Bacalah, dan Robb-mulah Yang Maha Mulia



اقرأ وربك الأكرم

Bacalah, dan Robb-mulah Yang Maha Mulia

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Bacalah, dan Robb-mulah Yang Maha Mulia ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an

الآيات الخمس الأُوَل من سورة (العلق) أول ما نزل من القرآن، في قول أكثر المفسرين، نزل بها جبريل الأمين على النبي خاتم المرسلين، عليه الصلاة وأتم التسليم، وهو قائم في غار حراء يتعبد.

Lima ayat pertama dari Suurah al ‘Alaq adalah apa yang pertama kali turun dari al Qur’an menurut pendapat mayoritas mufasir. Jibril al Amiin turun membawanya kepada Nabi penutup para Rasul, ‘alaihis shalaatu wa atammut tasliim, saat beliau sedang berada di Gua Hira untuk beribadah.

ومع أن هذا النص القرآني الكريم قد صِيغَ بعبارات وجيزة، وكلمات بليغة، غير أنه تضمن من الحقائق والمعاني الكثير، وهو ما نحاول بسط القول فيه في هذه السطور:

Meskipun teks al Qur’ani yang mulia ini disusun dengan ungkapan-ungkapan yang ringkas dan kata-kata yang baliigh (mendalam), ia mengandung banyak fakta dan makna. Inilah yang akan coba kami uraikan dalam baris-baris berikut ini:

روى البخاري في “صحيحه” عن عائشة رضي الله عنها، قالت: أول ما بدئ به رسول الله صلى الله عليه وسلم الرؤيا الصادقة، فجاءه المَلَك، فقال:

al Bukhaariy meriwayatkan dalam Shahiih-nya dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa, ia berkata: “Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar, lalu datanglah Malaikat dan berkata:”

{اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ} [العلق: 1]

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” [al ‘Alaq: 1]

{خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ} [العلق: 2]

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” [al ‘Alaq: 2]

{اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكرمُ} [العلق: 3]

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.” [al ‘Alaq: 3]

وافتتاح السورة بكلمة {اقرأ} إيذان بأنه صلى الله عليه وسلم سيكون قارئًا، ومن ثَمَّ هو خطاب لأمته من بعده لتقوم بهذا الأمر الذي هو مفتاح كل خير.

Dibukanya surah dengan kata {Bacalah} adalah pemberitahuan bahwasanya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam akan menjadi seorang pembaca, dan karenanya ini merupakan seruan bagi umatnya setelah beliau untuk melaksanakan perintah ini yang merupakan kunci dari segala kebaikan.

ويُلْحظ في الآيات الكريمة تكرار لفظ {اقرأ} مرتين، ولهذا التكرار وظيفته في الخطاب القرآن، وهو يدل هنا على أمرين اثنين، يفيدهما السياق الذي وردت فيه الآيات:

Dapat diperhatikan dalam ayat-ayat yang mulia ini pengulangan lafaz {Bacalah} sebanyak dua kali. Pengulangan ini memiliki fungsinya sendiri dalam khithab al Qur’ani, yang mana di sini menunjukkan dua perkara yang didapatkan dari konteks ayat tersebut:

الأول: ارتباط القراءة والأمر بها بنعمة الخلق والإيجاد؛ وهذا مستفاد من قوله سبحانه: {اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ * خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ}.

Pertama: Hubungan antara aktivitas membaca dan perintahnya dengan nikmat penciptaan dan pengadaan; hal ini diambil faedahnya dari firman-Nya Subhaanahu: {Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah}.

والثاني: ارتباط القراءة بنعمة الإمداد والإكرام، وهذا مستفاد من قوله تعالى: {اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ}.

Kedua: Hubungan aktivitas membaca dengan nikmat pemberian dan kemuliaan; hal ini diambil faedahnya dari firman-Nya Ta’ala: {Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia}.

والمعنى وَفق هذا الارتباط المشار إليه: أن الذي خلق الإنسان يأمره بالقراءة؛ لأنها حق الخالق، إذ بها يُعرف؛ وإن ممارسة هذه القراءة هي صورة من صور الشكر للخالق، لأنها قراءة لاسمه، وباسمه، ومع اسمه {اقْرأ باسم ربك الذي خلق} إذ إن غاية القراءة معرفة الله تعالى، ووسيلتها النظر والتحري في آياته سبحانه المقروءة والمنشورة.

Maknanya menurut hubungan yang diisyaratkan ini adalah: Bahwa Dzat yang menciptakan manusia memerintahkannya untuk membaca; karena itu adalah hak Sang Pencipta (al Khaaliq), sebab dengannya Dia dikenal. Sesungguhnya mempraktikkan pembacaan ini merupakan salah satu bentuk syukur kepada Sang Pencipta, karena ia adalah pembacaan terhadap nama-Nya, dengan nama-Nya, dan bersama nama-Nya {Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan}. Sebab tujuan dari membaca adalah mengenal Allah Ta’ala, dan sarananya adalah melihat serta meneliti ayat-ayat-Nya Subhaanahu baik yang tertulis maupun yang terbentang.

ثم إن (الواو) في قوله سبحانه: {اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ} أقرب ما تكون إلى معنى المعية، ذلك أن القارئ باسم الله لا يقرأ وحيدًا دون مساعدة، ومعونة ربانية، وإنما يقرأ بعين وعون من الله سبحانه {اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ} فهو معك يُعينك، يهديك، يصنعك {وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي} (طه:39).

Kemudian sesungguhnya huruf Waw dalam firman-Nya Subhaanahu: {Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia} maknanya paling dekat dengan makna kebersamaan (ma’iyyah). Hal itu karena pembaca dengan nama Allah tidak membaca sendirian tanpa bantuan dan pertolongan Rabbaaniyyah, melainkan ia membaca dengan pengawasan dan bantuan dari Allah Subhaanahu {Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia}. Maka Dia bersamamu membantu dirimu, memberi hidayah kepadamu, dan membentuk dirimu {dan supaya kamu dibentuk di atas mata-Ku (pengawasan-Ku)} (Thaha: 39).

وكرمه سبحانه من رحمته، وهذه الرحمة تتجلى في نعمة التعليم بعد الخلق، وهكذا تتلازم صفتا العلم والرحمة منذ بداية الوحي القرآني إلى منتهاه. وإذا كان المعنى الأصلي للقراءة الجمع، فهي إذن قراءة جامعة لكل الخير والبر والإحسان والعرف والمعروف والصدق والحق والهدى والنور والرشاد في القرآن.

Kemuliaan-Nya Subhaanahu adalah bagian dari rahmat-Nya, dan rahmat ini mewujud dalam nikmat pengajaran setelah penciptaan. Demikianlah dua sifat, ilmu dan rahmat, senantiasa beriringan sejak awal wahyu al Qur’ani hingga akhirnya. Dan jika makna asli dari membaca (qiraa-ah) adalah menghimpun (al jam’u), maka ia adalah pembacaan yang menghimpun segala kebaikan, kebajikan (al birr), ihsaan, pengetahuan, kemakrufan, kejujuran, kebenaran (haqq), hidayah, cahaya, dan petunjuk dalam al Qur’an.

ثم إن الأمر بالقراءة جاء عامًا في الموضعين من السورة الكريمة، دون تحديد لطبيعة المقروء، وقد ذهب المفسرون إلى حصر المفعول بالقرآن، على معنى: اقرأ ما أُنزل عليك من القرآن؛ وإذا صح لنا الأخذ بعموم اللفظ، جاز لنا القول: إن الأمر بالقراءة يفيد قراءة كتاب الله المسطور (القرآن) وكتاب الله المنشور (الأكوان).

