من أفطر لمشقة فادحة
Barangsiapa yang Berbuka Karena Kepayahan yang Sangat Berat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Barangsiapa yang Berbuka Karena Kepayahan yang Sangat Berat ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
في أحد أيام شهر رمضان المبارك وكان عمري في الخامسة عشرة تقريباً وكنت عائدة إلى المنزل وكانت المسافة طويلة بين المكان الذي أدرس به والمنزل ما يقارب ساعتين مشياً على الأقدام وعندما وصلت إلى المنزل كنت شديدة العطش فسألني والدي فقلت إني عطشة جداً فقال لي اذهبي واشربي ولكني بعد أن شربت أكلت أيضاً فهل أكفر عن إفطاري في هذا اليوم أم لا ؟ وشكراً.
Pada suatu hari di bulan Ramadhan yang diberkahi, saat itu usia saya sekitar lima belas tahun. Saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dan jarak antara tempat saya belajar dengan rumah cukup jauh, sekitar dua jam berjalan kaki. Ketika sampai di rumah, saya merasa sangat haus. Ayah saya bertanya, lalu saya jawab bahwa saya sangat haus. Beliau berkata kepada saya, “Pergilah dan minumlah.” Namun setelah saya minum, saya juga makan. Apakah saya harus membayar kaffarah atas buka puasa saya pada hari itu atau tidak? Terima kasih.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فإن من بلغ به العطش مبلغاً يخاف على نفسه منه الهلاك أو المشقة الفادحة ثم أفطر لا يلزمه أن يمسك عن المفطرات بقية يومه،
Sesungguhnya barangsiapa yang rasa hausnya telah mencapai tingkat di mana ia khawatir akan keselamatan dirinya dari kebinasaan atau kepayahan yang sangat berat (masyaqqah fadihah) lalu ia berbuka, maka tidak wajib baginya untuk menahan diri (imsak) dari hal-hal yang membatalkan puasa di sisa hari tersebut.
قال اللخمي: من أصبح صائماً في رمضان ثم اضطره ظمأ فشرب فالأقيس قول سحنون أن له أن يأكل ويطأ لأنه أفطر بوجه مباح….. انظر التاج والإكليل لمختصر خليل ج٣ص٣٠١، ولا إثم عليه ولا كفارة من باب أولى. والله أعلم.
Al-Lakhmi berkata: “Barangsiapa yang memulai paginya dalam keadaan berpuasa di bulan Ramadhan kemudian ia terdesak oleh rasa haus lalu ia minum, maka menurut kias yang lebih kuat adalah pendapat Sahnun bahwa diperbolehkan baginya untuk makan dan bersetubuh (jima’), karena ia telah berbuka dengan cara yang dibolehkan…” Lihat At-Taaj wa Al-Iklil li Mukhtashar Khalil Jilid 3 Hal. 301. Tidak ada dosa baginya dan tidak ada kaffarah (denda), itu lebih utama. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply