Faedah dan Pelajaran dari Perang Uhud (1)



فوائد ودروس من غزوة أحد

Faedah dan Pelajaran dari Perang Uhud (Bagian Pertama)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Faedah dan Pelajaran dari Perang Uhud (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

بعد الانتصار الذي حققه المسلمون في غزوة بدر ، شاء الله أن يمتحن عباده المؤمنين، ليميز الصادقين من المنافقين ، فكانت غزوة أحد التي حصل فيها ما حصل للرسول – صلى الله عليه وسلم – ومن معه من الصحابة ، وأنزل الله على إثرها آيات تتلى إلى يوم الدين ، فنزلت ثمان وخمسون آية من سورة آل عمران ، تتحدث عن هذه الغزوة ، ابتدأت بذكر أول مرحلة من مراحل الإعداد للمعركة في قوله تعالى :

Setelah kemenangan yang diraih kaum muslimin dalam Perang Badar, Allah menghendaki untuk menguji hamba-hamba-Nya yang beriman, guna membedakan antara orang-orang yang jujur dengan orang-orang munafik. Maka terjadilah Perang Uhud (ghazwat uhud), yang di dalamnya terjadi apa yang telah terjadi pada diri Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat yang bersama beliau. Allah menurunkan ayat-ayat setelah peristiwa tersebut yang terus dibaca hingga hari kiamat. Maka turunlah lima ayat dari Surah Ali ‘Imran yang berbicara tentang peperangan ini, yang dimulai dengan penyebutan tahapan pertama dari tahapan-tahapan persiapan pertempuran dalam firman Allah Ta‘aala:

وَإِذْ غَدَوْتَ مِنْ أَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِينَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ [آل عمران: 121]

“Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari keluargamu menetapkan para mukmin pada tempat menyediakan tempat-tempat pertempuran” [Ali ‘Imran: 121]

وانتهت بالتعليق الجامع على نتائج المعركة ، والحكم التي أرادها الله منها فقال سبحانه :

Dan diakhiri dengan ulasan komprehensif mengenai hasil pertempuran serta hikmah-hikmah yang Allah kehendaki di balik peristiwa tersebut, di mana Allah Subhanahu berfirman:

مَّا كَانَ اللَّهَ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَا أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ الْخَبِثَ مِنَ الطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى الْغَيْبِ [آل عمران: 179]

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan yang kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik. Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib” [Ali ‘Imran: 179]

لقد وصفت هذه الآيات المعركة وصفاً دقيقاً ، وسلطت الضوء على خفايا النفوس ، ودخائل القلوب ، وكان فيها تربية للأمة في كل زمان ومكان ، ودروساً تتوارثها الأجيال تلو الأجيال ، وهذه لمحة خاطفة عن بعض الفوائد والحكم الربانية المستفادة من هذه الغزوة العظيمة .

Sungguh ayat-ayat ini telah menggambarkan jalannya pertempuran dengan penggambaran yang sangat akurat, serta menyoroti rahasia-rahasia jiwa dan isi hati. Di dalamnya terdapat pendidikan bagi umat di setiap waktu dan tempat, serta pelajaran-pelajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dan ini adalah sekilas pandang mengenai sebagian faedah dan hikmah rabbani yang dapat dipetik dari peperangan yang agung ini.

ففي غزوة أحد ظهر أثر المعصية والفشل والتنازع في تخلف النصر عن الأمة ، فبسبب معصية واحدة خالف فيها الرماة أمر النبي صلى الله عليه وسلم ، وبسب التنازع والاختلاف حول الغنائم ، ذهب النصر عن المسلمين بعد أن انعقدت أسبابه ، ولاحت بوادره ، فقال سبحانه :

Maka dalam Perang Uhud, tampaklah dampak dari perbuatan maksiat, kegagalan, dan perselisihan yang mengakibatkan tertundanya kemenangan bagi umat. Disebabkan oleh satu kemaksiatan di mana para pasukan pemanah (rumat) melanggar perintah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, serta akibat perselisihan dan perbedaan pendapat mengenai harta rampasan perang (ghana’im), hilangnya kemenangan dari kaum muslimin setelah sebab-sebabnya sempat terpenuhi dan tanda-tandanya telah tampak jelas. Allah Subhanahu berfirman:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ ۚ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِمنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ [آل عمران: 152]

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antaramu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu.” [Ali ‘Imran: 152]

فكيف ترجو أمة عصت ربها ، وخالفت أمر نبيها ، وتفرقت كلمتها أن يتنزل عليها نصر الله وتمكينه ؟ .

Maka bagaimana mungkin suatu umat dapat mengharapkan turunnya pertolongan Allah dan kejayaan dari-Nya, sementara mereka mendurhakai Tuhan mereka, menyelisihi perintah Nabi mereka, and terpecah belah barisan kalimat mereka?

وهذه الغزوة تعلمنا كذلك خطورة إيثار الدنيا على الآخرة ، وأن ذلك مما يفقد الأمة عون الله ونصره وتأييده ، قال ابن مسعود : ” ما كنت أرى أحداً من أصحاب رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يريد الدنيا حتى نزل فينا يوم أحد { مِـنْـكُـمْ مَـنْ يُـرِيـدُ الـدُّنْـيَـا وَمِـنْـكُـمْ مَـنْ يُـرِيـدُ الْآخِـرَةَ } ” ، وفي ذلك درس عظيم يبين أن حب الدنيا والتعلق بها قد يتسلل إلى قلوب أهل الإيمان والصلاح ، وربما خفى عليهم ذلك ، فآثروها على ما عند الله ، مما يوجب على المرء أن يتفقد نفسه وأن يفتش في خباياها ، وأن يزيل كل ما من شأنه أن يحول بينها وبين الاستجابة لأوامر الله ونواهيه .

Dan peperangan ini juga mengajarkan kepada kita tentang bahayanya mengutamakan dunia di atas akhirat, dan bahwasanya hal tersebut termasuk perkara yang melenyapkan pertolongan, kemenangan, serta dukungan Allah bagi umat. Ibnu Mas’ud berkata: “Aku sebelumnya tidak mengira ada seorang pun di antara para shahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menginginkan dunia, hingga turunlah ayat mengenai kami pada hari Uhud: ‘Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antaramu ada orang yang menghendaki akhirat’.” Di dalam hal ini terdapat pelajaran yang sangat agung yang menjelaskan bahwasanya cinta dunia dan keterikatan kepadanya terkadang dapat menyusup ke dalam hati orang-orang yang memiliki keimanan dan kesalehan, dan barangkali hal tersebut samar bagi mereka sehingga mereka mengutamakannya di atas apa yang ada di sisi Allah. Hal ini mewajibkan seseorang untuk senantiasa memeriksa dirinya sendiri, mengamati apa yang tersembunyi di dalamnya, serta melenyapkan segala hal yang berpotensi menghalangi dirinya dari menyambut perintah-perintah Allah dan larangan-larangan Nya.

ومن الحكم إكرام الله بعض عباده بنيل الشهادة ، التي هي من أعلى المراتب والدرجات ، فأراد عز وجل أن يتخذ من عباده شهداء تراق دماؤهم في سبيله ، ويؤثرون محبته ورضاه على نفوسهم ، قال سبحانه :

Dan di antara hikmah-hikmahnya adalah pemuliaan Allah terhadap sebagian hamba-Nya dengan meraih mati syahid (syahaadah), yang mana ia termasuk kedudukan dan tingkatan yang paling tinggi. Maka Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki untuk mengambil di antara hamba-hamba-Nya sebagai para syuhada yang ditumpahkan darah mereka di jalan-Nya, serta mengutamakan kecintaan dan keridhaan-Nya di atas diri mereka sendiri. Allah Subhanahu berfirman:

وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَاءَ [آل عمران: 140]

“dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.” [Ali ‘Imran: 140]

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.