حكم من كان عليه قضاء من رمضان ودخل عليه رمضان آخر
Hukum Orang yang Memiliki Hutang Qadha Ramadhan dan Masuk Ramadhan Berikutnya
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Hukum Orang yang Memiliki Hutang Qadha Ramadhan dan Masuk Ramadhan Berikutnya ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
ماذا تفعل من كانت عليها أيام قضاء للصيام و جاء رمضان الذي بعده و لم تستطع القضاء و جزاكم الله خيرا؟
Apa yang harus dilakukan oleh orang yang memiliki hari-hari qadha puasa, lalu datang Ramadhan berikutnya sementara ia belum sanggup mengqadhanya? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فالواجب على من فاته شيء من صيام رمضان ألا يؤخر قضاءه، فإن أخره من غير عذر حتى دخل رمضان آخر أثم ولزمه مع القضاء كفارة، وقدرها: مد من طعام عن كل يوم، وهو ما يعادل ٧٥٠ جراماً تقريباً،
Wajib bagi siapa saja yang terlewat sebagian puasa Ramadhannya untuk tidak menunda qadhanya. Jika ia menundanya tanpa udzur hingga masuk Ramadhan berikutnya, maka ia berdosa dan wajib baginya —di samping qadha— membayar kaffarah (fidyah). Ukurannya adalah satu mud makanan untuk setiap harinya, yaitu setara dengan sekitar 750 gram.
فإن كان التأخير لعذر كالمرض، فإن كان يرجى برؤه، فإنه يجب عليه القضاء بعد زوال المرض، لقوله تعالى:
Adapun jika penundaan tersebut dikarenakan udzur seperti sakit, maka jika penyakitnya diharapkan kesembuhannya, ia wajib mengqadha setelah penyakitnya hilang, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
( وَمَنْ كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَر ) [البقرة: ١٨٥]
“Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” [Al-Baqarah: 185]
Dalam kondisi ini, tidak ada kewajiban memberi makan (ith’am) maupun kaffarah.
وإذا كان المرض مزمناً لا يرجى برؤه، فالواجب الإطعام فقط، وكذلك من عجز عن الصوم لكبر سن، لقوله تعالى:
Jika penyakitnya bersifat kronis (tidak diharapkan kesembuhannya), maka kewajibannya hanyalah memberi makan (fidyah) saja. Demikian pula bagi orang yang tidak mampu berpuasa karena usia tua, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
( وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ) [البقرة:١٨٤]
“Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.” [Al-Baqarah: 184]
قال ابن عباس رضي الله عنهما: نزلت رخصة للشيخ الكبير، والمرأة الكبيرة لا يستطيعان الصيام، فيطعمان مكان كل يوم مسكيناً. رواه البخاري. والله أعلم.
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Ayat ini turun sebagai keringanan (rukhshah) bagi kakek dan nenek tua yang tidak sanggup berpuasa, maka keduanya memberi makan seorang miskin sebagai ganti setiap harinya.” (HR. Bukhari). Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply