الثلاثة الذين خلفوا
Tiga Orang yang Ditinggalkan (Bagian Kedua / Terakhir)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tiga Orang yang Ditinggalkan (Bagian Kedua / Terakhir) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
ثم إن رسول الله نهى عن محادثتنا نحن الثلاثة ، فاجتبنا الناس ، وتغيروا لنا ، فتنكرت لي نفسي والأرض ، أما صاحبيّ فاستكانا وقعدا في بيتيهما ، أما أنا فأصلى مع المسلمين وأطوف الأسواق ولا يكلمني أحد حتى أقاربي .
“Kemudian Rasulullah melarang orang-orang untuk berbicara dengan kami bertiga. Maka manusia pun menjauhi kami dan sikap mereka berubah terhadap kami, hingga seolah-olah diriku dan bumi ini terasa asing bagiku. Adapun kedua kawanku, mereka menyerah lalu duduk berdiam diri di rumah mereka masing-masing. Sedangkan aku, aku tetap keluar untuk melaksanakan shalat berjamaah bersama kaum muslimin dan berkeliling di pasar-pasar, namun tidak ada seorang pun yang mengajakku berbicara, bahkan termasuk kerabat dekatku sendiri.”
بينما أنا في هذا الحال إذا جاءت رسالة من ملك غسان يقول لي : الحق بنا نواسيك بعد أن هجرك صاحبك ، قلت: هذا من البلاء أيضا ، فحرقت الرسالة ، فلما مضت أربعون ليلة إذ رسول من النبي صلى الله عليه وسلم يأمرني باعتزال امرأتي فقلت : الحقي بأهلك ، وكان الأمر باعتزال النساء لصاحبيّ أيضاً .
“Tatkala aku berada dalam kondisi demikian, tiba-tiba datang sebuah surat dari Raja Ghassan yang berbunyi: ‘Bergabunglah bersama kami, niscaya kami akan menghiburmu setelah sahabatmu (Rasulullah) mengacuhkanmu.’ Aku berkata dalam hati: ‘Ini juga termasuk bagian dari ujian (balaa’).’ Lalu aku membakar surat tersebut. Ketika telah berlalu empat puluh malam, tiba-tiba datang utusan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan agar aku menjauhi (tidak menggauli) istriku. Maka aku berkata kepada istriku: ‘Kembalilah kepada keluargamu.’ Dan perintah untuk menjauhi istri ini juga berlaku bagi kedua kawanku.”
فلما مضت خمسون ليلة أذن الله بالفرج وجاءت التوبة ، قال كعب: فما أنعم الله علي بنعمة بعد الإسلام ، أعظم في نفسي من صدقي رسول الله صلى الله عليه وسلم يومئذ ، و الله ما أعلم أحداً ابتلاه الله بصدق الحديث بمثل ما ابتلاني .
“Maka setelah genap berlalu lima puluh malam, Allah mengizinkan datangnya jalan keluar dan turunlah tobat tersebut. Ka‘b berkata: ‘Tidak ada nikmat yang Allah anugerahkan kepadaku setelah nikmat Islam yang lebih besar dalam jiwaku daripada kejujuranku kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada hari itu. Dan demi Allah, aku tidak mengetahui seorang pun yang Allah uji dalam hal kejujuran ucapan dengan ujian yang serupa seperti yang Allah ujikan kepadaku’.”
والآيات التي نزلت في توبتهم هي قوله تعالى :
Dan ayat-ayat yang turun berkenaan dengan tobat mereka adalah firman Allah Ta‘aala:
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ * يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ [التوبة: 118-119]
“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit pula bagi mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [At-Taubah: 118-119]
وهكذا أزاح الله هذه الغشاوة المحزنة عن هؤلاء النفر الثلاثة، بعدما كادوا يقعون في الهلاك بسبب تخلفهم عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فضاقت عليهم الأرض رغم رحابتها، وضاقت عليهم أنفسهم، فعلموا أن الملجأ من الله لا يتم إلا بالعودة إليه، فاستجاب الله لهم ،وغفر زلتهم، وهذه القصة اشتملت على فوائد و عبر كثيرة :
Demikianlah Allah menyingkap tabir duka yang menyedihkan ini dari ketiga orang tersebut, setelah mereka hampir saja terjerumus ke dalam kebinasaan akibat kelalaian mereka dari menyertai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka bumi terasa sempit bagi mereka meskipun sangat luas, dan jiwa mereka pun terasa sempit, hingga mereka mengetahui bahwa tempat berlindung dari kemurkaan Allah tidak akan terwujud kecuali dengan kembali bersimpuh kepada-Nya. Maka Allah mengabulkan doa mereka dan mengampuni kesalahan mereka. Kisah ini mengandung banyak faedah dan pelajaran (‘ibar) yang berharga:
منها: أن القعود عن الجهاد عند استنفار الإمام يعد إثما كبيرا في الإسلام تجب التوبة منه .
Di antaranya: Bahwa berdiam diri tidak ikut berjihad ketika imam telah menyerukan mobilisasi umum terhitung sebagai dosa besar dalam Islam yang wajib untuk ditobati.
ومنها: تعامل الصحابة مع أمر النبي صلي الله عليه وسلم، وتنفيذهم له ،حتى ولو كان الأمر يتعلق بأقاربهم .
Di antaranya: Sikap para shahabat dalam berinteraksi dengan perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta kepatuhan mereka dalam melaksanakannya, meskipun perintah tersebut berkaitan dengan kerabat dekat mereka sendiri.
ومنها: ولاء الصحابة الصادق لله ،فرغم فداحة الحادثة وصعوبة المقاطعة لم يفكركعب بن مالك في اللحاق بالكافرين ولم يلتفت إلى عرضهم .
Di antaranya: Loyalitas (walaa’) para shahabat yang jujur kepada Allah. Sebab meskipun peristiwa tersebut sangat berat dan boikot yang dialami sangat sulit, Ka‘b bin Maalik sama sekali tidak pernah berpikir untuk bergabung dengan orang-orang kafir dan tidak menoleh sedikit pun pada tawaran mereka.
ومنها: قيمة الصدق في الإسلام ، وكيف أن الصدق هدى الثلاثة إلى البر ورضوان الله، اللهم ارزقنا الصدق، واحشرنا مع الصديقين .
Di antaranya: Nilai luhur dari sebuah kejujuran dalam Islam, serta bagaimana kejujuran tersebut menuntun ketiga orang ini menuju kebaikan (al-birr) dan keridhaan Allah. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kejujuran, dan kumpulkanlah kami kelak bersama orang-orang yang jujur (as-shiddiiqiin).
والله أعلم .
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply