شروط إجابة الصلاة والدعاء
Syarat Pengabulan Shalat dan Doa
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Syarat Pengabulan Shalat dan Doa ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
أريد أن أعرف شروط قبول صلاتي وأيضا دعائي.
Saya ingin mengetahui syarat-syarat agar shalat dan doa saya diterima.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فأول شروط قبول الصلاة الإتيان بشروط صحة الصلاة، من طهارة في البدن والثوب والمكان، ورفع الحدثين، والوضوء، ودخول الوقت، وستر العورة، واستقبال القبلة، والنية.
Syarat pertama diterimanya shalat adalah terpenuhinya syarat-syarat sah shalat, mulai dari kesucian (taharah) badan, pakaian, dan tempat; menghilangkan hadas besar maupun kecil; wudu; masuknya waktu shalat; menutup aurat; menghadap kiblat; serta niat.
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طَهُورٍ
“Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci (taharah).” (HR. Jama’ah kecuali Al-Bukhari)
ومن شروط قبول الصلاة والدعاء: الخشوع، وهو الذلة والخضوع لله تعالى، وحضور القلب في الصلاة والدعاء، وعدم الانشغال بغير الصلاة ولا الدعاء.
Di antara syarat diterimanya shalat dan doa adalah khusyu’, yaitu rasa rendah diri dan tunduk kepada Allah Ta’ala, serta hadirnya hati dalam shalat maupun doa, tanpa menyibukkan diri dengan hal-hal di luar ibadah tersebut. Allah Ta’ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ [المؤمنون: ١-٢]
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” [Al-Mu’minun: 1-2]
ومن شروط قبول الدعاء الابتعاد عن الحرام خصوصاً في المأكل والمشرب والملبس.
Di antara syarat dikabulkannya doa adalah menjauhkan diri dari yang haram, terutama dalam hal makanan, minuman, dan pakaian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan perihal seorang laki-laki:
يُطِيلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Ia melakukan perjalanan panjang, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku,’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim)
ومن مظان القبول: تحري أوقات الإجابة، مثل: ساعة الإجابة يوم الجمعة، وفي الثلث الأخير من الليل.
Termasuk sarana diterimanya doa adalah mencari waktu-waktu yang mustajab, seperti waktu khusus di hari Jumat dan pada sepertiga malam terakhir. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا مَضَى شَطْرُ اللَّيْلِ يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى، هَلْ مِنْ دَاعٍ يُسْتَجَابُ لَهُ، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ، حَتَّى يَنْفَجِرَ الصُّبْحُ
“Apabila telah berlalu separuh malam, Allah Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia dan berfirman: ‘Adakah orang yang meminta niscaya akan diberi, adakah orang yang berdoa niscaya dikabulkan, adakah orang yang memohon ampun niscaya diampuni,’ hingga terbit fajar.” (HR. Muslim)
ومن دواعي القبول: حسن الظن بالله تعالى بأنه سبحانه يقبل الصلاة والدعاء.
Termasuk faktor pendorong diterimanya amal adalah berprasangka baik (husnudhan) kepada Allah Ta’ala bahwa Dia akan menerima shalat dan doa tersebut. Allah Ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi:
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply