يجوز إفطار الحامل إذا خافت على نفسها أو جنينها
Boleh bagi Wanita Hamil Berbuka Jika Ia Khawatir Terhadap Dirinya atau Janinnya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Boleh bagi Wanita Hamil Berbuka Jika Ia Khawatir Terhadap Dirinya atau Janinnya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
امرأة حامل في رمضان وعندها اختبارات وتقول إنه يشق عليها الصوم قليلاً هل لها القضاء بعد رمضان والإفطار في رمضان علماً أنه لديها سكر؟
Seorang wanita hamil di bulan Ramadhan dan memiliki jadwal ujian, ia berkata bahwa puasa terasa agak berat baginya. Apakah ia boleh mengqadhanya setelah Ramadhan dan berbuka di bulan Ramadhan, mengingat ia juga menderita diabetes?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فالمرأة الحامل إذا خافت على نفسها أو جنينها يجوز لها الفطر في رمضان لقول النبي صلى الله عليه وسلم :
Wanita hamil, jika ia khawatir terhadap dirinya atau janinnya, diperbolehkan baginya untuk berbuka di bulan Ramadhan berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
” إن الله تعالى وضع عن المسافر الصوم وشطر الصلاة وعن الحامل والمرضع الصوم ” والحديث في المسند والسنن .
“Sesungguhnya Allah Ta’ala menggugurkan kewajiban puasa dan setengah salat bagi musafir, serta menggugurkan kewajiban puasa bagi wanita hamil dan menyusui.” (Hadis riwayat Al-Musnad dan As-Sunan).
وما دام الله وضع عنها الصوم مقرونة بالمريض والمسافر فهي مطالبة بالقضاء عند زوال العذر الذي هو الحمل، كما أن المريض والمسافر مطالبان به عند زوال عذريهما اللذين هما: السفر والمرض فهي ملحقة بهما لعدم وجود الفارق ، يضاف إلى هذا أنها في حكم المريض لأن المريض على قسمين : قسم متلبس بالمرض، وقسم يخشى حدوثه بسبب الصوم فهي في حكم الأخير .
Selama Allah menggugurkan kewajiban puasa darinya dengan menyandingkannya bersama orang sakit dan musafir, maka ia dituntut untuk mengqadha saat uzurnya (kehamilan) telah hilang. Sebagaimana orang sakit dan musafir dituntut untuk mengqadha saat uzur mereka (safar dan sakit) telah hilang. Ia disamakan dengan keduanya karena tidak adanya perbedaan. Ditambah lagi, ia berada dalam hukum orang sakit, karena orang sakit terbagi menjadi dua: kelompok yang sedang menderita sakit, dan kelompok yang dikhawatirkan jatuh sakit akibat puasa. Maka ia masuk dalam kategori yang terakhir.
وهذا كله بالنسبة لمن خافت على نفسها أو جنينها، أما من كانت تخاف من حدوث بعض المشقة التي لا ترتقي إلى أن تكون مريضة مرضاً يبيح مثله الفطر فلا يجوز لها الفطر، ومن المعلوم أن الصوم لا ينفك عادة عن قدر من المشقة فليتنبه لذلك. والله أعلم .
Semua ini berlaku bagi yang khawatir terhadap dirinya atau janinnya. Adapun jika ia hanya khawatir akan terjadinya sedikit kepayahan (masyaqqah) yang tidak sampai pada derajat sakit yang membolehkan berbuka, maka ia tidak diperbolehkan berbuka. Sebagaimana telah diketahui bahwa puasa biasanya tidak terlepas dari kadar kepayahan tertentu, maka hendaknya hal ini diperhatikan. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply