الثلاثة الذين خلفوا
Tiga Orang yang Ditinggalkan (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tiga Orang yang Ditinggalkan (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
قد يكون الجهاد فرض عين على المسلم، كما لو عينه الإمام ، ولا يجوزله التخلف عنه حينئذ إلا لعذر شرعي . لذلك عندما يستنفر النبي صلى الله عليه وسلم المؤمنين للجهاد يخرج كل مسلم صادق ، ولا يتخلف إلا أهل الأعذار الشرعية أو أهل النفاق، ولكن في غزوة تبوك تخلف ثلاثة رجال كعب بن مالك و مرارة بن ربيع و هلال ابن أبي أمية عن الغزو مع الرسول صلى الله عليه وسلم من غير عذر شرعي ولا نفاق .
Terkadang jihad menjadi fardhu ‘ain bagi seorang muslim, seperti ketika imam (pemimpin) telah menunjuknya secara khusus, dan pada saat itu tidak boleh baginya untuk tertinggal (tidak ikut) kecuali karena adanya uzur syar’i (‘udzun syar’iyy). Oleh karena itu, ketika Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyerukan mobilisasi umum kepada orang-orang beriman untuk berjihad, setiap muslim yang jujur pasti akan berangkat, dan tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang memiliki uzur syar’i atau orang-orang munafik. Akan tetapi, pada Perang Tabuk (ghazwat tabuuk), ada tiga orang pria yang tertinggal dari peperangan bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tanpa adanya uzur syar’i dan bukan pula karena kemunafikan (nifaaq); mereka adalah Ka‘b bin Maalik, Murarah bin Rabi‘, dan Hilal bin Abi Umayyah.
تخلف الثلاثة عن الغزو الذي كان في زمان الحر والشدة ، ولكن رغم فداحة الذنب وعظمته تجاوز الله عنهم وغفر لهم صنيعهم ، لأنهم كانوا صادقين مع أنفسهم ومع الرسول الكريم صلى الله عليه وسلم، لم يخادعوه ولم يأتوا بأعذار كاذبة ، بل صدقوا واعترفوا بتخلفهم ، ولجؤوا إلى الله تائبين مستغفرين فتاب الله عليهم .
Ketiga orang tersebut tertinggal dari peperangan yang terjadi pada masa cuaca panas yang ekstrem dan penuh kesulitan. Akan tetapi, meskipun dosa tersebut sangat fatal dan besar, Allah memaafkan mereka dan mengampuni perbuatan mereka. Hal itu dikarenakan mereka jujur terhadap diri mereka sendiri dan kepada Rasul yang mulia shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak menipu beliau dan tidak mendatangkan uzur-uzur dusta, melainkan mereka jujur dan mengakui keterlambatan mereka, serta berlindung kepada Allah dalam keadaan bertobat lagi memohon ampunan, maka Allah pun menerima tobat mereka.
ولندع أحدهم وهو كعب بن مالك يقدم سردا ملخصا لهذه المحنة :
Dan mari kita biarkan salah seorang dari mereka, yaitu Ka‘b bin Maalik, menyampaikan pemaparan ringkas mengenai ujian (mihnah) ini:
قال كعب : غزا النبي صلى الله عليه وسلم تلك الغزوة، حين طابت الثمار، فتجهز رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وتجهز المسلمون معه ، ولم أتجهز وأقول في نفسي سألحق بهم حتى إذا خرجوا ظننت أني مدركهم، وليتني فعلت ، فلما انفرط الأمر ، أصبحت وحدي بالمدينة لا أرى إلا رجلاً مغموصاً عليه في النفاق – أي مشهورا به – أو رجلاً ممن عذر الله من الضعفاء، فلما بلغني أن رسول الله صلى الله عليه وسلم عاد راجعا من تبوك حضرني الفزع، فجعلت أتذكر الكذب، وأقول : بماذا أخرج من سخط رسول الله ؟ واستعين على ذلك بكل ذي رأي من أهلي ، فلما دنا رسول الله صلى الله عليه وسلم من المدينة، زال عني الباطل، وعلمت أني لا أنجو منه إلا بالصدق، فأجمعت أن أصدقه .
Ka‘b berkata: “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melakukan peperangan tersebut ketika buah-buahan telah ranum (siap panen). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun bersiap-siap, dan kaum muslimin juga bersiap-siap bersama beliau. Sementara aku, aku tidak bersiap-siap dan berkata di dalam hatiku: ‘Aku akan menyusul mereka nanti’, hingga ketika mereka telah berangkat, aku mengira bahwa aku dapat menyusul mereka, dan andai saja aku melakukannya. Namun ketika perkara itu telah terlewat, aku mendapati diriku sendirian di Madinah dan tidak melihat kecuali seorang pria yang dituduh munafik—maksudnya populer dengan kemunafikannya—atau pria di antara orang-orang lemah yang telah Allah beri uzur. Maka ketika telah sampai kabar kepadaku bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah dalam perjalanan kembali dari Tabuk, datanglah rasa takut kepadaku, sehingga aku mulai memikirkan kedustaan, dan aku berkata: ‘Dengan apa aku bisa keluar dari kemurkaan Rasulullah?’ Dan aku meminta bantuan untuk memikirkan hal itu kepada setiap orang yang pandai dari kalangan keluargaku. Namun ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah dekat dengan Madinah, lenyaplah kebatilan itu dari diriku, dan aku tahu bahwa aku tidak akan selamat dari beliau kecuali dengan kejujuran, maka aku memantapkan tekad untuk berkata jujur kepada beliau.”
فلما وصل رسول الله صلى الله عليه وسلم للمدينة بدأ بالمسجد وجلس للناس ، فجاء المخلفون وجعلوا يعتذرون له ويحلفون، فيقبل منهم ظواهرهم ويستغفر لهم ، وكانوا بضعا وثمانين رجلاًَ ، فجئت فسلمت عليه، فتبسم تبسم المغضب ، فقال لي ، ما خلفك ؟ قلت: يا رسول الله والله لو جلست إلى غيرك من أهل الدنيا ، لخرجت من سخطه بعذر ولقد أعطيت جدلاً ، والله ما كان لي عذر حين تخلفت عنك، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أما هذا فقد صدق ، فقم حتى يقضي الله فيك .
“Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, beliau memulainya dengan mendatangi masjid lalu duduk menemui orang-orang. Maka datanglah orang-orang yang tertinggal tersebut dan mereka mulai mengemukakan uzur kepada beliau serta bersumpah, lalu beliau menerima apa yang tampak dari mereka dan memohonkan ampunan untuk mereka, dan jumlah mereka ada delapan puluh sekian orang pria. Kemudian aku datang lalu mengucapkan salam kepada beliau, maka beliau tersenyum dengan senyuman orang yang marah. Beliau bersabda kepadaku: ‘Apa yang membuatmu tertinggal?’ Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, sekiranya aku duduk di hadapan penduduk dunia selain engkau, niscaya aku akan keluar dari kemurkaannya dengan mengemukakan alasan, dan sungguh aku telah dianugerahi kemampuan berdebat. Demi Allah, tidak ada uzur bagiku sama sekali ketika aku tertinggal darimu.’ Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Adapun orang ini, maka ia telah berkata jujur. Berdirilah sampai Allah memberikan keputusan kepadamu’.”
فخرجت من عنده فلحقني بعض أهلي يلوموني على أني لم أعتذر، ويستغفر لي رسول الله صلى الله عليه وسلم ، حتى هممت أن أرجع عن صدقي، فسألت هل قال أحد بمثل ما قلت؟ فذكروا لي رجلين صالحين: مرارة بن الربيع و هلال بن أبي أمية وكان فيهما لي أسوة .
“Maka aku keluar dari hadapan beliau, lalu beberapa orang keluargaku menyusulku dan mencelaku atas sikapku yang tidak mengemukakan uzur agar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memohonkan ampunan untukku, hingga aku sempat berkeinginan untuk menarik kembali kejujuranku. Lalu aku bertanya: ‘Apakah ada seseorang yang mengatakan perkataan seperti apa yang aku katakan?’ Maka mereka menyebutkan kepadaku dua orang pria yang saleh: Murarah bin ar-Rabi‘ dan Hilal bin Abi Umayyah, dan pada diri keduanya terdapat teladan (uswah) bagiku.”
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply