حكم من ترك الصلاة بالكلية تهاونا لغير عذر
Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat Secara Total Karena Melalaikannya Tanpa Uzur
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Orang yang Meninggalkan Shalat Secara Total Karena Melalaikannya Tanpa Uzur ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
السلام عليكم : كيف يقضي الصلاة من لم يصل ولم يصم لسنوات كثيرة ثم أناب إلى الله واستغفر ربه وأصبح يحافظ على صلواته وصيامه ، مع العلم أنه قد لا يستطيع بما بقي له من عمر أن يقضي ما قد فاته. ما حكم ذلك على المذاهب الأربعة. وجزاكم الله عنا كل خير والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته .
Assalamu’alaikum: Bagaimana cara seseorang mengqadha shalat jika ia tidak shalat dan tidak puasa selama bertahun-tahun, kemudian ia kembali kepada Allah, memohon ampunan-Nya, dan mulai menjaga shalat serta puasanya; dengan catatan bahwa mungkin ia tidak sanggup mengqadha semua yang terlewat di sisa umurnya? Bagaimana hukum hal tersebut menurut empat madzhab? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه. وبعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فقد اتفق أهل الإسلام على أن الصلاة واجبة على كل مسلم بالغ عاقل ، لم يمنعه من أدائها مانع شرعي ، كالحيض والنفاس عند المرأة ، وكالجنون والإغماء ونحوها من الموانع الشرعية المعتبرة . وهي عبادة بدنية محضة ،لا تقبل النيابة.
Umat Islam telah bersepakat bahwa shalat adalah wajib bagi setiap Muslim yang baligh dan berakal, yang tidak memiliki penghalang syar’i seperti haid dan nifas bagi wanita, atau gila, pingsan, dan penghalang syar’i lainnya yang diakui. Shalat adalah ibadah badaniyah murni yang tidak menerima perwakilan (tidak bisa digantikan orang lain).
والصلاة أعظم أركان الإسلام بعد الشهادتين ، لحديث جابر رضي الله عنه: “بين الرجل وبين الكفر ترك الصلاة” رواه مسلم . وأجمع كل من يعتد به من أهل الإسلام على أن من جحد وجوبها فهو كافر مرتد .
Shalat adalah rukun Islam yang paling agung setelah dua kalimat syahadat, berdasarkan hadis Jabir radhiyallahu ‘anhu: “Pembatas antara seseorang dengan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim). Seluruh ulama yang kompeten telah bersepakat bahwa barangsiapa yang mengingkari kewajibannya, maka ia kafir murtad.
وأما من تركها تكاسلاً ، بحيث لايصليها مطلقا ، فجمهور الأئمة من المالكية والشافعية والحنابلة أنه يستتاب ثلاثة أيام كالمرتد ، فإن تاب وإلا قتل . ويقتل عند المالكية والشافعية حدا لا كفراً . أما عند الحنابلة فإنه يقتل كفراً ، وهو الأظهر ، لمعاضدة الأدلة الصحيحة له.
Adapun orang yang meninggalkannya karena malas, sehingga ia tidak shalat sama sekali, maka mayoritas imam dari kalangan Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat bahwa ia diminta bertaubat selama tiga hari seperti halnya orang murtad; jika ia bertaubat maka diterima, jika tidak maka dibunuh. Menurut madzhab Maliki dan Syafi’i, ia dibunuh sebagai hadd (hukuman legal), bukan karena kafir. Sedangkan menurut madzhab Hanbali, ia dibunuh karena telah kafir (kufr), dan inilah pendapat yang lebih kuat karena didukung oleh dalil-dalil yang shahih.
وحيث قلنا بهذا ـ أي بكفر تارك الصلاة تهاونا وإن لم يجحد وجوبها ـ فإن من كانت حاله مثل ما ذكرت فعليه أن يجدد إيمانه ، وأن يتوب إلى الله توبة صادقة ، وأن يكثر من فعل النوافل والطاعات ، ولا يجب عليه قضاء ماترك من صلاة أو صيام ، ولا كفارة سوى التوبة النصوح والندم ، والاستقامة مابقي .
Berdasarkan pendapat ini—yaitu kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena melalaikannya meskipun tidak mengingkari kewajibannya—maka seseorang yang kondisinya seperti yang Anda sebutkan wajib baginya untuk memperbaharui imannya, bertaubat kepada Allah dengan taubat yang jujur, serta memperbanyak amal nawafil (sunnah) dan ketaatan. Tidak wajib baginya mengqadha shalat atau puasa yang ia tinggalkan (selama masa pengabaian tersebut), dan tidak ada kaffarah baginya kecuali taubatan nasuha, penyesalan, serta istiqamah di sisa umurnya.
على أنه إن كانت الصلوات وأشهر الصوم المتروكات ، مما يطيق قضاءها ، ولو في زمن متطاول فقضاها ـ احتياطا وخروجا من خلاف من لم ير كفره ـ كان أسلم لعاقبته .
Namun, jika shalat-shalat dan bulan-bulan puasa yang ditinggalkan tersebut mampu ia qadha, meskipun dalam jangka waktu yang lama, lalu ia tetap mengqadhanya sebagai bentuk kehati-hatian (ihtiyat) dan untuk keluar dari perselisihan ulama yang tidak menganggapnya kafir, maka hal itu tentu lebih selamat bagi akhiratnya.
أما من ترك الصيام وحده ، وكان مقيما للصلاة ، غير تارك لها في الجملة ، فإنه يجب عليه قضاء مافرط فيه من الصيام ، قل ذلك الصيام أم كثر ، لأنه دين واجب القضاء . ويقضيه بحسب استطاعته ، وإن أطعم مع القضاء عن كل يوم مسكينا ، كفارة لتجاوز محل القضاء ، كان ذلك أولى . والله أعلم .
Adapun orang yang meninggalkan puasa saja, sementara ia tetap mendirikan shalat secara umum, maka wajib baginya mengqadha puasa yang ia lalaikan tersebut, baik jumlahnya sedikit maupun banyak, karena itu adalah hutang yang wajib dibayar. Ia mengqadhanya sesuai kemampuannya. Dan jika ia memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan (fidyah) bersamaan dengan qadha—sebagai kaffarah karena telah melewati batas waktu qadha—maka hal itu tentu lebih utama. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply