Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (3)



ضمن جولة في صحيح مسلم: اللمعة في بيان صفات السبعة

Jaulah Shahih Muslim :

Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (Bagian Ketiga)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan ini masuk dalam Kategori Hadits

وإنظارُ المعسر والوضع عنه لم يُذكَر في الحديث السابق مع الأصناف السبعة، وهذا يدل على وجود أصناف يظلهم الله – تعالى – في ظله في غير هذا الحديث، وقد نظم السبعةَ العلامة أبو شامة عبدالرحمن بن إسماعيل، فقال:

Memberi tangguh waktu kepada orang yang kesulitan dan menggugurkan hutangnya tidak disebutkan dalam hadis sebelumnya bersama tujuh golongan lainnya. Hal ini menunjukkan adanya golongan-golongan yang dinaungi Allah Ta’ala dalam naungan-Nya di luar hadis ini. Al-Allamah Abu Syamah Abdurrahman bin Ismail telah menggubah tujuh golongan tersebut dalam bait syair:

وَقَالَ النَّبِيُّ المُصْطَفَى إِنَّ سَبْعَةً
يُظِلُّهُمُ اللُّهُ الكَرِيمُ بِظِلِّهِ
مُحِبٌّ عَفِيفٌ نَاشِئٌ مُتَصِدِّقٌ
وَبَاكٍ مُصَلٍّ وَالإِمَامُ بِعَدْلِهِ

Nabi Al-Mustafa telah bersabda sesungguhnya ada tujuh golongan
Yang dinaungi oleh Allah Yang Maha Pemurah dengan naungan-Nya
Pencinta (karena Allah), orang yang menjaga kehormatan, pemuda (yang ahli ibadah), penyedekah
Orang yang menangis (karena takut pada Allah), orang yang salat, dan pemimpin dengan keadilannya

قال ابن حجر- رحمه الله -: “ثم تتبعتُ بعد ذلك الأحاديث الواردة في مثل ذلك، فزادت على عشر خصال، وقد انتقيت منها سبعة وردت بأسانيد جياد، ونظمتها في بيتين تذييلاً على بيتي أبي شامة، وهما:

Ibnu Hajar—rahimahullah—berkata: “Kemudian setelah itu aku menelusuri hadis-hadis yang diriwayatkan mengenai hal serupa, maka jumlahnya bertambah lebih dari sepuluh perkara. Aku telah memilih tujuh di antaranya yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang baik (jayyid), dan aku menggubahnya dalam dua bait syair sebagai tambahan atas dua bait syair Abu Syamah, yaitu:

وَزِدْ سَبْعَةً: إِظْلاَلُ غَازٍ وَعَوْنُهُ
وَإِنْظَارُ ذِي عُسْرٍ وَتَخْفِيفُ حِمْلِهِ
وَإِرْفَادُ ذِي غُرْمٍ وَعَوْنُ مُكَاتِبٍ
وَتَاجِرُ صِدْقٍ فِي المَقَالِ وَفِعْلِهِ

Dan tambahkanlah tujuh lagi: memberi naungan bagi pejuang dan membantunya
Memberi tangguh bagi orang yang kesulitan dan meringankan bebannya
Membantu orang yang terlilit hutang dan membantu budak mukatib (yang menebus dirinya)
Serta pedagang yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya

فأما إظلال الغازي، فرواه ابن حبان وغيره من حديث عمر – رضي الله عنه – وأما عون المجاهد، فرواه أحمد والحاكم من حديث سهل بن حنيف – رضي الله عنه – 

Adapun memberi naungan bagi pejuang, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya dari hadis Umar—radhiyallahu ‘anhu. Adapun membantu mujahid, diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Sahl bin Hunaif—radhiyallahu ‘anhu.

وأما إنظار المعسر والوضيعة عنه، ففي صحيح مسلم كما ذكرنا، وأما إرفاد الغارم وعون المكاتب، فرواهما أحمد والحاكم من حديث سهل بن حنيف – رضي الله عنه – المذكور، 

Adapun memberi tangguh bagi orang yang kesulitan dan menggugurkan hutangnya, terdapat dalam Sahih Muslim sebagaimana yang telah kami sebutkan. Adapun memberi bantuan kepada orang yang berhutang dan membantu budak mukatib, diriwayatkan oleh Ahmad dan Al-Hakim dari hadis Sahl bin Hunaif—radhiyallahu ‘anhu—yang telah disebutkan.

وأما التاجر الصدوق، فرواه البغوي في “شرح السنة” من حديث سلمان… ثم تتبعت ذلك فجمعت سبعة أخرى، ونظمتها في بيتين آخرين، وهما:

Adapun pedagang yang jujur, diriwayatkan oleh Al-Baghawi dalam “Syarh al-Sunnah” dari hadis Salman… Kemudian aku menelusuri hal itu lagi, lalu aku mengumpulkan tujuh golongan lainnya, dan menggubahnya dalam dua bait syair lainnya, yaitu:

وَزِدْ سَبْعَةً: حُزْنٌ وَمَشْيٌ لِمَسْجِدٍ
وَكُرْهُ وُضُوءٍ ثُمَّ مُطْعِمُ فَضْلِهِ
وَآخِذُ حَقٍّ بَاذِلٌ ثُمُّ كَافِلٌ
وَتَاجِرُ صِدْقٍ فِي المَقَالِ وَفِعْلِهِ

Dan tambahkanlah tujuh lagi: rasa sedih (karena urusan akhirat), berjalan menuju masjid
Menyempurnakan wudu dalam keadaan tidak disukai, kemudian orang yang memberi makan dari kelebihannya
Orang yang mengambil hak lalu memberikannya, kemudian penanggung (anak yatim/janda)
Serta pedagang yang jujur dalam ucapan dan perbuatannya

ثم تتبعت ذلك، فجمعت سبعة أخرى؛ ولكن أحاديثها ضعيفة، وقلت في آخر بيت:

Kemudian aku menelusuri hal itu lagi, lalu aku mengumpulkan tujuh golongan lainnya; akan tetapi hadis-hadisnya lemah, dan aku berkata di bait terakhir:

ترَبَّع بِهِ السَّبْعَات مِنْ فَيْضِ فَضْلِهِ

Maka genapkanlah menjadi empat kali tujuh dari luapan karunia-Nya

وقد أوردت الجميع في “الأمالي”، وقد أفردته في جزء سميته: “معرفة الخصال الموصلة إلى الظلال”؛ (انظر: “الفتح”، حديث (660)).

Dan aku telah mencantumkan semuanya dalam kitab “Al-Amali”, serta menyusunnya secara khusus dalam sebuah risalah yang aku beri judul: “Ma’rifat al-Khisal al-Muwassilah ila al-Zhilal” (Lihat: “Al-Fath”, hadis (660)).

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

 

 

 



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.