Saudara-saudara kita yang diculik dan disandera oleh pasukan pendudukan Israel akhirnya telah tiba di Turki.
Para aktivis armada (flotilla) tersebut akan tinggal di negara ini selama dua hari lagi untuk menjalani pemeriksaan medis dan memberikan kesaksian mereka kepada tim hukum sebelum kembali ke negara asal masing-masing.
Rekaman pengawasan menunjukkan pemukim Israel mencuri sekawanan domba milik warga Palestina di Masafer Yatta, sebelah selatan Hebron, di Tepi Barat yang dijajah
Menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben Gvir, tetap bersikukuh setelah memicu kemarahan akibat video yang mengejek para aktivis armada Gaza yang diculik. Ia menepis kritik yang ada, meskipun telah mendapat kecaman dan pemanggilan duta besar Israel oleh sejumlah negara.
19 Mei 2026 : Polisi Belanda menyerang para mahasiswa pendukung Palestina di dalam Universitas Vrije Amsterdam dan menahan sejumlah orang di antara mereka, menyusul tuntutan mereka agar pihak manajemen universitas menangguhkan hubungannya dengan lembaga-lembaga Israel karena pelanggaran yang dilakukan oleh penjajah di Gaza dan Tepi Barat.
Pada awal tahun 1948, warga Palestina memiliki tanah hampir sembilan kali lebih banyak daripada umat Yahudi di Palestina. Dalam waktu dua tahun, minoritas Yahudi tersebut, yang merupakan 6 persen dari populasi, telah mengambil alih 78 persen dari wilayah negara tersebut. Ini adalah Nakba Palestina, yang diukur dari tanah yang dirampas.
Sebelum Nakba, warga Palestina memiliki sekitar 13.000 km persegi dan umat Yahudi memiliki 1.500 km persegi. Pada bulan November 1947, rencana pembagian wilayah oleh PBB menyerahkan 55 persen wilayah Palestina kepada calon negara Yahudi, meskipun umat Yahudi hanya mencakup sepertiga dari populasi dan sebagian besar adalah imigran Eropa yang baru datang.
Kemudian perang pun pecah. Pasukan Zionis melakukan 31 operasi militer dan setidaknya 70 pembantaian. Melalui gencatan senjata tahun 1949, Israel telah mengambil alih 78 persen dari wilayah historis Palestina. Lebih dari 750.000 warga Palestina telah diusir dan 530 desa serta kota dibiarkan kosong. Properti ini, yang dimiliki oleh warga Palestina yang masih hidup, menjadi properti dari negara baru.
Pada tahun 1950, Israel mengesahkan Undang-Undang Properti Orang yang Absen (Absentees' Property Law). Undang-undang ini mendefinisikan setiap warga Palestina yang meninggalkan rumah mereka setelah November 1947 sebagai "orang yang absen". Bahkan warga Palestina yang tidak pernah meninggalkan negara tersebut disebut sebagai "orang absen yang hadir" (present absentees). Properti mereka dialihkan ke Dana Nasional Yahudi (Jewish National Fund).
Pada tahun 1954, lebih dari 10.000 toko Palestina, 5.000 bangunan, dan hampir 60 persen tanah subur di negara tersebut telah dialokasikan kembali dengan cara ini. Sekitar 70 persen dari wilayah negara tersebut kemungkinan memiliki klaim dari warga Palestina.
Dan itu bukan hanya tanah. Pada tanggal 20 Juni 1948, Israel memerintahkan setiap bank di negara tersebut untuk membekukan rekening nasabah Palestina. Lebih dari 24 juta dolar dikunci dalam semalam, yang nilainya setara dengan lebih dari 300 juta dolar saat ini.
Peneliti Palestina, Salman Abu Sitta menemukan bahwa sekitar 80 persen tanah dari desa-desa yang hancur tersebut masih belum berpenghuni hingga hari ini. Lahan tersebut berupa tanah terbuka, hutan, atau lahan pertanian. Para sejarawan Palestina menarik kesimpulan yang sama. Nakba bukanlah perang untuk ruang hidup. Itu adalah perang untuk merekayasa sebuah negara dengan mayoritas penduduk Yahudi.
Dan pada tahun 2026, rencana taktik (playbook) yang sama sedang digunakan. Pada bulan Februari 2026, kabinet Israel menyetujui mekanisme registrasi tanah untuk Tepi Barat yang diduduki. Sebidang tanah apa pun yang tidak dapat didokumentasikan di atas kertas oleh warga Palestina kini dapat diklaim oleh negara. Ini adalah metode yang sama yang menelan properti Palestina pada tahun 1948. Rekor 54 permukiman ilegal Israel disetujui pada tahun 2025.
Di Gaza, tempat sebagian besar pengungsi tahun 1948 menetap, 86 persen lahan pertanian dan 81 persen bangunan telah rusak atau hancur. Israel menyebut semua ini sebagai "tanah negara". Bagi warga Palestina, hampir delapan dekade setelah Nakba, angka-angka tersebut tidak masuk akal.
Teks Asli :
In early 1948, Palestinians owned almost nine times more land than Jews in Palestine. Within two years, that Jewish minority, 6 percent of the population, had taken 78 percent of the country. This is the Palestinian Nakba, measured in land taken.
Before the Nakba, Palestinians owned about 13,000 sq km and Jews owned 1,500 sq km. In November 1947, the UN partition plan handed the future Jewish state 55 percent of Palestine, even though Jews were only one-third of the population and most were recent European immigrants.
Then came the war. Zionist forces carried out 31 military operations and at least 70 massacres. By the 1949 armistice, Israel had taken 78 percent of historic Palestine. More than 750,000 Palestinians had been pushed out and 530 villages and towns lay empty. This property owned by Palestinians who were still alive became property of a new state.
In 1950, Israel passed the Absentees' Property Law. It defined any Palestinian who left their home after November 1947 as an "absentee". Even Palestinians who never left the country were called "present absentees". Their property was transferred to the Jewish National Fund. By 1954, more than 10,000 Palestinian shops, 5,000 buildings, and nearly 60 percent of the country's fertile land had been reallocated this way. Around 70 percent of the state's territory may have a Palestinian claimant.
And it wasn't just land. On June 20, 1948, Israel ordered every bank in the country to freeze the accounts of Palestinian customers. More than 24 million was locked up overnight, worth more than 300 million today.
Palestinian researcher, Salman Abu Sitta found that about 80 percent of the land of those destroyed villages is still uninhabited today. It's open ground, forest or farmland. Palestinian historians draw the same conclusion. The Nakba wasn't a war for living space. It was a war to engineer a state with a Jewish majority.
And in 2026, the same playbook is being used. In February 2026, Israel's cabinet approved a land registration mechanism for the occupied West Bank. Any plot a Palestinian can't document on paper can now be claimed by the state. It is the same method that swallowed Palestinian property in 1948. A record 54 illegal Israeli settlements were approved in 2025.
In Gaza, where most refugees from 1948 ended up, 86 percent of the farmland and 81 percent of buildings have been damaged or destroyed. Israel calls all of this "state land". For Palestinians, almost eight decades after the Nakba, the numbers don't add up.
"Daur Ulang Puing" Menjadi Nadi Kehidupan Darurat untuk Memperbaiki Jalan-jalan di Gaza
Meskipun terjadi segala kehancuran dan kerusakan akibat perang yang berlangsung selama hampir dua setengah tahun di Jalur Gaza, warga Gaza tampak bertekad untuk melanjutkan hidup dan merintis jalan mereka menuju masa depan dengan segala kekuatan yang mereka miliki, meskipun di tengah kelangkaan sarana dan sumber daya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, warga Gaza beralih mengubah puing-puing serta reruntuhan rumah mereka menjadi bahan baku konstruksi. Dengan demikian, jalan-jalan di Jalur Gaza kini dipenuhi dengan pemandangan penghancuran beton serta upaya mendaur ulang logam untuk digunakan dalam perbaikan jalan. Hal ini merupakan bagian dari proyek yang dipimpin oleh Program Pembangunan PBB (UNDP); sebuah langkah yang tampak kecil namun membawa dimensi ekonomi penting di tengah kelangkaan sumber daya dan terhambatnya rencana pemulihan kehidupan di Gaza.
Pelanggaran Israel Terus Berlanjut. 5 Syuhada dan 6 Luka-luka dalam Serangan di Jalur Gaza
Lima warga Palestina, termasuk seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun, gugur (syahid) dan enam lainnya terluka dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza pada hari Selasa ini.
Petugas medis melaporkan bahwa sebuah pesawat nirawak (drone) Israel membunuh anak bernama Adel al-Najjar di timur Khan Yunis, bagian selatan Jalur Gaza, sementara seorang pemuda berusia 30 tahun terluka akibat pemboman Israel di pusat kota Khan Yunis.
Kelompok Perlawanan Islam di Irak Menargetkan Target Vital di Eilat
Kelompok Perlawanan Islam di Irak mengumumkan bahwa mereka telah mensasar sebuah target vital di Eilat, Selatan Israel - dengan drone (pesawat tanpa awak)
Kelompok tersebut menyatakan bahwa serangan itu sebagai respons terhadap apa yang mereka gambarkan sebagai "pelanggaran kedaulatan Irak oleh Zionis dan balasan terhadap serangan ke markas Hashd".
Update dari Direktur MSF Gaza terkait Kondisi di Rumah Sakit Al-Shifa
Aurélie Godard, direktur kegiatan medis Dokter Tanpa Batas (Médecins Sans Frontières atau MSF) di Gaza, mengunjungi wilayah tersebut dalam perjalanan yang diselenggarakan oleh PBB minggu lalu.
Berikut beberapa poin penting dari laporannya:
Mobil kami dan truk bahan bakar dikelilingi oleh kerumunan orang yang cukup muda. Mereka meminta air dan makanan. Mereka sangat kecewa karena kami hanya mengangkut bahan bakar. Kami mengalami kesulitan besar melewati kerumunan orang yang lapar ini.
Rumah Sakit Al-Shifa masih berdiri tetapi rusak parah dan hampir tidak berfungsi.
Tim medis di lokasi berhasil membuat ruang gawat darurat beroperasi, tetapi sebagian besar diisi oleh pasien yang telah masuk. Bagian lain dari rumah sakit diisi oleh orang-orang yang mengungsi mencari perlindungan.
Tim memberi tahu kami bahwa mereka baru-baru ini kehilangan seorang pasien karena tidak dapat memberikan transfusi darah padanya. Bank darah mereka kosong. Mereka bekerja dalam kondisi yang mengerikan.
Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza menjadi subjek pengepungan intens selama beberapa hari dan akhirnya diduduki oleh pasukan Zionis Israel pada bulan November.
Organisasi HAM Palestina : Pembunuhan di Dalam RS Jenin adalah Tindakan Kriminal Zionis
Ammar Dweik, direktur jenderal Komisi Independen Hak Asasi Manusia di Palestina, mengatakan bahwa serangan oleh pasukan Israel yang menyamar sebagai dokter dan perawat, yang membunuh tiga pria Palestina, adalah "serangan terhadap sebuah lembaga yang dilindungi oleh hukum internasional".
Dweik memberitahu Al Jazeera bahwa pria-pria tersebut tidak membawa ancaman terhadap pasukan yang melakukan serangan pada saat kejadian, dan bahwa mereka bisa ditangkap jika mereka dicari karena dugaan kejahatan.
"Ini bukan kali pertama tentara penjajah melakukan pembunuhan di dalam rumah sakit. Pada tahun 2015, pasukan Israel membunuh Azzam al-Shalaldeh di Rumah Sakit Al-Ahli di kota Hebron dengan cara serupa," katanya.
"Ini adalah eskalasi besar dalam penargetan warga sipil di Tepi Barat. Oleh karena itu, kami mendesak organisasi internasional terkait seperti Organisasi Kesehatan Dunia dan Komite Internasional Palang Merah untuk mengutuk kejahatan ini dan membantu melindungi lembaga kesehatan."
Pasukan Zionis Israel menyerbu Rumah Sakit Al-Amal di Khan Younis
Komunitas Bulan Sabit Palestina (PRCS) menyatakan bahwa pasukan Zionis Israel telah menyerbu Rumah Sakit Al-Amal dan mendesak agar pengungsi yang berlindung di sana keluar di bawah ancaman senjata.
Rumah Sakit di Khan Younis, bersama dengan Kompleks Medis Nasser, telah dikepung dan ditembaki oleh tank Zionis Israel selama lebih dari seminggu.
"Tim PRCS dan individu yang terlantar saat ini berada dalam bahaya serius," demikian diungkapkan organisasi tersebut dalam sebuah posting di X.
Pemerintah Gaza : Jumlah korban jiwa jurnalis meningkat menjadi 99 orang
Kantor Media Pemerintah di Gaza mengumumkan melalui saluran Telegram mereka bahwa jumlah jurnalis yang tewas oleh pasukan Israel telah mencapai 99 orang sejak dimulainya perang.
Muhammad Khalifa adalah jurnalis terbaru yang tewas di Gaza setelah pasukan Israel membom rumah keluarganya di kamp pengungsi Nuseirat di pusat Gaza.
Banyak Tentara Zionis yang Terbunuh Karena Bom Teman Sendiri
Israel mengakui bahwa 50 persen dari bom yang digunakan adalah bom "bodoh" (dumb). Bom ini hanya dapat ditargetkan dengan cara mengarahkan pesawat sebelum pelepasan bom. Ini menyebabkan target dapat menyimpang 50 hingga 100 meter dari titik sasaran.
Bagi penjajah israel, mungkin dapat diterima jika yang terbunuh adalah warga sipil Palestina dengan bom yang tidak akurat tersebut, tetapi tidak demikian halnya jika yang terjadi adalah pembunuhan terhadap tentara mereka sendiri
Namun apa hendak dikata, Israel telah membunuh satu tentara mereka sendiri dari setiap delapan serangan karena pengeboman yang tidak akurat itu.
Pada tanggal 12 Desember, komando militer mengakui bahwa dari 105 prajurit yang tewas saat itu, 20 di antaranya tewas akibat "tembakan teman sendiri" dan insiden lain yang melibatkan tentara Israel saling membunuh.
Dari 20 tentara tersebut, 13 meninggal akibat bom angkatan udara Israel, baik melalui kesalahan identifikasi dan lokasi pasukan atau karena bom jatuh jauh dari titik sasaran.
Ini adalah angka yang mereka rilis, jumlah sebenarnya bisa jadi lebih dari itu.
Perdana Menteri Qatar Berharap Gencatan Senjata Akan Mengakhiri Perang
Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menyatakan harapannya bahwa kesepakatan untuk menjalin gencatan senjata selama empat hari di Gaza akan membawa kepada pembicaraan perdamaian komprehensif.
"Ia berterima kasih kepada mitra-mitra yang berkontribusi pada kesepakatan gencatan senjata di Gaza, yang dipimpin oleh Mesir dan Washington," tambahnya.
Sebelumnya hari ini, Israel dan Hamas menyetujui kesepakatan gencatan senjata sementara yang dimediasi oleh Qatar dan kemungkinan akan dilaksanakan dalam beberapa hari mendatang.
Israel dan Hamas Setuju Gencatan Senjata Sementara, Membuka Jalan Pembebasan Sejumlah Tawanan
Kesepakatan gencatan senjata sementara antara Israel dan Hamas di Gaza telah disepakati setelah upaya mediasi yang panjang melibatkan Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat.
Kesepakatan ini akan membebaskan 50 perempuan dan anak yang ditahan di Gaza, sementara "sejumlah perempuan dan anak Palestina yang ditahan di penjara Israel" juga akan dibebaskan.
Waktu mulai untuk jeda pertempuran akan diumumkan dalam 24 jam ke depan dan akan berlangsung selama empat hari, dengan kemungkinan perpanjangan, menurut Qatar. Sejumlah besar konvoi bantuan kemanusiaan juga akan memasuki enklaf Palestina yang dilanda perang dalam kesepakatan ini.
Rumah Sakit Indonesia Dilaporkan Diperintahkan untuk Evakuasi oleh Pasukan Israel
Pihak administrasi di Rumah Sakit Indonesia di Gaza melaporkan telah menerima pesan WhatsApp dari pasukan Israel yang memerintahkan evakuasi fasilitas medis tersebut, demikian dilaporkan oleh agensi berita Palestina, Wafa.
Pihak administrasi rumah sakit memberitahu Wafa bahwa ancaman tersebut telah menimbulkan "keadaan panik" di antara mereka yang masih berada di dalam rumah sakit, karena takut akan terulangnya peristiwa di Rumah Sakit al-Shifa.
Setidaknya 12 orang tewas ketika Rumah Sakit Indonesia diserang oleh pasukan Israel dalam beberapa hari terakhir. Pada Senin malam, setidaknya 100 orang terluka dan sakit dievakuasi dari fasilitas kesehatan tersebut – yang kini dikelilingi oleh tank-tank Israel – ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis.
Sudah 9 Hari 3 Orang Relawan MER-C Indonesia di Palestina Tidak Dapat Dihubungi
MER-C Mendesak Israel untuk Menarik Pasukan dari Sekitar Rumah Sakit Indonesia
Aisyah Llewellyn - Melaporkan dari Medan, Indonesia
Dr. Sarbini Abdul Murad, kepala badan amal Indonesia, Komite Penyelamatan Darurat Medis (MER-C), yang membantu pembiayaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, telah menyerukan kepada Israel untuk menarik pasukannya dari sekitar rumah sakit.
Berbicara kepada Al Jazeera dari Jakarta, Dr. Sarbini mengatakan bahwa ia mengetahui laporan bahwa pasukan Israel mengelilingi rumah sakit dan mengebom daerah sekitarnya.
"Ini adalah serangan yang tidak manusiawi yang harus dikutuk karena ini adalah tempat yang harus dilindungi," katanya dari Jakarta. "Kami meminta Israel untuk tidak mengubah rumah sakit menjadi zona perang."
"Kami meminta Israel untuk menarik pasukannya dari sekitar Rumah Sakit Indonesia sehingga dapat menjadi tempat yang aman bagi warga yang mencari bantuan medis."
Dr. Sarbini mengatakan bahwa saat ini MER-C memiliki tiga relawan medis Indonesia, yaitu Fikri Rofiul Haq, Reza Aldilla Kurniawan, dan Farid Zanjabil Al Ayubi, yang berbasis di rumah sakit.
MER-C tidak dapat menghubungi mereka selama sembilan hari terakhir karena komunikasi terputus di seluruh Jalur Gaza, kata Dr. Sarbini.
Pada hari Jumat, MER-C mengadakan doa bersama dengan pekerja medis di seluruh Indonesia untuk rumah sakit dan tenaga medis di lapangan serta untuk menyerukan gencatan senjata dan akhir dari "genosida" di Gaza.
Perdana Menteri Qatar menyatakan bahwa Israel tidak menghormati hukum internasional
Berbicara dalam konferensi pers bersama Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borell, di Doha, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani mengatakan bahwa tindakan Israel dan pengepungan Rumah Sakit al-Shifa di Gaza adalah "kejahatan".
"Israel tidak menghormati hukum atau konvensi internasional," tambahnya.
Dokter Sukarelawan RS Al Aqsha : Menyerah bukanlah pilihan
Setelah rumah keluarganya hancur dalam serangan Israel di lingkungan al-Zahra di selatan Kota Gaza, Mohammad Abu Salem mulai menjadi relawan di Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs pada 19 Oktober dan baru melihat keluarganya dua kali sejak itu.
Berusia 25 tahun, Abu Salem, yang mengkhususkan diri dalam fisioterapi di Universitas Islam di Kota Gaza, mengatakan bahwa pembantaian Israel terhadap warga Palestina telah menjadi kenyataan sehari-hari di Jalur Gaza.
"Saya tahu bekerja di rumah sakit pada umumnya akan sibuk, tetapi bekerja di rumah sakit selama perang berada pada level yang sepenuhnya berbeda," katanya.
"Anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok, apakah Anda akan hidup atau mati. Tetapi menyerah bukanlah pilihan."
Biro Informasi Pemerintah Gaza : Sedang Terjadi Tembakan Intensif di Sekitar Rumah Sakit Al-Ma'madani
Biro Informasi Pemerintah di Gaza melaporkan adanya tembakan intensif di sekitar Rumah Sakit Rumah Sakit Al-Ma'madani, menunjukkan bahwa pasukan pendudukan Israel dengan sengaja menyerang daerah-daerah padat penduduk untuk mengusir warga.
Serangan Israel terhadap Gaza telah menyebabkan lebih dari satu juta enam ratus lima puluh ribu orang mengungsi di dalam wilayah tersebut dari total penduduk yang berjumlah 2,2 juta jiwa.
Angkatan Bersenjata Israel menyatakan bahwa baru saja dua tentaranya tewas dalam pertempuran di utara Gaza.
Militer mengidentifikasi mereka sebagai Binyamin Meir Airly, 21 tahun, dan Roy Bieber, 28 tahun.
Sejak dimulainya perang, 380 tentara Israel telah tewas, termasuk 66 yang tewas setelah pasukan memasuki Gaza, menurut informasi dari militer Zionis Israel
Tidak hanya Gaza, Tentara Penjajah Juga Melakukan Invasi ke Beberapa Wilayah di Tepi Barat
Palang Merah Palestina melaporkan seorang warga Palestina terluka oleh tembakan pasukan pendudukan selama bentrokan di kamp Balata di timur Nablus di Tepi Barat.
Selain itu, pasukan pendudukan melakukan invasi ke Bethlehem, Beit Sahour, dan Hebron di selatan Tepi Barat, serta Qalqilya, Tubas, dan Jenin di utara.
Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa warga Palestina terluka oleh tembakan pasukan pendudukan selama invasi ke lingkungan Al-Matar dan pinggiran kamp Qalandia di utara Yerusalem.
Puluhan Syuhada Akibat Serangan Udara Israel yang Mengincar Pusat Gaza
Sumber medis melaporkan jatuhnya 31 syuhada dalam serangan udara Israel yang menargetkan rumah-rumah di pusat wilayah Gaza semalam.
Pembantaian oleh penjajah terus berlanjut di wilayah Gaza sejak dimulainya agresi pada tanggal 7 Oktober lalu.
Sekolah, rumah sakit, lembaga pendidikan, masjid, serta properti publik dan pribadi menjadi sasaran utama pesawat, artileri, dan kapal perang penjajah, meninggalkan ribuan syuhada dan orang-orang yang terluka. Kebanyakan mereka adalah perempuan, anak-anak, dan lansia, ditambah ratusan yang masih hilang.
[VIDEO 20.000 Warga Israel Berdemonstrasi di Depan Kantor Perdana Menteri
Dilaporkan 20.000 lebih Warga Israel melakukan demonstrasi di depan Kantor Perdana Menteri Israel, menuntut agar pemerintah dan militer memberikan perhatian utama pada pembebasan tawanan dan mengenyampingkan terlebih dahulu tujuan-tujuan lain mereka.
Mereka juga memprotes ketidakterbukaan informasi dari Parlemen dan Pemerintah Israel terkait proses negosiasi pembebasan keluarga mereka yang ditawan.
Media telah memastikan laporan adanya pengeboman besar-besaran oleh tentara Israel di sekitar rumah sakit Indonesia di utara Jalur Gaza pada sekitar pukul 04.20 GMT (11.20 WIB) yang lalu.
Laporan Penyelidikan Kepolisan Israel Menyebutkan Hamas tidak Merencanakan Serangan Terhadap Festival Supernova
Penyelidikan polisi terkait serangan Hamas di festival musik di padang pasir, di mana 260 orang tewas pada 7 Oktober, telah mengungkapkan rincian baru seperti yang dilaporkan oleh media Israel.
Beberapa point utama dalam laporan polisi tersebut menyebutkan :
Hamas tidak merencanakan serangan tersebut, tetapi melihat tanpa sengaja festival musik tersebut dengan menggunakan drone dan dari udara saat mereka mendarat dengan parasut di Israel.
Sebuah helikopter angkatan darat Israel yang menembak HAMAS justru mengenai beberapa orang yang hadir di festival tersebut.
Sebanyak 4.400 orang dilaporkan hadir pada acara tersebut ketika Hamas berhasil menembus pagar keamanan tinggi Israel pada hari Sabtu. Acara tersebut seharusnya berakhir pada hari Jumat.
FORBES : Ribuan Postingan Perang Gaza Dihapus dari Media Sosial Atas Permintaan Israel
Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram bersama dengan TikTok, menerima lebih dari 8.000 permintaan untuk menghapus postingan terkait perang di Gaza dari Israel.
Menurut kantor jaksa negara Israel, 94 persen dari konten yang ditandai telah dihapus.
Hampir 60 persen dari total 9.500 permintaan penghapusan konten dari kantor jaksa ke situs-situs media sosial utama ditujukan kepada Meta.
Kantor jaksa negara Israel memberi tahu Forbes bahwa permintaan penghapusan mereka kepada semua perusahaan media sosial utama meningkat 10 kali lipat sejak 7 Oktober.
Pesawat Pertama yang Membawa Warga Palestina yang Terluka tiba di Uni Emirat Arab
Sebuah kelompok terdiri dari 15 warga Palestina, termasuk anak-anak dan keluarga mereka, berhasil meninggalkan Gaza melalui perlintasan Rafah pada hari Jumat dan kemudian terbang ke Abu Dhabi, demikian dilaporkan oleh Reuters.
Beberapa dari mereka dalam keadaan lengan dan kaki yang terbalut perban. Sebagian duduk dengan tenang di samping orang tua atau kerabat mereka, sementara yang lain datang sendirian.
Salah satu yang berhasil keluar dari Gaza adalah Mohammed Abu Tabikh, 14 tahun, salah satu anak yang terluka parah di pesawat. Dia mengalami luka pada lehernya dan tulang belakangnya ketika mobil yang ditumpanginya diserang.
"Ketika saya terluka, saya merasa syok. Dan kemudian saya berhenti bergerak," katanya kepada Media.
Kemenlu Palestina : Serangan Terhadap Sekolah Membuktikan Bahwa Tujuan Israel adalah Mengosongkan Bagian Utara Gaza
Kementerian Luar Negeri Palestina menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa serangan terhadap Sekolah al-Fakhoora membuktikan bahwa perang yang dinyatakan oleh Zionis Israel terhadap warga sipil bertujuan untuk mengosongkan seluruh wilayah bagian utara Jalur Gaza dari keberadaan warga Palestina.
Bantuan Amerika Serikat untuk Israel Menurut Dokumen Congressial Research Service (Artikel Bagian 2)
Dalam Dokumen yang dipublikasikan oleh Congressial Research Service per Tanggal 1 Maret 2023 dicantumkan tabel Total Obligasi Amerika Serikat untuk Israel dalam rentang 1946 - 2023 sebagai berikut
Berapa bantuan militer yang diterima Israel dari AS ? (Artikel Bagian 1)
Israel adalah penerima bantuan luar negeri AS yang paling signifikan, dengan total sekitar $263 miliar antara tahun 1946 dan 2023.
Jumlah ini hampir dua kali lipat (1,7 kali lebih banyak) dari penerima bantuan luar negeri AS yang terbanyak kedua, Mesir, yang menerima $151,9 miliar dalam 77 tahun terakhir.
Grafik berikut ini menunjukkan 10 negara yang paling banyak menerima bantuan luar negeri Amerika Serikat semenjak Perang Dunia II
Antara 1946 s.d. 2023, Israel menerima sekitar 264 Miliar Dollar Amerika Serikat
Pasien RS Al Shifa yang Mengungsi Dihina oleh Tentara Zionis Israel Sepanjang Jalan
Munir al-Barsh, seorang dokter di Rumah Sakit al-Shifa, memberikan kesaksiannya tentang evakuasi paksa oleh pasukan Israel dari fasilitas medis tersebut, memberikan mereka di dalam waktu satu jam untuk pergi.
Pasukan Zionis Israel menelepon sekitar pukul 9 pagi [7:00 GMT], memberi peringatan bahwa semua orang yang pergi harus melambai dengan saputangan putih dan berjalan berbaris.
"Mereka dihina oleh para tentara sepanjang jalan," kata al-Barsh.
Sekitar 450 pasien dievakuasi, sementara sekitar 120 pasien ditinggalkan karena tidak bisa bergerak. Untuk membantu mereka, direktur rumah sakit, empat dokter lain, dan sekelompok kecil perawat tetap tinggal. Mereka dijanjikan bahwa sebuah delegasi PBB akan dikirim sekitar pukul 11 pagi [9:00 GMT] untuk merawat mereka yang ditinggalkan, jelas al-Barsh.
"Banyak pasien ditempatkan di kursi roda atau tempat tidur beroda. Anggota keluarga dipaksa untuk membawa anak-anak atau orang tua mereka yang terluka sendiri.
"Ini adalah adegan yang mengerikan dan belum pernah terjadi sebelumnya," kata dokter tersebut.
Omar Zaqout mengatakan bahwa ia dan yang lainnya telah dipaksa meninggalkan rumah sakit oleh pasukan Zionis Israel
Dia menggambarkan pemandangan di luar fasilitas kesehatan itu tampak mengerikan.
"Kami diperintahkan untuk pergi melalui jalan al-Wehda. Puluhan mayat tergeletak di jalan," katanya kepada media. "Banyak tunawisma yang tidak bisa berjalan dibiarkan di luar."
Zaquot mengatakan pasokan air di al-Shifa telah mati selama lebih dari seminggu, menyebabkan apa yang disebutnya sebagai tidak adanya kebersihan.
"Listrik telah mati lebih dari tiga minggu. Bayi dan bayi yang baru lahir dibiarkan tanpa oksigen. Ini tidak lebih dari sebuah gua abad pertengahan," katanya.
Sebelumnya dilaporkan bahwa pasukan Zionis Israel memberi waktu untuk semua orang di Rumah Sakit al-Shifa - termasuk dokter, pasien, dan pengungsi, satu jam untuk meninggalkan kompleks medis.
Dokter di RS Al Shifa Mengatakan : Mustahil untuk Mengungsikan Semua Orang di al-Shifa dalam Satu Jam
Youmna ElSayed -Melaporkan dari Khan Younis, selatan Gaza
Kami berbicara dengan seorang dokter di dalam Rumah Sakit al-Shifa, yang memberi tahu kami bahwa tentara Israel telah memberikan waktu satu jam kepada semua orang di Rumah Sakit al-Shifa untuk dievakuasi melalui jalan al-Rashid, yang biasa kami sebut "jalan laut".
Ini bukanlah jalan atau rute biasa yang biasanya ditempuh oleh orang yang dievakuasi ke selatan, karena mereka biasanya mengambil jalan Salahuddin. Akan tetapi mereka tetap diminta untuk dievakuasi dalam satu jam.
Dokter tersebut juga mengatakan bahwa tidak mungkin mengungsikan semua orang ini dalam satu jam, terutama karena mereka tidak memiliki ambulans untuk memindahkan pasien dan bayi prematur ke selatan.
Pasukan Zionis Israel Hanya Memberikan Rumah Sakit al-Shifa Satu jam untuk Melakukan Evakuasi
Sebuah sumber medis telah memberi tahukan kepada Media bahwa pasukan Zionis Israel hanya memberikan waktu satu jam kepada semua orang di rumah sakit al-Shifa, termasuk dokter, pasien, dan orang yang terdislokasi, untuk mengevakuasi kompleks medis tersebut
Gambar satelit menunjukkan warga Palestina Mengungsi dari utara Gaza
Nampak berikut ini gambar yang menunjukkan ratusan ribu warga Palestina mengungsi dari utara Gaza setelah Israel memaksa mereka meninggalkan daerah tersebut.
Hal ini membangkitkan kenangan tentang Nakba, pada saat pengusiran paksa warga Palestina dari rumah mereka pada tahun 1948 saat pembentukan negara Israel.
Maxar Technologies, perusahaan yang mengkhususkan diri dalam citra satelit, telah merilis gambar yang diambil dari luar angkasa pada hari Jumat lalu yang menunjukkan kepadatan para pengungsi di titik yang merupakan pos pemeriksaan sepanjang Jalan Salah al-Din.
Pos pemeriksaan tersebut dilengkapi dengan kamera tetapi tidak ada tentara Israel di sana, karena mereka melakukan pengawasan jarak jauh terhadap orang-orang yang menuju ke selatan.
Rahasia Kotor Ekspor Senjata Zionis Israel : Mereka Melakukan Uji Coba Pada Rakyat Palestina
Bagian Pertama dari Serial Artikel oleh Paddy Dowling
Pada tanggal 22 Oktober, tentara Israel merilis rekaman unit komando Maglan-nya yang menggunakan bom mortar 120mm berpandu presisi baru yang disebut Iron Sting, melawan Hamas di Gaza.
Produsen bom tersebut, Elbit Systems yang berbasis di Haifa, telah mempromosikan senjata tersebut di halaman situs web mereka sejak Maret 2021, ketika bom ini digunakan pertama kali dalam militer Israel.
Benny Gantz, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan Israel dan kini menjadi bagian dari kabinet perang Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menggambarkan Iron Sting sebagai "senjata yang dirancang untuk menyerang target secara tepat, baik di medan terbuka maupun lingkungan perkotaan, sambil mengurangi kemungkinan kerusakan sekunder dan mencegah cedera pada non-kombatan."
Ini adalah klaim propaganda yang diulang-ulang oleh Mark Regev, mantan juru bicara Netanyahu, terkait pendekatan yang diambil oleh Zionis Israel dalam perangnya di Gaza. Mereka mengatakan bahwa Israel berusaha berlaku semanusiawi mungkin
Namun, lebih dari sebulan setelah Israel meluncurkan serangan udara di Gaza setidaknya 11.400 warga sipil Palestina tewas, dan 30.000 lainnya terluka di jalur yang terkepung dan Tepi Barat yang dijajah mereka. Lebih dari 4.700 anak-anak Gaza telah meninggal.
Mesin pembunuh Israel yang menghancurkan tersebut, diuji coba pada rakyat Palestina, untuk kemudian dijual kepada para pelaku global, demikian yang dikatakan oleh para analis.
Tampak pada gambar berikut ini Selongsong yang tidak digunakan dari roket drone Spike Israel yang dirancang untuk meledak saat bertabrakan, melepaskan kubus-kubus logam dari sebuah tabung tembaga. Proyektil tersebut meluncur dengan kecepatan yang dapat memotong manusia menjadi dua
[VIDEO Anggota parlemen Irlandia menyerukan penyelidikan Pengadilan Kriminal Internasional terhadap Israel
Anggota parlemen Mary Lou McDonald, kepala partai Sinn Fein yang berkuasa di Irlandia, menyerukan pemerintahnya untuk membawa Israel ke Pengadilan Kriminal Internasional untuk menyelidiki tindakan mereka di Gaza.
Dia juga mengatakan bahwa Irlandia perlu memberi tekanan lebih besar pada Israel untuk gencatan senjata.
"Israel tidak peduli dengan hukum internasional. Mengapa? Karena Israel tidak pernah dimintai pertanggungjawaban, katanya.
Foto Aksi di Korea Selatan Menuntut Penghentian Pembantaian di Gaza
Kelompok masyarakat Korea Selatan mengadakan rapat umum di ibu kota Korea Selatan, Seoul, pada 17 November 2023, di mana mereka meletakkan sekitar 2.000 pasang sepatu untuk melambangkan korban perang yang tidak bersalah di Gaza, Tepi Barat yang diduduki oleh Zionis Israel [Lee Jin-man/AP Photo
Bulan Sabit Merah Palestina: Kami Kehilangan Kontak dengan Tim Medis Kami di Rumah Sakit al Ahl Baptis
Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan bahwa mereka telah kehilangan kontak sepenuhnya dengan tim medis mereka yang bekerja di Rumah Sakit Al-Ma'madani (Ahl Baptis) Gaza
Sebelumnya, Bulan Sabit Merah Palestina menyatakan bahwa tim ambulans mereka terjebak di Rumah Sakit Al-Ahl Baptis dan mendengar ledakan di area tersebut, disertai dengan tembakan intens. Mereka menyebutkan bahwa tank-tank mengelilingi rumah sakit dalam pertempuran sengit.
Rumah Sakit Indonesia Juga Dituduh Israel Sebagai Markas HAMAS
Bagaimana Kondisi Rumah Sakit Indonesia Saat Ini ?
Rumah sakit ini terletak di Beit Lahiya, di bagian utara Gaza, dekat kamp pengungsi Jabalia - yang terbesar di enklave tersebut.
Para pekerja kesehatan mengatakan mereka telah terpaksa menghentikan operasi sepenuhnya, disebabkan kekurangan pasokan yang sudah mencapai kondisi kritis
Direktur Atef al-Kahlout mengatakan bahwa rumah sakit ini memiliki kapasitas 140 pasien, tetapi saat ini ada sekitar 500 orang di dalamnya.
Sebanyak 45 pasien membutuhkan "intervensi bedah mendesak," kata al-Kahlout.
Ratusan pengungsi juga berlindung di rumah sakit tersebut.
Lokasi rumah sakit telah beberapa kali diserang oleh pasukan Israel, dengan setidaknya dua warga sipil tewas dalam serangan tersebut antara 7 hingga 28 Oktober, menurut Human Rights Watch.
Seperti Rumah Sakit al-Shifa, Rumah Sakit Indonesia juga dituduh oleh militer Israel digunakan "untuk menyembunyikan pusat komando dan kontrol bawah tanah" untuk Hamas. Pejabat Palestina dan kelompok Indonesia yang mendanai rumah sakit tersebut menolak klaim tersebut.
Sebelum perang, rumah sakit ini telah merawat sekitar 250 pasien setiap hari, menurut Dana Pembangunan Internasional OPEC.
Profesor Universitas Qatar : PBB Tidak Memiliki Dampak Apapun Pada Perang Gaza
Seiring dengan pernyataan Ketua HAM PBB tentang situasi di Gaza beberapa waktu lalu. Seorang Profesor dari Universitas Qatar, Mahjoob Zweiri, berpendapat bahwa lembaga internasional tersebut tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan konflik.
"Kita tahu bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan cara tersendiri dikontrol oleh negara-negara tertentu, dan negara-negara itu menerima narasi Zionis Israel, mereka menerima kebohongan Israel yang menyatakan diri mereka sebagai korban. Pada dasarnya mereka memainkan pengaruh mereka pada PBB," kata Zweiri kepada Al Jazeera.
"Yang kita lihat di kompleks al-Shifa adalah bukti lagi tentang kurangnya kemampuan komunitas internasional dan organisasi tersebut, mereka tidak memiliki kemampuan merespon apapun, mereka tidak memiliki perangkat untuk menghentikan kebrutalan Zionis Israel. Lalu untuk apa organisasi-organisasi itu ada?" tambahnya.
Zweiri juga menyatakan keraguannya tentang seberapa efektif resolusi Dewan Keamanan PBB yang meminta "jeda kemanusiaan" akan terealisasi.
Gedung Rumah Sakit al-Shifa hancur, orang-orang dibawa ke area tidak diketahui
Seluruh bangunan di Rumah Sakit al-Shifa, termasuk bangunan untuk bedah khusus, telah rusak sepenuhnya pada bagian dalam, hal itu juga ditambah para dengan diledakkanya gudang obat dan peralatan medis oleh pasukan Zionis Israel.
Militer Israel secara sengaja telah merobohkannya, termasuk semua partisi, dinding antar ruangan, dan semua peralatan medis di dalam bangunan telah hancur sepenuhnya.
Sementara itu, ada laporan sekitar 200 orang yang diborgol, diinterogasi, dan dibawa ke area tidak diketahui; nasib mereka tidak diketahui.
Saksi di dalam rumah sakit yang mengatakan bahwa pasukan Zionis Israel awalnya mengambil 30 orang yang dilucuti pakaiannya dan dibawa ke halaman rumah sakit. Setelah itu lebih banyak orang yang diambil setelah interogasi, lalu diborgol, dan dikelompokkan.
Sama sekali tidak ada bukti bahwa ada pasukan HAMAS di dalam rumah sakit tersebut. Serangan itu hanya mengakibatkan kerusakan besar di rumah sakit.
Semua ini terjadi di bawah serangan udara dan tembakan tank di sekitar Rumah Sakit al-Shifa.
Arab Saudi Mengutuk Dengan Keras Penyerbuan Zionis Israel ke Rumah Sakit al-Shifa
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan "mengutuk dengan tegas penyerbuan pasukan penjajah Israel ke Rumah Sakit al-Shifa di Gaza dan pemboman sekitar Rumah Sakit Lapangan Jordan.
"Kerajaan menekankan perlunya mengaktifkan mekanisme pertanggungjawaban internasional terkait pelanggaran berkelanjutan ini dan praktik brutal dan tidak manusiawi oleh pasukan penjajah Israel terhadap anak-anak, perempuan, warga sipil, fasilitas kesehatan, dan tim bantuan," demikian pernyataan kementerian Luar Negeri Arab Saudi di Media Sosial X.
Sekitar 650 pasien, 500 pekerja kesehatan, dan diperkirakan 2.500 orang yang terus mengungsi masih berada di dalam kompleks rumah sakit yang dikepung, kata Mohammed Zaqout, direktur rumah sakit di Gaza.
Ini menandakan penurunan yang signifikan dari kondisi di akhir pekan lalu ketika diinformasikan ada sekitar 1.500 pasien, 1.500 pekerja medis, dan 7.000 orang yang mengungsi berlindung di al-Shifa.
Mereka yang berada di dalam melaporkan bahwa mereka terjebak oleh tembakan penembak Zionis Israel.
Seorang pejabat PBB, yang berbicara tanpa menyebutkan namanya, mengatakan bahwa pasien yang tersisa membutuhkan prosedur khusus untuk dievakuasi, termasuk ambulans yang dilengkapi untuk membawa mereka ke rumah sakit di Mesir.
Direktur Al-Shifa Medical Complex menyebut serangan hari ini terhadap rumah sakitnya dan beberapa rumah sakit lain sebagai "hari perang melawan rumah sakit," menambahkan bahwa ini merupakan "tragedi dalam istilah apapun"
"Pasien yang sakit dan luka mengisi semua lorong rumah sakit, dan kami tidak dapat melakukan operasi bedah," kata Muhammad Abu Salmiya, berbicara kepada Media
"Kami tidak dapat menemukan satu tempat tidur pun untuk menempatkan korban," tambahnya. "Kami harus mengambil keputusan sulit antara siapa yang diselamatkan dan siapa yang dibiarkan mati. ... Saat saya berbicara dengan Anda, saya berdiri di depan 100 jenazah."
Abu Salmiya mengatakan bahwa hanya empat bagian dari rumah sakit yang masih beroperasi : unit perawatan intensif, unit inkubator bayi, ruang operasi, dan unit dialisis. "Bangsal-bangsal ini tidak dapat berfungsi tanpa listrik," katanya. "Kami sangat membutuhkan bahan bakar untuk menjaga unit-unit kritis ini beroperasi. Ribuan nyawa pasien bergantung pada sehelai benang. Ini adalah kejahatan perang."
Direktur tersebut juga menambahkan bahwa ribuan pengungsi yang tinggal di dalam rumah sakit tidak memiliki makanan atau air, dan ada ketakutan bahwa Israel akan membom rumah sakit tersebut dan menghancurkannya.
Ketika bom-bom Israel mulai menghantam jalanan yang dulu ramai di Kota Gaza, Diana Tarazi dan keluarganya melarikan diri ke Gereja Keluarga Kudus, satu-satunya tempat ibadah Katolik Roma di Jalur Gaza.
Wanita Palestina Kristen berusia 38 tahun, suaminya, dan tiga anaknya berdampingan dengan jemaat gereja dan tetangga Muslim dan teman-teman mereka, menenangkan anak-anak mereka yang kelelahan untuk tidur di tengah-suara ledakan, sambil berbisik kata-kata penyemangat satu sama lain.
Mereka merasa aman hancur pada tanggal 19 Oktober, ketika Israel membom Gereja Santo Porfirius yang terdekat, gereja tertua di Gaza, dan membunuh setidaknya 18 orang. Tentara Israel mengatakan dalam pernyataan bahwa gereja bukanlah target serangan.
"Peluru roket jatuh langsung ke sana," kata Tarazi tentang situs Ortodoks Yunani itu. "Kami tidak dapat percaya bahwa gereja bukanlah tujuan mereka."
Fatwa Terbaru MUI Nomor 83 Tahun 2023: Mendukung Agresi Israel ke Palestina Hukumnya Haram
JAKARTA, MUI.OR.ID – Komisi Fatwa MUI mengeluarkan fatwa terbaru nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina yang menegaskan bahwa mendukung agresi Israel ke Palestina hukumnya haram. Fatwa ini ditetapkan pada Rabu (08 November 2023) pada Sidang Rutin Komisi Fatwa MUI.
“Mendukung agresi Israel terhadap Palestina atau pihak yang mendukung Israel baik langsung maupun tidak langsung hukumnya haram, ” ujar Ketua MUI Bidang Fatwa, KH Asrorun Niam Sholeh saat membacakan fatwa terbaru MUI tersebut, Jum’at (10/11/2023) di Kantor MUI Pusat, Jakarta dalam konferensi pers Fatwa MUI tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina.
Sebaliknya, Fatwa tersebut menegaskan bahwa mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina atas agresi Israel hukumnya wajib. Dukungan itu bisa berupa pendistribusian zakat, infak, maupun sedekah untuk kepentingan perjuangan rakyat Palestina.
“Pada dasarnya, dana zakat harus didistribusikan kepada mustahik (penerima zakat) yang berada di lokasi sekitar muzakki (pemberi zakat). Dalam keadaan darurat dan mendesak, dana zakat boleh didistribusikan ke mustahik yang berada di tempat yang lebih jauh, seperti untuk perjuangan Palestina, ” ungkap Guru Besar Ilmu Fikih UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu membacakan isi fatwa tersebut.
Selain keputusan tersebut, fatwa ini juga berisi rekomendasi agar umat Islam mendukung perjuangan palestina seperti penggalangan dana kemanusiaan dan perjuangan, mendoakan kemenangan, serta melakukan shalat ghaib untuk syuhada di Palestina.
“MUI juga mengimbau pemerintah mengambil langkah tegas membantu perjuangan Palestina melalui jalur diplomasi di PBB untuk menghentikan perang dan memberikan sanksi kepada Israel, mengirimkan bantuan kemanusiaan, serta berkoordinasi dengan negara OKI untuk menekan Israel menghentikan agresi, ” ujarnya.
Berdasarkan fatwa tersebut, dia menambahkan, MUI menghimbau umat Islam menghindari transaksi dan penggunaan produk yang terafiliasi dengan Israel serta yang mendukung penjajahan dan zionisme.
“Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, mengimbau masyarakat untuk menyebarluaskan fatwa ini, ” tegasnya.
Konferensi Pers tersebut dihadiri Sekretaris Jenderal MUI Buya Amirsyah Tambunan, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Prof Sudarnoto Abdul Hakim, Sekretaris Komisi Fatwa MUI KH Miftahul Huda, serta Bendahara MUI KH Rahmat Hidayat. (Junaidi/Azhar)
Berikut ini naskah (pdf) lengkap Fatwa MUI Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan Terhadap Perjuangan Palestina
Direktur Rumah Sakit Indonesia Tunjukan Pecahan Rudal yang Masuk ke dalam Rumah Sakit
Sebelumnya, serangkaian roket menghantam wilayah dekat Rumah Sakit Indonesia di utara Gaza, di mana ribuan warga Palestina yang terluka dan terlantar berlindung di sekitar sana.
Sambil mengangkat pecahan peluru roket ke kamera, Atef al-Kahlout, direktur rumah sakit, berkata dari dalam fasilitas tersebut: "Inilah yang dilemparkan oleh tentara penjajah ke rumah sakit : pecahan peluru roket.
"Biarkan dunia menjadi saksi atas target penjajahan ini. Dalam 24 jam, rumah sakit akan berhenti beroperasi. Sepertinya pasukan penjajah Israel tidak puas dengan kegigihan Rumah Sakit Indonesia maupun kegigihan rakyat utara Gaza," katanya.
"Mereka menyelesaikan masalah dengan menargetkan warga sipil tak bersenjata, orang yang terluka, dan staf medis yang hak-haknya dijamin oleh hukum internasional dan organisasi hak asasi manusia.
"Sepertinya dunia masih buta, tuli, dan bisu terhadap kekejaman-kekejaman ini. Lebih dari 16 bom jatuh dalam kurang dari lima detik. Lihatlah jenis kerusakan yang diderita. Rakyat Palestina akan tetap teguh; kami akan terus bertahan sampai kami mengalahkan pendudukan."
Pekerja Media Sebut New York Times Memihak dalam Peliputan Gaza
Para demonstran menduduki lobi kantor The New York Times di New York, menuduh organisasi media AS tersebut memihak Israel dalam liputannya tentang perang di Gaza. Demikian dilaporkan oleh Associated Press.
Ratusan demonstran yang dipimpin oleh sekelompok pekerja media yang menamakan diri mereka "Writers Bloc" berkumpul di luar kantor penerbitan tersebut di Manhattan. Banyak pula dari mereka yang masuk ke lobi bangunan untuk melakukan protes. Aksi ini berlangsung lebih dari satu jam.
Video di media sosial menunjukkan para demonstran menutup lantai lobi dengan surat kabar buatan mereka sendiri yang berjudul "The New York Crimes", dengan nama-nama ribuan orang yang tewas di Gaza. Demonstran juga membacakan nama-nama yang tewas.
Lembaga Hak Asasi Manusia : Rumah Sakit Harus Selalu Dilindungi
Omar Shakir, direktur HRW untuk Israel dan Palestina, memberikan komentar mengenai serangan di halaman kompleks Rumah Sakit al-Shifa.
"Ada ribuan warga sipil di sana. Rumah sakit harus selalu dilindungi. Tidak ada area yang menjadi zona tembak bebas," tulis Shakir di media sosial.
Sebelumnya, kelompok hak asasi manusia itu memperingatkan bahwa pasien dan ribuan warga sipil Palestina yang mencari perlindungan di kompleks rumah sakit menghadapi risiko serius di tengah terus berlanjutnya serangan Zionis Israel terhadap Gaza dan juga serangan darat Israel.
HRW mendesak para pemimpin dunia untuk bertindak guna mencegah lebih banyak pembantaian massal," tambah Shakir.
Serangan Israel mengenai halaman kompleks Rumah Sakit al-Shifa
Ashraf al-Qudra, juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, mengatakan kepada media bahwa tampaknya ada korban akibat serangan tersebut.
"Tim medis masih memeriksa area untuk mencari tahu apakah ada korban jiwa atau luka-luka," kata al-Qudra.
"Zionis Israel saat ini mengambil langkah-langkah berbahaya ini terhadap rumah sakit, Mereka ingin sepenuhnya menonaktifkannya dan selanjutnya mengungsikan orang-orang yang berlindung di dalamnya, serta pasien dan tenaga medis."
Ribuan warga Palestina berlindung di kompleks medis al-Shifa.
Dalam beberapa minggu terakhir, militer Zionis Israel telah beberapa kali memerintahkan rumah sakit ini - yang merupakan yang terbesar di Jalur Gaza - untuk dievakuasi, menimbulkan kecaman dari kelompok hak asasi manusia yang mengatakan fasilitas medis harus dilindungi.
Video dan Foto Ambulan Bulan Sabit Merah Palestina yang Diserang Zionis Israel
Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) telah membagikan gambar dan video singkat dari dua ambulans yang mereka katakan telah terpaksa keluar dari layanan akibat serangan Israel di dekat Rumah Sakit al-Awda di Gaza.
Palang Merah Palestina mengatakan Rumah Sakit Al-Quds memiliki waktu 24 Jam Sebelum Ditutup
Para pejabat Palang Merah Palestina di Tepi Barat yang diduduki penjajah Zionis berhasil menghubungi direktur ambulans dan pusat-pusat darurat mereka di Gaza, Mohammed Abu Msbeh, yang memberikan pembaruan tentang situasi yang semakin berbahaya di Rumah Sakit al-Quds di Kota Gaza.
Abu Msbeh mengatakan bahwa rumah sakit tersebut memiliki sekitar 24 jam sebelum bahan bakar untuk generatornya habis, yang akan menyebabkan "penutupan total semua layanan rumah sakit".
Dia mengatakan bahwa komunikasi internet telah terputus di area tersebut selama dua hari dan bahwa jalan-jalan di sekitar rumah sakit terputus selama empat hari berturut-turut.
"Dalam beberapa jam mendatang, keputusan yang sangat sulit harus diambil, apakah untuk terus bekerja di rumah sakit atau mengungsikan semua orang ke daerah yang mungkin lebih berbahaya," kata Abu Msbeh.
Rumah Sakit Indonesia di utara Gaza diserang setidaknya 11 Roket dalam serangan awal hari ini. Demikian disampaikan oleh direktur fasilitas itu, Atef Kahlout.
Akibatnya sebagian Rumah sakit itu hancur dikarenakan serangan tersebut, demikian disampaikan oleh beliau.
Video serangan menunjukkan cahaya terang muncul di langit dekat gedung rumah sakit, tempat ribuan orang berlindung.
Video juga menunjukkan orang-orang berlari dengan panik dari halaman rumah sakit, di mana tenda-tenda didirikan, menuju ke dalam gedung rumah sakit untuk berlindung
Kahlout mengatakan bahwa "potongan-potongan besar pecahan terbang masuk ke dalam rumah sakit".
Pasukan Houthi Yaman mengatakan telah meluncurkan misil balistik ke target militer Israel
Pihak Houthi Yaman telah meluncurkan sejumlah misil balistik ke berbagai target di Israel, termasuk target militer di Eilat, demikian dikatakan juru bicara militer kelompok tersebut, Yahya Saree.
Sebagaimana dikutip oleh Al Masirah TV, Yahya Saree mengatakan bahwa operasi ini "mencapai tujuannya dan menyebabkan korban langsung", tanpa memberikan lebih banyak detail.
Militer Israel belum memberikan komentar secara publik mengenai klaim Houthi ini.
Rumah Sakit Indonesia Melaporkan 65 orang Meninggal dan Lebih Dari 100 Terluka Dalam 24 Jam Terakhir
Sumber medis Palestina mengabarkan kepada media pada awal Kamis, 9 November 2023 ini bahwa dalam 24 jam terakhir, Rumah Sakit Indonesia di utara Gaza telah mencatat setidaknya 65 orang yang meninggal dan lebih dari 100 orang terluka akibat serangan Zionis Israel yang terus berlanjut.
Rumah sakit tersebut telah beroperasi di atas kapasitas dalam beberapa minggu terakhir akibat serangan Zionis Israel dan penutupan beberapa rumah sakit lain, sementara itu mereka juga menghadapi kekurangan bahan bakar.
Bulan Sabit Merah Palestina : 106 truk masuk Gaza dari Mesir pada hari Rabu
Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan bahwa 106 truk masuk Gaza melalui perlintasan Rafah pada hari Rabu, membawa bantuan yang sangat dibutuhkan.
Lima kendaraan ambulans juga tiba dari Kuwait melalui perlintasan tersebut.
PRCS mengatakan bahwa total jumlah truk yang telah masuk sejak 21 Oktober sekarang adalah 756, tetapi itu masih jauh di bawah apa yang dibutuhkan kantong terkepung, dan bahan bakar masih belum diizinkan masuk.
Sekilas Spesifikasi Rudal "Yaasiin 105" yang Mampu Mengalahkan Tank Merkava Zionis Israel (infografis)
Rudal "Al-Yaasiin 105" telah membuktikan efisiensinya dalam menghadapi mekanisme musuh Israel, terutama tank Merkava, yang dianggap pendudukan Israel sebagai tank yang terbaik di dunia dan paling berlapis baja.
Sejak awal serangan Israel ke wilayah terbuka di Jalur Gaza, Brigade Qassam telah menghancurkan lebih dari 50 kendaraan militer Zionis Israel, termasuk tank Merkava, pengangkut personel dan buldoser.
Berikut ini Sekilas Spesifikasinya
Produsen dan Pengembang
Peluru kendali anti-tank portabel "RPG" Diproduksi dan Dikembangkan oleh Brigade Izzuddin al-Qassam
Penamaan
Dinamakan untuk Mengenang Syaikh Ahmad Yaasiin
Dipergunakan untuk pertama kalinya
Dalam pertempuran "Al-Furqan" pada tahun 2009
Bentuk Umum
Memiliki Hulu Ledak Ganda
Yang pertama berfungsi menembus sebagian atau seluruh perisai baja tank
Yang kedua menyelesaikan proses penetrasi ke dalam badan tank dan meledakkannya
Menteri Luar Negeri Jepang Yoko Kamikawa mengatakan anggota G7 Telah sepakat untuk mendukung gencatan senjata sementara dan koridor kemanusiaan untuk memfasilitasi masuknya bantuan ke Gaza.
Kementerian Luar Negeri China meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah-langkah Tanggung Jawab untuk melindungi warga sipil di Gaza sesegera mungkin
Brigade Al-Quds Hancurkan Kendaraan Militer Zionis Israel dan Melukai Sejumlah Tentara Zionis Israel di Poros Gaza Barat
Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam, mengatakan bahwa mereka berhasil menghancurkan sebuah kendaraan Israel dan melukai sejumlah tentara Israel setelah menargetkan pasukan lapis baja di poros Gaza barat.
Brigade Al-Qassam menghancurkan tank dan pengangkut pasukan dengan 105 peluru Al-Yassin
Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS), mengatakan pihaknya berhasil menghancurkan sebuah tank dan pengangkut personel pasukan pendudukan Israel di utara bundaran Al-Tawam dengan dua peluru Al-Yassin 105.
Tentara Zionis Israel Kembali Tewas di Jalur Gaza Utara
Militer Zionis Israel mengatakan bahwa seorang tentara tewas dan tiga terluka parah dalam bentrokan di Jalur Gaza utara, sehingga jumlah korban tewas menjadi 31 orang sejak dimulainya operasi darat pada 27 Oktober.
Tentara Zionis Israel melaporkan bahwa total korban tewas tentaranya telah meningkat menjadi 349 orang sejak 7 Oktober.
Mantan Perdana Menteri Israel : Mental Netanyahu Sedang Runtuh
Mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, mengatakan bahwa Netanyahu sedang mengalami "keruntuhan mental" setelah kegagalan keamanan pada tanggal 7 Oktober. Dan Netanyahu saat ini juga salah strategi, yakni berupaya mengambil alih keamanan Gaza untuk "waktu yang tidak terbatas" setelah berakhirnya perang.
"[Netanyahu] telah menyusut. Emosinya hancur, itu pasti," kata Olmert kepada Politico,. Dia juga mengatakan bahwa perdana menteri tersebut sekarang justru menjadi ancaman bagi Israel.
Ia mengatakan bahwa yang dilakukan Netanyahu seharusnya adalah bernegosiasi dengan komunitas internasional tentang babak akhir pembicaraan pembentukan negara Palestina.
"Bukanlah kepentingan Israel mengawasi keamanan Gaza," katanya. "Yang menjadi kepentingan kami adalah bisa membela diri dengan cara yang berbeda dibanding sebelum serangan tanggal 7 Oktober. Tapi untuk mengendalikan Gaza ? Bukan itu seharusnya tujuannya"
Lembaga Hak Asasi : Serangan terhadap Ambulans Harus Diinvestigasi sebagai Kejahatan Perang
Serangan oleh tentara Zionis Israel terhadap sebuah ambulans di luar Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza pada tanggal 3 November "harus diinvestigasi sebagai kejahatan perang," demikian dikatakan oleh Human Rights Watch (HRW).
HRW, sebuah organisasi hak asasi manusia internasional, mengatakan dalam pernyataan yang dirilis hari ini bahwa mereka telah memverifikasi rekaman video dan foto yang diambil "segera setelah serangan" dan telah mewawancarai seorang saksi mata terkait serangan tersebut.
Mereka menemukan bahwa video dan foto tersebut "menunjukkan seorang wanita di brankar di dalam ambulans dan setidaknya 21 orang tewas atau terluka di sekitar ambulans, termasuk 5 anak-anak".
HRW juga menambahkan bahwa mereka "tidak menemukan bukti bahwa ambulans itu digunakan untuk tujuan militer," sebuah klaim yang dibuat oleh juru bicara tentara Israel dalam video yang diposting di X setelah serangan tersebut.
Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina telah mengatakan bahwa seorang tenaga medis dan sopir ambulans termasuk di antara orang-orang yang terluka dalam serangan tersebut.
Lajnah Palestina : Apa yang Terjadi di Gaza adalah Perang yang Lengkap
Lajnah Mutaba'ah li Fasha-il al Filistiniyah menyampaikan pernyataan mereka sebagai berikut :
Gaza menghadapi kematian yang harus kita lawan dan hadapi dengan satu barisan tanpa ragu atau menyerah
Kami mengajak saudara-saudara Arab dan Muslim kami untuk mengambil sikap yang bertanggung jawab terhadap perang yang mengakibatkan kelaparan dan kehausan.
Apa yang terjadi di Gaza adalah perang yang lengkap, dan dominasi Amerika telah membuat negara-negara kehilangan kedaulatan.
Serangan yang ditujukan kepada ketersediaan pangan adalah bagian dari terorisme yang mengancam kehidupan warga sipil.
Merasa Kewalahan, Zionis Israel Sewa Iron Dome dari Amerika Serikat
Sumber-sumber media di Amerika Serikat menyebutkan bahwa Zionis Israel Menyewa Dua Sistem Pertahanan Rudal
The Wall Street Journal mengutip pernyataan Kepala Pengadaan Militer AS yang mengatakan bahwa Israel telah menyewa dua sistem pertahanan rudal Iron Dome dan Tamir.
Palang Merah Mengatakan Konvoi Bantuan Melaju di Tengah-tengah Serangan yang Berlangsung di Kota Gaza
Komite Internasional Palang Merah mengatakan konvoi kemanusiaan berhasil mengirimkan persediaan medis ke Rumah Sakit al-Shifa meskipun serangan mengelilingi mereka.
Dua truk mengalami kerusakan dan seorang sopir mengalami luka ringan, demikian disampaikan oleh organisasi tersebut.
Mereka menyebutkan bahwa konvoi tersebut terdiri dari lima truk dan dua kendaraan ICRC dan mengangkut "persediaan medis penyelamatan nyawa ke fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Al Quds dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina. Saat melakukan perjalanan konvoi ini juga tak luput dari serangan.
HAMAS Mengatakan Pembebasan Tawanan Terhambat oleh Serangan Zionis Israel
Pasukan bersenjata HAMAS, Qassam Brigades, mengatakan mereka "siap untuk membebaskan" 12 tahanan yang dibawa ke Gaza, tetapi "situasi di lapangan" - berupa serangan udara dan darat Israel - "menghambat pembebasan tersebut."
Israel mengatakan 241 orang ditawan oleh HAMAS ketika mereka meluncurkan serangan pada 7 Oktober. Empat di antaranya telah dibebaskan sejauh ini - yakni dua warga Israel dan dua warga Amerika.
Sebuah kiriman di saluran Telegram Qassam Brigades mengatakan mereka siap untuk melepaskan "12 tahanan di Gaza yang memiliki kewarganegaraan asing, tetapi apa yang dilakukan oleh tentara penjajah menghalangi rencana tersebut".
Video : HAMAS Hancurkan Pasukan Musuh dengan Mortir Kaliber Besar
Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), mengatakan mereka berhasil menghancurkan kerumunan tentara Zionis Israel di Jalur Gaza dengan mortir kaliber tinggi.
Brigade Al-Qassam mengumumkan penghancuran 3 tank Zionis
Brigade Al-Qassam mengumumkan penghancuran 3 tank, pengangkut pasukan dan buldoser milik pasukan pendudukan Israel, dalam bentrokan di pinggiran kamp pengungsian Al-Shat. Dalam serangan ini 105 peluru Al-Yassin digunakan oleh pasukan HAMAS.
Pemerintah Gaza: 42% dari orang-orang yang Gugur Berada di Daerah yang Selama Ini Diklaim oleh Penjajah Israel sebagai Daerah yang Aman
Kantor Informasi Pemerintah Gaza menginformasikan bahwa 42% dari total jumlah syuhada berada di daerah selatan Sungai (Gaza) yang selama ini diklaim oleh penjajah Zionis sebagai wilayah yang aman.
Palang Merah Internasional menyatakan bahwa konvoi medis dari rumah sakit Al-Shifa telah mencapai perbatasan Rafah hari ini
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengatakan bahwa empat ambulans yang membawa pasien dari rumah sakit terbesar di Gaza telah mencapai perbatasan dengan Mesir.
"Kami merasa sangat lega mengetahui bahwa pasien-pasien ini aman dan akan menerima perawatan medis mendesak," kata William Schomburg, kepala kantor ICRC di Gaza, dalam sebuah pernyataan.
"Saya tidak bisa cukup menekankan betapa pentingnya melindungi rumah sakit, tenaga medis, dan pasien di tengah kekerasan ini. Ada ribuan orang yang terluka parah di Gaza. Ini adalah kewajiban berdasarkan hukum kemanusiaan internasional untuk melindungi mereka dari bahaya."
Kabar kedatangan konvoi di Rafah datang beberapa hari setelah Israel menyerang konvoi medis setelah berangkat dari Rumah Sakit Al-Shifa pada hari Jumat, menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya.
Israel menuduh Hamas menggunakan ambulans dalam konvoi tersebut, tudingan yang kemudian dibantah dengan keras oleh Komunitas Bulan Sabit Merah Palestina dan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza.
Abu Ubaidah: Kami Berhasil Menghancurkan 27 Kendaraan Militer dalam 48 Jam
Abu Ubaidah, juru bicara militer untuk Brigade Al-Qassam, mengatakan bahwa para pejuang Al-Qassam berhasil menghancurkan 27 kendaraan militer Israel selama 48 jam terakhir, baik hancur total maupun sebagian.
Dia juga menambahkan bahwa pasukan Israel yang masuk ke wilayah utara-barat dan selatan Kota Gaza telah diserang dengan mortir, dan pertempuran langsung terjadi dengan musuh, demikian pernyataannya.
Afrika Selatan memanggil kembali diplomat-diplomatnya dari Israel
Afrika Selatan mengatakan bahwa mereka akan memanggil kembali semua diplomatnya dari Israel
Khumbudzo Ntshavheni, seorang menteri di kantor presiden, mengatakan dalam konferensi pers bahwa seluruh staf diplomatik di Tel Aviv akan diminta kembali ke Pretoria.
"Kami sangat prihatin dengan terus terjadinya pembunuhan anak-anak dan warga sipil tak bersalah di wilayah Palestina, dan kami percaya bahwa respons Israel telah menjadi tindakan hukuman kolektif," kata Menteri Luar Negeri Naledi Pandor dalam sebuah konferensi pers. "Kami merasa penting untuk menyampaikan keprihatinan Afrika Selatan sambil terus mendesak untuk gencatan senjata menyeluruh."
Sebelumnya, Turki, Yordania, Bolivia, Honduras, Kolombia, Cile, dan Bahrain juga melakukan hal yang sama.
Bolivia juga memutuskan semua hubungan diplomatik dengan Israel sebagai respons terhadap tindakan kekejaman Israel di Gaza.
Juru Bicara Kementerian Palestina : Rumah Sakit Al-Shifa harus dilindungi
Seorang juru bicara untuk kementerian kesehatan Gaza telah memperingatkan bahwa Israel "sedang mempersiapkan sesuatu yang buruk" untuk kompleks medis Al-Shifa.
Komentarnya muncul setelah serangan terhadap atap panel surya sebagaimana yang telah dilaporkan sebelumnya
Juru bicara tersebut mengatakan rumah sakit tidak dapat dievakuasi, karena rumah sakit tersebut menampung ribuan orang terluka, pasien cuci darah ginjal, dan bayi baru lahir di unit perawatan intensif neonatal, selain pengungsi.
"Okupasi ini melampaui semua garis merah. Tanggung jawab PBB, WHO, Palang Merah, dan lainnya untuk melindungi kompleks medis al-Shifa dan mereka harus mengadopsi langkah-langkah tegas untuk melakukannya," katanya.
"Jika rumah sakit ini tidak berfungsi, tidak akan ada perawatan medis bagi pasien atau yang terluka. Ini adalah peringatan, dan rumah sakit ini harus dilindungi oleh seluruh dunia," katanya.
Pemerintah Zionis Israel Saling Lempar Tanggung Jawab Atas Serangan 7 Oktober
Sara Khairat (al Jazeera) -Melaporkan dari Yerusalem Timur
Semalam, media Israel melaporkan bahwa PM Netanyahu mengatakan mereka perlu memeriksa para Tentara Cadangan Israel yang melakukan protes anti-pemerintah Israel sebelum serangan 7 Oktober lalu.
Lalu muncul pula pernyataan dari Benny Gantz, mantan pemimpin partai oposisi yang menjadi bagian dari kabinet perang ini, yang mengatakan di media sosial bahwa Netanyahu tidak boleh menghindari "tanggung jawab" dan meminta PM untuk menarik kembali pernyataannya.
Apa yang terjadi antara mereka ini, menunjukkan gambaran kelemahan di antara barisan mereka sehingga HAMAS dapat menyerang mereka secara telak.
Hingga saat ini, Netanyahu belum mengakui bahwa hal tersebut adalah kesalahan dirinya.
Kami menerima kabar bahwa dalam tubuh militer ada yang mengatakan bahwa "hal tersebut terjadi di bawah pengawasan kami" dan mengambil tanggung jawab. Tetapi mereka sekarang justru balik mengatakan bahwa Netanyahu menghindari tanggung jawab.
Al-Qassam Serang Tentara Zionis di Timur Juhar al-Dik
Diinformasikan oleh Batalyon Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), bahwa para pejuang mereka telah mengebom pasukan penjajah yang memasuki Juhar al-Dik di Jalur Gaza dengan mortir.
Batalyon al-Qassam menyatakan pada hari Senin ini dalam serangkaian pernyataan di Telegram bahwa mereka telah terlibat dalam pertempuran sengit di utara Jalur tersebut pada hari Minggu yang mengakibatkan tewasnya tentara Israel.
Perdana Menteri Iraq : Krisis di Gaza Bukan Disebabkan Peristiwa 7 Oktober
Perdana Menteri Iraq, Muhammad al-Sudani mengatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza saat inii bukanlah hasil dari peristiwa 7 Oktober (Intifada Al-Aqsa), melainkan akibat kebijakan-kebijakan kejam Zionis Israel terhadap rakyat Palestina.
Dia juga mengatakan bahwa masyarakat internasional gagal dalam memenuhi kewajiban dan komitmennya terhadap Jalur Gaza.