أقوال العلماء فيمن تجب عليه زكاة ربح المضاربة
Pendapat Para Ulama Mengenai Siapa yang Wajib Menunaikan Zakat Atas Keuntungan Mudharabah
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Pendapat Para Ulama Mengenai Siapa yang Wajib Menunaikan Zakat Atas Keuntungan Mudharabah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat
السؤال:
Pertanyaan:
لقد سلّمت أحد الأقارب مبلغ 5000 دولار ليشتغل بها في التجارة . كيف تكون زكاة هذا المال علما وأن لي نصيباً في الأرباح، جزاكم الله خيرا، والسّلام.
Saya telah menyerahkan uang sebesar 5000 dolar kepada salah seorang kerabat untuk dikelola dalam perdagangan. Bagaimana cara berzakat atas harta ini, mengingat saya memiliki bagian dari keuntungan? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan, Wassalam.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فإن زكاة رأس مالك وهو الخمسة الآلاف واجبة عليك أنت، وليس هذا محل خلاف.
Sesungguhnya zakat atas modal Anda, yaitu uang sebesar lima ribu dolar tersebut, wajib ditunaikan oleh Anda sendiri (sebagai Shohibul Maal), dan ini bukanlah perkara yang diperselisihkan.
وإنما اختلف أهل العلم في تحديد من تجب عليه زكاة الأرباح في المضاربة؟ فمنهم من قال: يزكي ربّ المال جميع المال: أي رأس المال مع الربح، لأن الربح نماء للمال والمال ملكه.
Akan tetapi, para ahli ilmu berbeda pendapat dalam menentukan siapa yang berkewajiban menunaikan zakat atas keuntungan dalam *mudharabah*? Di antara mereka ada yang berpendapat: Pemilik modal (Shohibul Maal) menzakati seluruh harta, yaitu modal beserta keuntungannya, karena keuntungan itu adalah pertumbuhan dari harta tersebut dan harta itu adalah miliknya.
فإن أخرجها من مال القراض حسبت من الربح لأنها من مؤونة المال، وهذا أحد قولي الشافعي -رحمه الله- وفيه ضعف لأنه يتضمن جَوْراً على العامل، إذ قد يكون الربح كله مساوياً لمقدار الزكاة الواجبة أو دون ذلك، فيذهب جهد العامل بدون مقابل.
Jika zakat dikeluarkan dari harta *qiradh* (modal usaha), maka dihitung dari keuntungan karena zakat termasuk biaya perawatan harta. Ini adalah salah satu dari dua pendapat Imam Asy-Syafi’i *rahimahullah*, namun pendapat ini dinilai lemah karena mengandung unsur ketidakadilan terhadap pengelola (*mudharib*). Sebab, bisa jadi seluruh keuntungan hanya setara dengan jumlah zakat yang wajib dikeluarkan atau bahkan kurang dari itu, sehingga usaha pengelola menjadi sia-sia tanpa imbalan.
وذهب الحنابلة إلى أن على صاحب المال زكاة المال كله ما عدا نصيب العامل، لأن نصيب العامل ليس لرب المال، ولا تجب على الإنسان زكاة مال غيره، ويخرج الزكاة من المال لأنه من مؤونته، وتحسب من الربح لأنه وقاية لرأس المال.
Sedangkan Madzhab Hambali berpendapat bahwa pemilik modal wajib menzakati seluruh harta kecuali bagian (jatah keuntungan) milik pengelola. Hal ini karena bagian pengelola bukanlah milik pemilik modal, dan seseorang tidak wajib menzakati harta orang lain. Zakat dikeluarkan dari harta tersebut karena termasuk biaya perawatannya, dan dihitung dari keuntungan karena keuntungan itu adalah pelindung bagi modal pokok.
وأما العامل فليس عليه زكاة في نصيبه ما لم يقتسما، فإذا اقتسما استأنف العامل حولا من حينئذ. وهذا القول أقرب إلى الأدلة القاضية باشتراط الملك لوجوب الزكاة.
Adapun bagi pengelola, tidak ada kewajiban zakat atas bagiannya selama belum dilakukan pembagian. Jika sudah dibagi, maka pengelola mulai menghitung *haul* (jangka waktu satu tahun) yang baru sejak saat pembagian tersebut. Pendapat ini lebih dekat dengan dalil-dalil yang menetapkan syarat kepemilikan sempurna (*tamlik*) untuk kewajiban zakat.
ومذهب الحنفية قريب من مذهب الحنابلة في ذلك؛ إلا أنهم يخالفونهم في حصة العامل، فيقول الحنفية: يجب على العامل زكاة حصته من الربح إن ظهر في المال ربح، وتم نصيبه نصاباً.
Madzhab Hanafi memiliki pandangan yang dekat dengan Madzhab Hambali dalam hal ini, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai jatah pengelola. Madzhab Hanafi menyatakan: Pengelola wajib menzakati jatah keuntungannya jika keuntungan tersebut sudah tampak pada harta usaha, dan jatahnya tersebut telah mencapai *nishab*.
ومذهب المالكية: أن على رب المال زكاة ماله وحصته من الربح كل سنة، وعلى العامل زكاة حصته إذا قبضها بعد المفاصلة لسنة واحدة.
Adapun Madzhab Maliki berpendapat: Pemilik modal wajib menzakati harta pokok dan jatah keuntungannya setiap tahun. Sedangkan pengelola wajib menzakati jatahnya jika ia telah menerimanya setelah penghitungan akhir (pemisahan), dan zakatnya hanya untuk satu tahun saja.
والذي يترجح من هذا كله هو المذهب الثاني: وهو مذهب الحنابلة السابق الذكر.
Dan pendapat yang *rajih* (lebih kuat) dari semua ini adalah pendapat kedua, yaitu Madzhab Hambali yang telah disebutkan sebelumnya.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply