غلبة العطش من الأعذار المبيحة للفطر
Rasa Haus yang Berlebihan Termasuk Uzur yang Membolehkan Buka Puasa
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Rasa Haus yang Berlebihan Termasuk Uzur yang Membolehkan Buka Puasa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
السلام عليكم. أنا أفطرت يوما من رمضان، و كنت حاملا في الشهر السابع، والسبب أنني أصبت بعطش شديد بعد رجوعي إلى المنزل (علما بأن هذا الشهر من رمضان جاء في فصل الصيف). و بعد أن شربت الماء أكلت على أساس أنني قد فطرت. حيث إنني بنيت إفطاري هذا على أساس الفتوى القائلة إنه يجوز للحامل الإفطار. فما هو الحكم في ذلك؟.
Assalamu’alaikum. Saya membatalkan puasa suatu hari di bulan Ramadan saat sedang hamil tujuh bulan. Alasannya adalah saya mengalami rasa haus yang sangat hebat setelah kembali ke rumah (mengingat bulan Ramadan saat itu jatuh pada musim panas). Setelah saya minum air, saya pun makan karena menganggap saya sudah berbuka. Saya menyandarkan perbuatan buka puasa saya ini pada fatwa yang menyatakan bahwa wanita hamil boleh berbuka. Lantas, bagaimana hukum mengenai hal tersebut?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فإن كان سبب الفطر ما ذكرت من شدة العطش، فلا حرج عليك إن شاء الله تعالى في ما فعلت، لأن العطش الشديد موجب للفطر كالمرض،
Jika penyebab berbuka adalah rasa haus yang sangat hebat sebagaimana yang Anda sebutkan, maka tidak ada dosa bagi Anda—insya Allah Ta’ala—atas apa yang Anda lakukan. Hal itu dikarenakan rasa haus yang sangat hebat merupakan sebab yang mengharuskan berbuka sebagaimana halnya sakit.
قال صاحب “بدائع الصنائع” وهو حنفي:
Penulis kitab “Badai’ al-Sanai'” (ulama madzhab Hanafi) berkata:
“الأعذار المسقطة للإثم هي المرض والسفر والإكراه والحبل والرضاع والجوع والعطش وكبر السن، لكن بعضها مرخص، وبعضها مبيح مطلق لا موجب.” اهـ.
“Uzur-uzur yang menggugurkan dosa adalah sakit, safar, paksaan, hamil, menyusui, lapar, haus, dan usia tua. Akan tetapi sebagian darinya merupakan rukhshah (keringanan) dan sebagian lainnya membolehkan secara mutlak tanpa keharusan.” (Selesai).
وقال صاحب “الكفاف” الشنقيطي المالكي:
Penulis kitab “Al-Kifaf”, Asy-Syanqithi (ulama madzhab Maliki), berkata:
“وجاز الإفطار بما زاد على ما اعتيد من جوع وشيطان الفلا”
“Dan diperbolehkan berbuka karena rasa lapar yang melebihi kebiasaan dan ‘Syaithan al-Fala’.”
Adapun yang dimaksud dengan “Syaithan al-Fala” adalah rasa haus.
وفي حاشيتي قليوبي وعميرة وهما من علماء الشافعية: “ومثل المرض غلبة جوع وعطش.”
Dan disebutkan dalam Hasyiyah Qalyubi wa ‘Amirah (keduanya ulama madzhab Syafi’i): “Dan yang semisal dengan sakit adalah rasa lapar dan haus yang sangat mendominasi.”
ويشهد لما قدمنا قوله تعالى:
Hal tersebut dikuatkan oleh Firman Allah Ta’ala:
“وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ” [الحج: ٧٨].
“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” [Al-Hajj: 78].
والصبر على العطش الشديد الزائد على طور المعتاد فيه حرج واضح. وراجع الجواب الأخرى هنا
Bersabar menanggung rasa haus yang sangat hebat yang melebihi batas kewajaran mengandung kesempitan (masyaqqah) yang nyata. Silakan merujuk kembali pada jawaban fatwa lain disini :
- Pendapat Para Ulama Mengenai Apa yang Wajib Bagi Wanita Hamil dan Menyusui Jika Mereka Berbuka di Bulan Ramadhan
- Boleh bagi Wanita Hamil Berbuka Jika Ia Khawatir Terhadap Dirinya atau Janinnya
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply