عـلامات بلوغ الذكر والأنثى
Tanda-tanda Baligh pada Laki-laki dan Perempuan
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tanda-tanda Baligh pada Laki-laki dan Perempuan ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
ما هي علامات البلوغ الشرعية في الإسلام؟
Apa sajakah tanda-tanda baligh yang syar’i dalam Islam?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فالبلوغ لغة: الوصول، يقال: بلغ الشيء يبلغ بلوغًا، وبلاغًا: وصل، وانتهى. وبلغ الصبي: احتلم، وأدرك وقت التكليف، وكذلك بلغت الفتاة. واصطلاحًا: انتهاء حدِّ الصغر؛ ليكون أهلًا للتكاليف الشرعية.
Baligh secara bahasa bermakna: Sampai. Dikatakan: Sesuatu itu sampai (balagha) maknanya telah tiba dan berakhir. Anak laki-laki itu baligh maknanya ia telah mengalami mimpi basah (ihtilam) dan mencapai masa taklif (beban syariat), demikian pula pada anak perempuan. Sedangkan secara istilah: Berakhirnya batasan masa kanak-kanak sehingga seseorang menjadi layak memikul beban syariat (taklif syar’iyyah).
وللبلوغ علامات طبيعية ظاهرة، منها ما هو مشترك بين الذكر والأنثى، ومنها ما يختص بالأنثى: أما ما هو مشترك، فهو:
Baligh memiliki tanda-tanda alami yang tampak, di antaranya ada yang dialami bersama oleh laki-laki dan perempuan, dan ada yang khusus bagi perempuan. Adapun tanda yang dialami bersama adalah:
أولًا: الاحتلام وهو: خروج المني من الرجل والمرأة، في يقظة، أو منام؛ لوقت إمكانه، قال تعالى:
Pertama: Al-Ihtilam (Mimpi basah), yaitu keluarnya mani dari laki-laki maupun perempuan, baik saat terjaga maupun saat tidur, pada usia yang memungkinkan hal itu terjadi. Allah Ta’ala berfirman:
“وَإِذَا بَلَغَ الْأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ…” [النور:٥٩]
“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh (al-hulum), maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin…” [An-Nur: 59]
ثانيًا: الإنبات، وهو: ظهور شعر العانة، وهو الذي يحتاج في إزالته إلى نحو الحلق، دون الزغب الصغير، الذي ينبت للصغير، دلَّ على ذلك ما ورد أن النبي صلى الله عليه وسلم لما حكم سعد بن معاذٍ في بني قريظة… أمر أن يكشف عن مؤتزرهم، فمن أنبت، فهو من المقاتلة، ومن لم ينبت، فهو من الذرية. رواه أصحاب السنن، وقال الترمذي: حسن صحيح. والقول بأن الإنبات علامة للبلوغ مطلقًا، هو مذهب الحنابلة، والمالكية.
Kedua: Al-Inbat (Tumbuhnya rambut), yaitu munculnya rambut kemaluan yang kasar, yang dalam menghilangkannya membutuhkan alat cukur, bukan bulu halus yang tumbuh pada anak kecil. Hal ini berdasarkan riwayat ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan hukum Sa’d bin Mu’adh terhadap Bani Qurayzah… beliau memerintahkan untuk memeriksa pakaian bawah mereka, barangsiapa yang telah tumbuh rambut kasar maka ia termasuk golongan pejuang, dan barangsiapa yang belum tumbuh maka ia termasuk golongan anak-anak. (Diriwayatkan oleh Ashabun Sunan, dan At-Tirmidzi berkata: Hasan Shahih). Pendapat yang menyatakan bahwa tumbuhnya rambut kemaluan adalah tanda baligh secara mutlak merupakan madzhab Hanbali dan Maliki.
ثالثًا: بلوغ سن خمس عشرة سنة قمرية؛ لخبر ابن عمر: عرضني رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم أحدٍ في القتال، وأنا ابن أربع عشرة سنة، فلم يجزني، وعرضني يوم الخندق وأنا ابن خمس عشرة سنة، فأجازني. متفق عليه.
Ketiga: Mencapai usia lima belas tahun qamariyah. Berdasarkan kabar dari Ibnu Umar: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninjauku untuk ikut berperang pada hari Uhud saat aku berusia empat belas tahun, namun beliau tidak mengizinkanku. Lalu beliau meninjauku kembali pada hari Khandaq saat aku berusia lima belas tahun, maka beliau mengizinkanku.” (Muttafaq ‘Alaih).
وأما ما يختص بالأنثى، فهو علامتان: الأولى: الحيض؛ لحديث: “لا يقبل الله صلاة حائض، إلا بخمار.” رواه أبو داود، والترمذي، وقال: حديث حسن. والمراد بالحائض: البالغ.
Adapun yang khusus bagi perempuan ada dua tanda: Pertama: Haid (menstruasi). Berdasarkan hadis: “Allah tidak menerima salat wanita yang sudah haid kecuali dengan mengenakan khimar (kerudung).” (HR. Abu Dawood dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hadis Hasan). Yang dimaksud dengan “wanita yang sudah haid” di sini adalah yang sudah baligh.
الثانية: الحمل؛ لأن الله تعالى أجرى العادة أن الولد يخلق من ماء الرجل وماء المرأة، قال تعالى:
Kedua: Hamil. Karena Allah Ta’ala telah menetapkan ketetapan bahwa anak tercipta dari air laki-laki dan air perempuan. Allah Ta’ala berfirman:
“فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ * خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ” [الطارق:٥-٦]
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang dipancarkan.” [At-Tariq: 5-6]
Tanda ini —maksudnya hamil— merujuk kembali kepada tanda ihtilam yang telah disebutkan sebelumnya. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply