Ketidaktahuan yang Diterima sebagai Uzur dan yang Tidak



الجهل المقبول عذراً وغير المقبول

Ketidaktahuan yang Diterima sebagai Uzur dan yang Tidak Diterima

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Ketidaktahuan yang Diterima sebagai Uzur dan yang Tidak Diterima ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

ما الفرق بين القيام بالمعصية مع العلم بها أ وبدون العلم بها؟

Apa perbedaan antara melakukan kemaksiatan dengan mengetahuinya (sengaja) atau tanpa mengetahuinya (tidak tahu hukumnya)?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فقد دلت الأدلة الصحيحة على أن الجهل عذر يرفع المؤاخذة في الجملة، ومن ذلك قوله تعالى:

Dalil-dalil yang shahih telah menunjukkan bahwa ketidaktahuan (al-jahlu) merupakan udzur yang mengangkat tuntutan (dosa) secara umum. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

“وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ” {الأحزاب: ٥}

“Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu.” {Al-Ahzab: 5}

وقوله: 

Dan firman-Nya:

“وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا” {الإسراء: ١٥}، 

“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” {Al-Isra: 15}.

وكما في حديث المسيء صلاته، وحديث معاوية بن الحكم في كلامه في الصلاة جهلاً، وحديث بول الأعرابي في المسجد، وغير ذلك من النصوص الدالة على عذر الجاهل، ورفع المؤاخذة عنه.

Sebagaimana juga terdapat dalam hadis tentang orang yang salah dalam salatnya (al-musi’ shalatahu), hadis Mu’awiyah bin al-Hakam saat ia berbicara di dalam salat karena tidak tahu, hadis orang Arab badui yang kencing di masjid, serta nash-nash lainnya yang menunjukkan pemberian udzur bagi orang yang tidak tahu dan pengangkatan dosa darinya.

إلا أن هذا مقيد عند أهل العلم بمن جهل أمراً خفياً لم ينتشر علمه وبيانه، أو كان جهله بسبب حداثة إسلامه، أو نشوئه في مكان لا يتوفر فيه العلم.

Akan tetapi, hal ini dibatasi oleh para ahli ilmu bagi orang yang tidak tahu mengenai perkara yang tersembunyi/samar yang belum tersebar ilmu dan penjelasannya, atau ketidaktahuannya itu disebabkan karena baru masuk Islam, atau karena ia tumbuh di tempat yang tidak tersedia akses terhadap ilmu.

أما من عاش بين المسلمين في بلد ينتشر فيه العلم، وارتكب معصية قد شاع وذاع أمر تحريمها، فهذا لا يقبل منه دعوى الجهل. بل لو قدر كونه جاهلاً، فهذا آثم لتفريطه في أمر التعلم، والقاعدة أن الإثم لا يبرر الإثم.

Adapun orang yang hidup di tengah-tengah kaum Muslimin di negeri yang ilmu tersebar luas, lalu ia melakukan kemaksiatan yang keharamannya telah masyhur dan tersiar luas, maka klaim ketidaktahuan darinya tidak dapat diterima. Bahkan, jika pun ia benar-benar tidak tahu, ia tetap berdosa karena kelalaiannya dalam hal belajar. Kaidahnya adalah: suatu dosa tidak dapat membenarkan dosa lainnya.

وينبغي التنبه إلى أن الجهل إنما يكون عذراً في أحكام التكليف، أما ما كان من باب أحكام الوضع فلا تأثير للجهل فيه، كمن أتلف مال غيره جاهلاً، فإنه يلزمه قضاؤه، وإن رُفع الإثم عنه لجهله. والله أعلم.

Perlu diperhatikan pula bahwa ketidaktahuan hanya menjadi udzur dalam hukum taklifi (beban syariat/dosa), sedangkan dalam ranah hukum wad’i (ketetapan hukum seperti ganti rugi), ketidaktahuan tidak berpengaruh. Contohnya, seseorang yang merusak harta orang lain tanpa tahu (bahwa itu milik orang atau dilarang), maka ia tetap wajib menggantinya, meskipun dosa darinya diangkat karena ketidaktahuannya. Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.