مشاهد من غزوة حمراء الأسد
Fragmen Perang Hamra al-Asad (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Fragmen Perang Hamra al-Asad (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
من الصعب أن نعتبر غزوة حمراء الأسد حدثاً مستقلاً عن غزوة أحد ، ولكنّها امتدادٌ طبيعيٌّ وصفحةٌ أخيرةٌ للمواجهة التي تمّت بين قريشٍ وحلفائها من جهة ، وبين المسلمين من جهة أخرى ، والتي انتهت بتسليم المسلمين رايةَ النصر لخصومهم ، ثمناً لمخالفتهم أوامر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – .
Sangat sulit untuk menganggap Perang Hamra al-Asad sebagai peristiwa yang terpisah dari Perang Uhud. Akan tetapi, perang ini merupakan kelanjutan alamiah dan lembaran terakhir dari konfrontasi yang terjadi antara kaum Quraisy beserta sekutu-sekutu mereka di satu sisi, dengan kaum muslimin di sisi yang lain, yang mana konfrontasi tersebut berakhir dengan diserahkannya panji kemenangan oleh kaum muslimin kepada musuh-musuh mereka, sebagai harga atas pelanggaran mereka terhadap perintah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
بينما كان سبب هذه الغزوة هو أن النبي – صلى الله عليه وسلم – أحسّ بما يقاسيه أصحابه من مرارة الهزيمة ، وما يشعرون به من إحباط ، فأراد أن يواسيهم في مُصيبتهم ، ويمحو اليأس من قلوبهم، ويعيد إليهم روح التفاؤل والثّقة .
Adapun sebab dari peperangan ini adalah bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam merasakan kepedihan yang mendalam yang dialami oleh para shahabatnya akibat pahitnya kekalahan serta keputusasaan yang mereka rasakan. Maka beliau ingin menghibur mereka dalam musibah tersebut, menghapuskan rasa putus asa dari hati mereka, serta mengembalikan semangat optimisme dan rasa percaya diri kepada mereka.
ولم يكن ذلك هو السبب الوحيد ، فإن خروج النبي – صلى الله عليه وسلم – بجيشٍ مُثقل بالجراح هو خير رسالة للأعداء بأن المسلمين لا زالوا أعزّة قادرين على المواجهة ، وأن جراحهم وآلامهم لا يمكن أن تعوقهم عن مواصلة الجهاد والقتال ، وأنّ فرح المشركين بالنصر الذي أحرزوه لن يدوم طويلاً .
Dan itu bukanlah satu-satunya sebab, karena keluarnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersama pasukan yang sarat dengan luka-luka merupakan pesan terbaik bagi musuh bahwa kaum muslimin masih memiliki harga diri dan kemampuan untuk menghadapi konfrontasi. Selain itu, luka-luka dan rasa sakit mereka tidak mungkin dapat menghalangi mereka untuk melanjutkan jihad dan pertempuran, serta kegembiraan kaum musyrik atas kemenangan yang mereka raih tidak akan bertahan lama.
لذا ، استقرّ رأي النبي – صلى الله عليه وسلم – على حتمية المواجهة مرّة أخرى ، فأصدر أوامره في اليوم التالي لمعركة أحدٍ بالاستعداد لملاقاة العدوّ ، وأمر بلالاً أن ينادي في الناس بضرورة التعجيل ، ولم يكن الأمر عامّاً لجميع المؤمنين ، بل كان مقصوراً على أولئك الذين شهدوا معركة أحد ، تأكيداً لصلابتهم وقدرتهم على مواصلة القتال .
Oleh karena itu, keputusan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bulat atas keniscayaan untuk menghadapi musuh sekali lagi. Maka beliau mengeluarkan perintahnya pada hari berikutnya setelah Perang Uhud untuk bersiap-siap menyongsong musuh, dan memerintahkan Bilal agar menyeru kepada orang-orang tentang pentingnya bergegas. Perintah ini tidak bersifat umum bagi seluruh orang beriman, melainkan dikhususkan bagi mereka yang ikut serta dalam Perang Uhud, sebagai penegasan atas ketangguhan mereka dan kemampuan mereka untuk melanjutkan pertempuran.
وكان جابر بن عبدالله رضي الله عنه قد تخلّف عن غزوة أحد بسبب أمر والده برعاية أخواته ، وشقّ عليه أن تفوته الفرصة مرّة أخرى ، فانطلق إلى رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يستأذنه في الخروج معهم ، فأذن له .
Sementara itu, Jabir bin Abdullah radhiyallaahu ‘anhu sebelumnya tidak ikut serta dalam Perang Uhud karena perintah ayahnya untuk menjaga saudara-saudara perempuannya. Sangat berat baginya jika kesempatan ini harus terlewatkan lagi, maka dia segera menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta izin agar bisa keluar bersama mereka, lalu beliau pun mengizinkannya.
واستجاب المؤمنون لدعوة الجهاد ، وانطلقوا مع النبي – صلى الله عليه وسلم – متحمّلين في ذلك جراحاتهم وآلامهم ، حتى إنّ بعضهم كان يحمل أخاه على ظهره إذا عجز عن السير ، وسجّل القرآن لهم ذلك فقال سبحانه :
Dan orang-orang beriman pun menyambut seruan jihad tersebut. Mereka berangkat bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam seraya menahan luka-luka dan rasa sakit mereka, bahkan sebagian dari mereka ada yang memikul saudaranya di atas punggungnya jika saudaranya itu tidak mampu berjalan. Al-Qur’an telah mengabadikan sikap mereka tersebut, di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِن بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ [آل عمران: 172]
“(Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang herbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.” [Ali ‘Imran: 172]
وفي الطريق أقبل معبد بن أبي معبد الخزاعي فعزّى النبي – صلى الله عليه وسلم – ، فيمن أصيب من أصحابه ، وأعلن دخوله في الإسلام ، ورأى النبي – صلى الله عليه وسلم – في إسلام الرجل فرصةً ذهبية ، يمكن استغلالها في إرهاب قريشٍ وتخذيلها عن القتال ، خصوصاً وأنها تجهل إسلامه ، فطلب منه أن يكون عوناً لهم على تنفيذ هذه الخطّة .
Di tengah perjalanan, datanglah Ma’bad bin Abi Ma’bad al-Khuza’i lalu menyampaikan belasungkawa kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas gugurnya para shahabat beliau, dan dia pun menyatakan diri masuk Islam. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat keislaman pria ini sebagai kesempatan emas yang dapat dimanfaatkan untuk menggentarkan kaum Quraisy dan melemahkan semangat mereka untuk bertempur, terlebih lagi karena mereka belum mengetahui keislamannya. Maka beliau memintanya untuk menjadi penolong bagi mereka dalam melancarkan strategi ini.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply