Fragmen Perang Hamra al-Asad (2)



مشاهد من غزوة حمراء الأسد

Fragmen Perang Hamra al-Asad (Bagian Kedua / Terakhir)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Fragmen Perang Hamra al-Asad (Bagian Kedua / Terakhir) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

وفي ذلك الوقت ، كان أبو سفيان وقومه يتلاومون فيما بينهم ، كيف يعودون إلى مكة دون أن يقضوا على المسلمين ؟ ، وبينما هم في حديثهم إذ أقبل عليهم ذلك الخزاعي، فسألوه عن حال المسلمين ، فذكر أنهم قد خرجوا بجيشٍ عظيم ، ونفوسٍ غاضبة ، يريدون الانتقام لقتلاهم ، ونصحهم بأن يرجعوا إلى مكّة ، وحينها انهارت عزائم المشركين ، وأصابتهم الذلة والمهانة ، فقرّروا العودة .

Dan pada saat itu, Abu Sufyan beserta kaumnya sedang saling menyalahkan di antara sesama mereka; bagaimana bisa mereka kembali ke Mekah tanpa menuntaskan urusan untuk melenyapkan kaum muslimin? Di tengah pembicaraan tersebut, tiba-tiba datanglah orang dari kabilah Khuza’ah itu (Ma’bad) kepada mereka. Mereka pun bertanya kepadanya mengenai kondisi kaum muslimin, lalu dia menyebutkan bahwa kaum muslimin telah keluar dengan pasukan yang sangat besar serta jiwa yang penuh amarah karena ingin menuntut balas atas kematian orang-orang mereka yang gugur. Dia menyarankan mereka untuk segera kembali ke Mekah, dan seketika itu runtuhlah tekad kaum musyrikin, serta mereka diliputi oleh rasa hina dan rendah, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.

وحاول أبو سفيان أن يغطّي انسحابه ، فانتهز فرصة مرور قافلة متوجّهة إلى المدينة ، وطلب منهم أن ينقلوا رسالة إلى المسلمين بأنّهم قد جمعوا جنودهم وتهيّؤوا لقتالهم ، لكن هذا التهديد لم يزد المسلمين إلا إيماناً وثباتاً وتصميماً على مواصلة القتال ، فامتدحهم الله بقوله :

Abu Sufyan berusaha untuk menutupi kemundurannya, maka dia memanfaatkan kesempatan lewatnya sebuah kafilah yang sedang menuju ke arah Madinah. Dia meminta mereka untuk menyampaikan pesan kepada kaum muslimin bahwasanya mereka telah mengumpulkan bala tentara dan bersiap-siap untuk memerangi mereka. Akan tetapi, ancaman tersebut sama sekali tidak menambah bagi kaum muslimin melainkan keimanan, keteguhan, serta kebulatan tekad untuk melanjutkan pertempuran, maka Allah memuji mereka melalui firman-Nya:

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسُ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنَعمَ الْوَكِيلُ [آل عمران: 173]

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” [Ali ‘Imran: 173]

ووصل المسلمون حمراء الأسد، وعسكروا بالقرب من جيش المشركين ، وأقاموا فيه ثلاثة أيام، وكان رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قد أمر بإشعال نارٍ عظيمة من أجل إدخال الرعب في قلوب المشركين .

Kaum muslimin pun sampai di Hamra al-Asad lalu membangun perkemahan militer di dekat posisi pasukan kaum musyrikin, dan menetap di sana selama tiga hari. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menyalakan api yang sangat besar dengan tujuan untuk menghembuskan rasa takut ke dalam hati kaum musyrikin.

ولم يحدث بين الفريقين قتال ، لكن المسلمين استطاعوا أن يأسروا رجلا يُقال له أبو عزة الجمحي ، وكان شاعراً أسره المسلمون يوم بدر ، ثم أطلقه الرسول – صلّى الله عليه وسلم – بغير فداء رحمةً ببناته ، واشترط عليه ألا يقف ضد المسلمين ، فلم يحترم الرجل العهد ، وقاتل مع المشركين في أحد ، فلما وقف بين يدي النبي – صلى الله عليه وسلم – رجاه أن يُعفو عنه ، لكن النبي – صلى الله عليه وسلم – أمر بقتله ، وقال كلمته التي صارت مثلاً :

Tidak terjadi pertempuran di antara kedua belah pihak, akan tetapi kaum muslimin berhasil menawan seorang pria yang bernama Abu ‘Azzah al-Jumahi. Dia adalah seorang penyair yang pernah ditawan oleh kaum muslimin pada saat Perang Badar, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melepaskannya tanpa tebusan karena rasa iba terhadap anak-anak perempuannya, dengan syarat dia tidak boleh lagi berdiri menentang kaum muslimin. Namun, pria tersebut tidak menghormati perjanjian itu dan justru ikut bertempur bersama kaum musyrikin di Uhud. Ketika dia berdiri di hadapan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dia memohon agar dimaafkan kembali, akan tetapi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengeksekusinya, dan beliau mengucapkan kalimatnya yang kemudian menjadi pribahasa populer:

لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Seorang mukmin tidak boleh disengat dari satu lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR. Al-Bukhari)

وهكذا انتهت أحداث هذه الغزوة ، وعاد النبي – صلى الله عليه وسلم – إلى المدينة منتصراً ، واستطاع أن يحقّق أهدافه التي رسمها دون خسائر تُذكر ، وصدق الله القائل :

Demikianlah peristiwa peperangan ini berakhir, dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kembali ke Madinah dalam keadaan menang serta berhasil mewujudkan target-target yang telah beliau rancang tanpa adanya kerugian yang berarti. Dan benarlah Allah yang berfirman:

فَانقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَّمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ [آل عمران: 174]

“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia dari Allah, mereka tidak ditimpa sesuatu bencana dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” [Ali ‘Imran: 174]

والله أعلم .

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.