Yang Wajib Bagi Wanita Hamil dan Menyusui Jika Berbuka



أقوال العلماء في ما يلزم الحامل والمرضع إذا أفطرتا في رمضان

Pendapat Para Ulama Mengenai Apa yang Wajib Bagi Wanita Hamil dan Menyusui Jika Mereka Berbuka di Bulan Ramadhan

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Pendapat Para Ulama Mengenai Apa yang Wajib Bagi Wanita Hamil dan Menyusui Jika Mereka Berbuka di Bulan Ramadhan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمة الله قد أفطرت أثناء حملي الأول 15 يوما وذلك منذ عام 1995 ولم أقم بصيامها مرة أخرى حتى الآن ولكني أخرجت عنهم كفارة. وأخيرا علمت أنه لا بد من صيامها ما دمت قادرة وسؤالي هل يكفي الصيام أم يجب أن أخرج كفارة أخرى عن كل سنة تأخير؟

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya telah berbuka selama 15 hari saat kehamilan pertama saya pada tahun 1995 dan saya belum mengqadhanya sampai sekarang, namun saya telah mengeluarkan kaffarah untuk hari-hari tersebut. Akhirnya saya mengetahui bahwa saya harus mengqadhanya selama saya mampu. Pertanyaan saya: Apakah cukup dengan mengqadha puasa saja ataukah saya harus mengeluarkan kaffarah lagi untuk setiap tahun keterlambatan tersebut?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فالحامل والمرضع إذا أفطرتا في رمضان من غير أيام السفر أو الحيض أو النفاس، فلا يكون ذلك إلا لواحد من ثلاثة أسباب: إما الخوف على أنفسهما، وإما الخوف على ولديهما، وإما الخوف عليهما وعلى الولدين، وتعرفان ذلك بواحد من ثلاثة أمور: إما بالتجربة، وإما بإخبار الطبيب الثقة، وإما بغلبة الظن.

Wanita hamil dan menyusui jika mereka berbuka di bulan Ramadhan di luar hari-hari safar, haid, atau nifas, maka hal tersebut tidak terjadi melainkan karena salah satu dari tiga sebab: Baik karena khawatir terhadap diri mereka sendiri, atau khawatir terhadap anak mereka, atau khawatir terhadap diri mereka sekaligus anak mereka. Mereka mengetahui hal tersebut melalui salah satu dari tiga cara: Baik melalui pengalaman, atau melalui informasi dari dokter yang terpercaya, atau melalui dugaan yang kuat (ghalabatuz zhan).

وللعلماء فيهما مذاهب أصحها -والله أعلم- هو ما ذهب إليه أحمد والشافعي: أنهما إن خافتا على الولد فقط وأفطرتا فعليهما القضاء والفدية، وإن خافتا على أنفسهما فقط أو على أنفسهما وولديهما فعليهما القضاء فقط،

Para ulama memiliki beberapa madzhab mengenai masalah ini, dan yang paling shahih —wallahu a’lam— adalah apa yang dipegang oleh Ahmad dan Syafi’i: Bahwasanya jika keduanya khawatir terhadap anak saja lalu berbuka, maka wajib bagi keduanya mengqadha dan membayar fidyah. Namun jika keduanya khawatir terhadap diri mereka sendiri saja, atau terhadap diri mereka sekaligus anak mereka, maka kewajibannya hanyalah mengqadha saja.

ومن أخر القضاء حتى دخل عليه رمضان فلا شيء عليه، سواء كان التأخير لعذر أو لغير عذر عند الأحناف، وذهب الأئمة الثلاثة مالك والشافعي وأحمد إلى أنه إذا أخر لعذر فلا شيء عليه، وإن أخر لغير عذر فعليه فدية إطعام مسكين عن كل يوم.

Barangsiapa yang mengakhirkan qadha sampai datang Ramadhan berikutnya, maka tidak ada beban tambahan baginya menurut madzhab Hanafi, baik keterlambatan itu karena udzur maupun tanpa udzur. Namun tiga Imam (Malik, Syafi’i, dan Ahmad) berpendapat bahwa jika keterlambatan itu karena udzur maka tidak ada beban tambahan, tetapi jika mengakhirkannya tanpa udzur maka ia wajib membayar fidyah berupa memberi makan orang miskin untuk setiap harinya.

فعلى السائلة أن تقضي الأيام التي أفطرت للحمل، وعليها أيضاً فدية من أجل الإفطار في رمضان إن كان سببه الخوف على ولدها، وإن كانت أخرت القضاء إلى دخول رمضان المقبل لغير عذر فعليها إطعام مسكين عن كل يوم من الأيام التي أفطرت. والكفارة السابقة التي أخرجت لا تجزئ عن شيء من هاتين الكفارتين لأنها أخرجت بنية أخرى.

Oleh karena itu, bagi penanya wajib mengqadha hari-hari saat ia berbuka karena kehamilan tersebut. Ia juga wajib membayar fidyah karena berbuka di bulan Ramadhan jika penyebabnya adalah rasa khawatir terhadap anaknya. Jika ia mengakhirkan qadha hingga masuk Ramadhan berikutnya tanpa udzur, maka ia wajib memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari yang ia tinggalkan. Adapun kaffarah yang sebelumnya telah dikeluarkan tidaklah mencukupi (tidak menggantikan) salah satu dari kedua jenis kewajiban ini karena dikeluarkan dengan niat yang lain.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.