متى يجب الإمساك؟ وهل يجب قبل أذان الفجر؟
Kapan Wajib Imsak? Dan Apakah Wajib Dilakukan Sebelum Adzan Fajar?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Kapan Wajib Imsak? Dan Apakah Wajib Dilakukan Sebelum Adzan Fajar? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
هناك من يقول: إن الإمساك يكون عند أذان الفجر الثاني؛ استدلالاً بحديث سيدنا محمد عليه أفضل الصلاة والسلام: إن بلالًا يؤذن بليل، فكلوا واشربوا حتى تسمعوا تأذين ابن أم مكتوم ـ علمًا بأن موعد أذان الفجر الرسمي، والذي بينه وبين إقامة الصلاة 30 دقيقة هو: 3:51 ص ـ وموعد الأذان الثاني قبل موعد الإقامة بـ 15 دقيقة، أي الساعة ـ 4:07 ص ـ أرجو من فضيلتكم توضيح هذا الأمر -بارك الله فيكم-.
Ada yang mengatakan bahwa imsak (mulai menahan diri dari makan/minum) adalah saat adzan Fajar kedua; dengan berdalil pada hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah kalian sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.” Perlu diketahui bahwa jadwal adzan Fajar resmi (yang berjarak 30 menit dari iqamah) adalah pukul 03:51, sedangkan jadwal adzan kedua adalah 15 menit sebelum iqamah, yaitu pukul 04:07. Saya mohon penjelasan dari Anda mengenai hal ini —semoga Allah memberkahi Anda—.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya. Amma ba’du:
فالإمساك عن المفطرات من أكل، وشرب، ونحوهما إنما يجب عند طلوع الفجر الصادق، قال تعالى:
Menahan diri (imsak) dari hal-hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, dan semisalnya hanyalah wajib ketika terbit fajar shadiq. Allah Ta’ala berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ {البقرة:187}.
“Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam.” {Al-Baqarah: 187}.
فأي الأذانين عندكم يرفع مع طلوع الفجر الصادق، فهو الذي يجب الإمساك عنده،
Maka, adzan mana pun di antara keduanya yang dikumandangkan tepat saat terbit fajar shadiq, itulah saat yang diwajibkan untuk mulai menahan diri (imsak).
وما كان منهما يتقدم على طلوع الفجر، فلا يجب الإمساك عنده، ولا ينبغي تعمد إيقاع الأذان الثاني قبل طلوع الفجر بدعوى الاحتياط للصوم، لأن ذلك من البدع المحدثة،
Sedangkan adzan yang dikumandangkan sebelum terbit fajar, maka tidak wajib imsak padanya. Tidak semestinya sengaja mengumandangkan adzan kedua sebelum terbit fajar dengan alasan “kehati-hatian” (ihtiyat) dalam puasa, karena hal tersebut termasuk bid’ah yang diada-adakan.
كما نبه عليه الحافظ ابن حجر في فتح الباري حيث قال:
Sebagaimana telah diperingatkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari, di mana beliau berkata:
«تَنْبِيهٌ مِنَ الْبِدَعِ الْمُنْكَرَةِ مَا أُحْدِثَ فِي هَذَا الزَّمَانِ مِنْ إِيقَاعِ الْأَذَانِ الثَّانِي قَبْلَ الْفَجْرِ بِنَحْوِ ثُلُثِ سَاعَةٍ فِي رَمَضَانَ وَإِطْفَاءِ الْمَصَابِيحِ الَّتِي جُعِلَتْ عَلَامَةً لِتَحْرِيمِ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ عَلَى مَنْ يُرِيدُ الصِّيَامَ زَعْمًا مِمَّنْ أَحْدَثَهُ أَنَّهُ لِلِاحْتِيَاطِ فِي الْعِبَادَةِ…»
“Peringatan: termasuk bid’ah munkarah (bid’ah yang diingkari) adalah apa yang diada-adakan pada zaman ini berupa pengumandangan adzan kedua sebelum fajar sekitar sepertiga jam (20 menit) di bulan Ramadan, serta mematikan lampu-lampu yang dijadikan tanda haramnya makan dan minum bagi orang yang hendak berpuasa, dengan klaim dari pembuatnya bahwa hal itu demi kehati-hatian dalam ibadah…”
«… وَقَدْ جَرَّهُمْ ذَلِكَ إِلَى أَنْ صَارُوا لَا يُؤَذِّنُونَ إِلَّا بَعْدَ الْغُرُوبِ بِدَرَجَةٍ لِتَمْكِينِ الْوَقْتِ زَعَمُوا فَأَخَّرُوا الْفِطْرَ وَعَجَّلُوا السُّحُورَ وَخَالَفُوا السُّنَّةَ فَلِذَلِكَ قَلَّ عَنْهُمُ الْخَيْر وَكثير فِيهِمُ الشَّرُّ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ» انتهى.
“…Hal itu telah menyeret mereka hingga mereka tidak mengumandangkan adzan kecuali setelah matahari terbenam agak lama (dengan alasan) untuk memantapkan waktu menurut klaim mereka. Akibatnya, mereka mengakhirkan berbuka puasa dan menyegerakan sahur, sehingga mereka menyelisihi sunnah. Oleh karena itu, kebaikan pada mereka menjadi sedikit dan keburukan pada mereka menjadi banyak. Wallahul Musta’aan (Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan).” (Selesai).
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply