حكم من أفطر في رمضان جاهلاً بوجوب الصوم
Hukum Orang yang Tidak Berpuasa Bulan Ramadhan Karena Tidak Mengetahui Kewajiban Puasa
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tidak Berpuasa Bulan Ramadhan Karena Tidak Tahu Kewajiban Puasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
عندي صديقة لم تصم رمضان، لما كان عمرها 13 سنة (رغم أنها كانت تحيض). في الحقيقة هي لا تعرف أركان الصيام.
Saya memiliki seorang teman wanita yang tidak berpuasa Ramadhan ketika usianya 13 tahun (padahal ia sudah haid). Sebenarnya ia tidak mengetahui rukun-rukun puasa.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: فمن أفطر في نهار رمضان متعمدا فإنه يحب عليه القضاء والتوبة الى الله تعالى من انتهاك حرمة هذا الشهر المعظم وإقدامه على إفساد هذا الركن الاسلامي . والجهل بوجوب صوم رمضان ليس عذرا يسقط به وجوب القضاء , ولو كان المرء حديث عهد بالاسلام أو نشأ بعيدا عن المسلمين , فجمهور الفقهاء على وجوب القضاء في حق من كان هذا حاله , وأولى اذا نشأ بين المسلمين .
Segala puji bagi Allah, selawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du: Barangsiapa yang berbuka di siang hari Ramadhan dengan sengaja, maka ia wajib mengqadha dan bertaubat kepada Allah Ta’ala karena telah melanggar kehormatan bulan yang agung ini serta keberaniannya merusak rukun Islam ini. Ketidaktahuan akan kewajiban puasa Ramadhan bukanlah uzur yang menggugurkan kewajiban qadha, meskipun seseorang itu baru masuk Islam atau tumbuh besar jauh dari kaum Muslimin. Mayoritas fukaha berpendapat tentang wajibnya qadha bagi orang yang kondisinya demikian, dan tentu lebih utama lagi (wajibnya) jika ia tumbuh besar di tengah-tengah kaum Muslimin.
قال ابن قدامة في المغني:
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni berkata:
“ومن أسلم في دار الحرب , فترك صلوات أو صياما لا يعلم وجوبه , لزمه القضاء وبذلك قال الشافعي . وعند ابي حنيفة لايلزمه , ولنا أنها عبادة تجب مع العلم بها فلزمته مع الجهل كما لو كان في دار الاسلام” اهـ .
“Barangsiapa yang masuk Islam di Dar al-Harb, lalu ia meninggalkan salat atau puasa karena tidak mengetahui kewajibannya, maka ia wajib mengqadha. Demikian pula pendapat Asy-Syafi’i. Sedangkan menurut Abu Hanifah tidak wajib. Bagi kami (madzhab Hanbali), itu adalah ibadah yang wajib saat mengetahuinya, maka tetap wajib pula saat tidak tahu, sebagaimana jika ia berada di Dar al-Islam.” (Selesai).
وفي شرح الدردير على مختصر الخليل – وهو في الفقه المالكي – : (وقضى من أفطر في الفرض مطلقا , أي عمدا أو سهوا أو غلبة أو إكراها) اهـ .
Dan dalam Syarh ad-Dardir atas Mukhtashar al-Khalil —dalam fikh Maliki— disebutkan: “(Dan wajib qadha bagi siapa saja yang berbuka pada puasa fardu secara mutlak, baik itu secara sengaja, lupa, karena kalah oleh keadaan, maupun dipaksa).” (Selesai).
وفي الموسوعة الفقهية الكويتية : (من أسلم في دار الحرب فترك صلوات أو صياما لا يعلم وجوبه لزمه القضاء عند الحنابلة , وهو المفهوم من كلام الشافعية وإطلاق المالكية) اهـ
Dan dalam Al-Mawsu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah disebutkan: “(Barangsiapa yang masuk Islam di Dar al-Harb lalu meninggalkan salat atau puasa karena tidak mengetahui kewajibannya, maka ia wajib mengqadha menurut Hanabilah, dan itulah yang dipahami dari perkataan Syafi’iyyah serta keumuman pendapat Malikiyyah).” (Selesai).
ونهيب بالأمهات أن يحرصن على تعليم البنات عندما يحضن ما يلزمهن , فقد ذكر ابن كثير في تفسير في قول الله تعالى:
Kami menghimbau para ibu agar bersemangat dalam mengajarkan anak-anak perempuan mereka tentang apa yang diwajibkan atas mereka saat mereka mulai mengalami haid. Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsir firman Allah Ta’ala:
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً” {التحريم: ٦}
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” {At-Tahrim: 6}
أن عليا رضي الله عنه فسرها فقال : “أدبوهم وعلموهم” . وذكر عن الضحاك ومقاتل أنهما قالا : “حق المسلم أن يعلم أهله من قرابته وإمائه وعبيده ما فرض الله عليهم وما نهاهم الله عنه.”
Bahwasanya Ali radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat tersebut dengan berkata: “Didiklah mereka dan ajarkanlah mereka.” Disebutkan pula dari Ad-Dahhak dan Muqatil bahwa keduanya berkata: “Hak seorang Muslim adalah mengajarkan keluarganya dari kalangan kerabatnya serta hamba sahayanya mengenai apa yang Allah wajibkan atas mereka dan apa yang Allah larang bagi mereka.”
قال ابن كثير : “وفي معنى هذه الاية حديث أحمد وأبي داود والترمذي (مروا الصبي إذا بلغ سبع سنين , فإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها) قال الفقهاء : وهكذا في الصوم ليكون ذلك تمرينا له على العبادة لكي يبلغ وهو مستمر على العبادة والطاعة ومجانبة المعصية وترك المنكر” اهـ . والله أعلم.
Ibnu Katsir berkata: “Dan yang semakna dengan ayat ini adalah hadis riwayat Ahmad, Abu Dawood, dan At-Tirmidzi: (Perintahkanlah anak kecil untuk salat jika telah mencapai usia tujuh tahun, dan jika telah mencapai usia sepuluh tahun maka pukullah ia karenanya). Para fukaha berkata: Begitu pula dalam hal puasa, agar hal itu menjadi latihan baginya dalam beribadah sehingga ia mencapai usia baligh dalam keadaan terus-menerus melakukan ibadah, ketaatan, menjauhi kemaksiatan, serta meninggalkan kemungkaran.” (Selesai). Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply