهل في الماضي بشأن وجوب قضاء هذه الأيام وهي علمت مؤخرا بوجوب القضاء ولكنها تعاني من قرحة معدية مزمنة وتعاني من صعوبة بالغة في الصيام وهي تصوم شهر رمضان ولا ينتهي هذا الشهر إلا وهي في حالة صحية صعبة وسؤالها بشأن هذين الشهرين هل يباح لها إخراج فدية عن هذه الأيام وما مقدارها إن كان هذا جائزاً؟
Seorang wanita lanjut usia pernah tidak berpuasa selama dua bulan di masa lalunya karena hamil dan menyusui. Dahulu ia tidak mengetahui tentang kewajiban mengqadha hari-hari tersebut. Ia baru saja mengetahui tentang kewajiban qadha tersebut, namun ia menderita penyakit tukak lambung (maag) kronis dan mengalami kesulitan yang sangat besar dalam berpuasa. Ia tetap menjalankan puasa Ramadhan (saat ini), namun bulan tersebut tidak berakhir melainkan ia berada dalam kondisi kesehatan yang buruk. Pertanyaannya mengenai hutang puasa dua bulan tersebut: Apakah diperbolehkan baginya mengeluarkan fidyah untuk hari-hari tersebut, dan berapa ukurannya jika hal itu diperbolehkan?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فمن أفطر أياماً من رمضان، وجهل وجوب قضائها، فإنه يلزمه قضاؤها إذا علم ذلك، فإن أخر القضاء حتى دخل عليه رمضان آخر نظر في أمره: فإن كان التأخير لغير عذر لزمه القضاء والإطعام عن كل يوم مسكيناً. وإن كان لعذر من مرض أو حمل يشق معه الصوم، فلا يلزم غير القضاء. ومنه يعلم الواجب في حق هذه المرأة.
Barangsiapa yang berbuka (tidak berpuasa) beberapa hari di bulan Ramadhan dan tidak mengetahui kewajiban mengqadhanya, maka ia tetap wajib mengqadhanya ketika ia telah mengetahuinya. Jika ia menunda qadha hingga masuk bulan Ramadhan berikutnya, maka kondisinya perlu diperhatikan: Jika penundaan tersebut tanpa uzur, maka ia wajib mengqadha disertai memberi makan satu orang miskin untuk setiap harinya. Namun jika penundaan itu karena uzur, baik itu sakit atau hamil yang menyulitkan puasa, maka tidak ada kewajiban selain qadha saja. Dari sini dapat diketahui kewajiban bagi wanita tersebut.
فإن عجزت عن القضاء، وثبت بخبر الطبيب الثقة أن هذا المرض مما لا يرجى برؤه سقط عنها الصوم، ولزمها عن كل يوم إطعام مسكين مداً من طعام، وهو ما يعادل ٧٥٠ جراماً تقريباً،
Jika ia tidak mampu melakukan qadha, dan telah tetap melalui keterangan dokter yang terpercaya bahwa penyakit ini termasuk jenis yang tidak diharapkan kesembuhannya, maka gugurlah kewajiban puasa darinya, dan ia wajib memberi makan satu orang miskin untuk setiap harinya sebanyak satu mud makanan, yaitu setara dengan sekitar 750 gram.
ويجوز دفع هذه الفدية لمسكين واحد، أو توزيعها على جماعة من المساكين، قال الإمام النووي رحمه الله: (فيجوز صرف أمداد كثيرة عن الشخص الواحد والشهر الواحد إلى مسكين واحد أو فقير واحد.) انتهى. والله أعلم.
Diperbolehkan memberikan fidyah ini kepada satu orang miskin saja, atau membagikannya kepada sekelompok orang miskin. Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Maka diperbolehkan menyalurkan beberapa mud dari satu orang untuk satu bulan kepada satu orang miskin atau satu orang fakir saja.” (Selesai). Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply