ضمن جولة في صحيح مسلم: اللمعة في بيان صفات السبعة
Jaulah Shahih Muslim :
Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan (Bagian Kedelapan)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Lum’ah (Cahaya) dalam Penjelasan Sifat Tujuh Golongan ini masuk dalam Kategori Hadits
الثالث: ((ورجلٌ قلبه معلقٌ في المساجد)):
Ketiga: Seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid-masjid:
• ((معلقٌ في المساجد))؛ أي: محب للمساجد حبًّا شديدًا، ومن شدة حبِّه تعلَّق قلبُه بها وإن كان جسده خارجًا عنها، فالمقصود طول الملازمة بالقلب حتى يعود إليها، ويتردد إلى صلاة الجماعة والقراءة والذِّكر فيها، ويشهد لذلك رواية مسلم الأخرى: ((ورجل معلق في المسجد، إذا خرج منه حتى يعود إليه)).
- “Terpaut dengan masjid-masjid”; artinya: orang yang sangat mencintai masjid, dan karena besarnya rasa cinta tersebut, hatinya senantiasa terikat dengan masjid meskipun jasadnya sedang berada di luar. Maka yang dimaksud adalah adanya keterikatan hati yang terus-menerus hingga ia kembali lagi ke sana, rutin mendatangi shalat berjamaah, membaca (Al-Qur’an), serta berzikir di dalamnya. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Muslim lainnya: ((Dan seorang laki-laki yang terpaut di masjid, jika ia keluar darinya hingga ia kembali lagi ke sana)).
قال النووي – رحمه الله -: “(معلقٌ في المساجد): وفي بعضها ((متعلق)) بالتاء، وكلاهما صحيح، ومعناها شديد الحب لها، والملازمة للجماعة فيها، وليس معناه دوام القعود في المسجد”؛ (انظر: “شرح مسلم”، حديث (1031)).
An-Nawawi—rahimahullah—berkata: “(‘Mu’allaqun fil masajid’): dalam sebagian riwayat disebutkan ‘Muta’alliqun’ dengan tambahan huruf ta, dan keduanya benar. Maknanya adalah sangat mencintai masjid dan senantiasa menjaga shalat berjamaah di dalamnya, bukan berarti harus terus-menerus duduk diam di dalam masjid.” (Lihat: “Syarh Muslim”, hadis (1031)).
• من كانت هذه صفته، فهي دليل على قوة صلته بربه – عز وجل – لأن المساجد بُنيت لتؤدَّى فيها الفريضة جماعة، والصلاة صلة بين العبد وربه، فإذا أحبَّها العبد، وتعلَّق قلبُه بها، كانت دليلاً على أنه يحب الصلة التي بينه وبين الله تعالى – نسأل الله تعالى من فضله.
Barangsiapa yang memiliki sifat ini, maka itu adalah bukti kuatnya hubungan dia dengan Tuhannya—Azza wa Jalla—karena masjid dibangun untuk mendirikan shalat fardu secara berjamaah, sedangkan shalat adalah penghubung (shilah) antara hamba dan Tuhannya. Jika seorang hamba mencintai shalat dan hatinya terpaut padanya, maka itu adalah bukti bahwa ia mencintai hubungan yang ada antara dirinya dengan Allah Ta’ala. Kita memohon karunia-Nya kepada Allah Ta’ala.
الرابع: ((ورجلان تحابَّا في الله، اجتمعا عليه، وتفرقا عليه)):
Keempat: Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah pun karena-Nya:
((اجتمعا عليه، وتفرقا عليه)): الضمير يعود إلى الحب في الله، والمقصود أنهما داما على الحب في الله ولم يقطعاه أبدًا، سواء اجتمعت أجسادهم أو لم تجتمع في الدنيا، حتى فرَّق بينهما الموت.
- “Keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah pun karena-Nya”: Kata ganti (dhomir) kembali kepada rasa cinta karena Allah. Maksudnya adalah keduanya senantiasa berada dalam rasa cinta karena Allah dan tidak pernah memutuskannya, baik jasad mereka bertemu maupun tidak bertemu di dunia, hingga kematian memisahkan keduanya.
• المقصود أن يكون الحب في الله حقيقيًّا يحرِّكه القلب، فلا يكفي أن يكون ظاهريًّا فقط، أو باللفظ فقط، وأن يكون الحب في الله، لا في مال، أو جاهٍ، أو نسب، أو قرابة، ونحو ذلك.
- Maksudnya adalah cinta karena Allah tersebut haruslah hakiki yang digerakkan oleh hati. Tidak cukup hanya secara lahiriah saja, atau hanya dengan ucapan semata. Cinta tersebut juga harus karena Allah, bukan karena harta, jabatan, nasab, kekerabatan, atau semacamnya.
• عُدَّتْ هذه خصلة واحدة مع أن متعاطيَها اثنان، والمقصود عدُّ الخصال، لا عدُّ مَن اتصف بها.
- Hal ini dihitung sebagai satu perkara saja meskipun pelakunya ada dua orang. Sebab, yang dimaksud adalah menghitung perkara/sifatnya, bukan menghitung jumlah orang yang menyandangnya.
• ليس معنى هذه الخصلة أن يرى المحب في الله حبيبَه فيه على خطأ أو تقصير فلا يصوبه؛ بل من تمام المحبة أن يأخذ على يده إلى الحق؛ لأنه إنما أحبه لله، فيرشده إلى ما يقرِّبه إلى الله – تعالى.
- Makna dari perkara ini bukanlah jika seseorang yang mencintai karena Allah melihat saudaranya berada dalam kesalahan atau kelalaian lalu ia tidak meluruskannya. Justru, termasuk kesempurnaan cinta adalah membimbing tangannya menuju kebenaran; karena ia mencintainya hanya karena Allah, maka ia akan menunjukinya kepada hal-hal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala.
• إيراد هذه الخصلة مع السبعة فيه بيان فضل الله – تعالى – على عباده، حتى عدها البعض من أيسر الخصال تحقُّقًا، وهذا – بحمد الله تعالى – مشاهَدٌ كثيرًا بين من يستشعرون هذه العبادة.
- Pencantuman perkara ini bersama tujuh golongan lainnya menunjukkan karunia Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, bahkan sebagian orang menganggapnya sebagai salah satu perkara yang paling mudah untuk diwujudkan. Dan hal ini—segala puji bagi Allah—banyak disaksikan di antara orang-orang yang merasakan (makna) ibadah ini.
• إيراد هذه الخصلة في الحديث دليلٌ على عظم منزلة المتحابين في الله – تعالى – والأحاديث في فضل ذلك كثيرة، سيأتي بيانها في موضعها – بإذن الله.
- Pencantuman perkara ini di dalam hadis merupakan dalil atas agungnya kedudukan orang-orang yang saling mencintai karena Allah Ta’ala. Hadis-hadis mengenai keutamaan hal tersebut sangat banyak dan akan datang penjelasannya pada tempatnya—insya Allah.
Leave a Reply