Onani Membatalkan Puasa dan Mewajibkan Qadha



الاستمناء يفسد الصوم ويوجب القضاء

Onani Membatalkan Puasa dan Mewajibkan Qadha

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Onani Membatalkan Puasa dan Mewajibkan Qadha ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah

السؤال:

Pertanyaan:

ما حكم من أفطر في رمضان أياما لا يعلم عددها وذلك لأنه كان يخرج المني يوميا عمدا ولم يكن يعرف أنه مبطل ويلزم كفاره مع أنه أول رمضان يصومه هل يكفر وكم كفارة وهو لا يعرف عدد الأيام التي أفطر فيها. جزاكم الله خيرا.

Apa hukum bagi orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan selama beberapa hari yang ia tidak ketahui jumlahnya, dikarenakan ia mengeluarkan mani setiap hari secara sengaja? Ia tidak mengetahui bahwa hal tersebut membatalkan puasa dan mewajibkan kaffarah, padahal itu adalah Ramadhan pertama yang ia lalui dengan berpuasa. Apakah ia harus membayar kaffarah? Berapa jumlah kaffarahnya sementara ia tidak tahu jumlah hari di mana ia berbuka? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:

فإخراج المني في نهار رمضان مبطل للصوم، لما في الصحيحين عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Mengeluarkan mani di siang hari Ramadhan adalah hal yang membatalkan puasa. Berdasarkan hadis dalam Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“كل عمل ابن آدم يضاعف الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف، قال الله تعالى: (إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به، يدع شهوته وطعامه من أجلي…”

“Setiap amal anak Adam akan dilipatgandakan pahala kebaikannya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: ‘Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya. Ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku…'”

والمستمني لم يدع شهوته، وهذا رأي جمهور أهل العلم. وعلى هذا، فيجب عليك أن تقضي الأيام التي مارست فيها تلك العادة، فإن كنت لا تعلم عدد تلك الأيام بالتحديد، فصم العدد الذي يغلب على ظنك أن ذمتك تبرأ به.

Orang yang melakukan onani (mustamni) tidaklah meninggalkan syahwatnya, dan ini adalah pendapat mayoritas ahli ilmu (Jumhur). Berdasarkan hal ini, wajib bagi Anda untuk mengqadha hari-hari di mana Anda melakukan kebiasaan tersebut. Jika Anda tidak mengetahui jumlah hari tersebut secara pasti, maka berpuasalah sebanyak jumlah yang menurut dugaan kuat Anda (ghalabatuz zhan) dapat membebaskan tanggungan Anda.

وأما بالنسبة للكفارة، فليس عليك كفارة في الراجح، لعدم ورود الدليل الموجب لها، والأصل براءة الذمة، وقياسه على الجماع قياس مع الفارق، فإن الجماع أغلظ وأعظم من الاستمناء باليد ونحوها.

Adapun mengenai kaffarah, maka menurut pendapat yang kuat (rajih) Anda tidak dikenakan kaffarah, karena tidak adanya dalil yang mewajibkannya. Hukum asalnya adalah bebasnya tanggungan (bara’atuz dzimmah). Menyamakannya (qiyas) dengan jima’ (hubungan intim) adalah qiyas yang tidak tepat (qiyas ma’al fariq), karena jima’ jauh lebih berat dan lebih besar (dosanya) daripada onani dengan tangan atau semisalnya.

وينبغي لك الإكثار من الاستغفار، والأعمال الصالحة، والبعد عن المثيرات من مسلسلات وأفلام وغيرها، وعليك بالمبادرة بالزواج إن استطعت إليه سبيلاً، وإلا فأكثر من الصيام والزم رفقة صالحة، واحذر قرناء السوء. والله أعلم.

Hendaknya Anda memperbanyak istighfar, amal saleh, serta menjauhi hal-hal yang membangkitkan syahwat seperti sinetron, film, dan lainnya. Bersegeralah untuk menikah jika Anda memiliki kemampuan untuk itu. Jika tidak, maka perbanyaklah puasa, carilah lingkungan teman yang saleh, dan berhati-hatilah terhadap teman-teman yang buruk. Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.