Kemudian sesungguhnya perintah membaca datang secara umum pada kedua tempat di surah yang mulia ini, tanpa pembatasan terhadap objek yang dibaca. Sebagian mufasir berpendapat membatasi objeknya pada al Qur’an, dengan makna: bacalah apa yang diturunkan kepadamu dari al Qur’an. Namun jika diperbolehkan bagi kita mengambil keumuman lafaz, maka kita boleh mengatakan: Bahwa perintah membaca memberikan faedah pembacaan terhadap kitab Allah yang tertulis (al Qur’an) dan kitab Allah yang terbentang (alam semesta).

واعلم أن للعلماء توجيهات وآراء في معنى الباء الواردة في قوله تعالى: {بِاسْمِ رَبِّكَ} نمسك عن الخوض فيها، إذ ليس المقام مقامها. ويحسن القول هنا: إن الأمر بالقراءة ابتداء يجب اعتباره أهم وأكبر مفصل من مفاصل التاريخ البشري، ولهذا دلالته في تاريخ الأمم والشعوب، كما لا يخفاك.

Ketahuilah bahwasanya para ulama memiliki beberapa penjelasan dan pendapat mengenai makna huruf Ba yang terdapat dalam firman-Nya Ta’ala: {dengan nama Tuhanmu}, namun kami menahan diri untuk tidak membahasnya karena di sini bukan tempat pembahasannya. Adalah baik untuk dikatakan di sini: Sesungguhnya perintah membaca pada permulaannya harus dianggap sebagai titik balik terpenting dan terbesar dalam sejarah manusia. Hal ini memiliki indikasi yang kuat dalam sejarah umat dan bangsa, sebagaimana yang tidak tersembunyi bagimu.

وأنت خبير أن القراءة في كتاب الله المسطور، لا تنفصل في وجودها وأهميتها عن الكتابة، التي احتوتها آيات أُخر من كتاب الله المجيد، وهي قوله تعالى:

Engkau tentu memahami bahwasanya membaca dalam kitab Allah yang tertulis tidak dapat dipisahkan keberadaan dan kepentingannya dari aktivitas menulis, yang telah dikandung oleh ayat-ayat lain dalam Kitab Allah yang mulia, yaitu firman-Nya Ta’ala:

{ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ} [القلم: 1]

“Nuun, demi pena dan apa yang mereka tulis.” [al Qalam: 1]

فإذا كانت آيات سورة العلق فيها دعوة للقراءة، وحث عليها، لكشف آيات الله في الآفاق والأنفس، فإن آية سورة القلم فيها بيان وتعظيم لوسيلة القراءة وما به تكون، وكلاهما معًا طريق لمعرفة الخالق سبحانه وتعالى.

Jika ayat-ayat Suurah al ‘Alaq mengandung ajakan dan anjuran untuk membaca guna menyingkap tanda-tanda kebesaran Allah di segenap ufuk dan dalam diri manusia, maka ayat Suurah al Qalam mengandung penjelasan dan pengagungan terhadap sarana membaca dan apa yang digunakan untuk melakukannya. Keduanya secara bersama-sama merupakan jalan untuk mengenal Sang Pencipta Subhaanahu wa Ta’ala.

وختامًا: فإننا أمة قد نسيت أو تناست القراءة منذ زمن، وقد طال هذا النسيان، ونسيانها أو تناسيها مرض مزمن معقد حار الأطباء – على اختلاف اختصاصاتهم – في تشخيصه، فكيف في إيجاد العلاج له ؟ فهل إلى خروج من سبيل؟!

Sebagai penutup: Sesungguhnya kita adalah umat yang telah lupa atau pura-pura lupa akan aktivitas membaca sejak lama, dan masa lupa ini telah berlangsung sangat lama. Melupakan atau berpura-pura lupa ini adalah penyakit kronis yang rumit yang membuat para dokter —dengan berbagai spesialisasi mereka— kebingungan dalam mendiagnosisnya, apalagi dalam menemukan obatnya. Maka adakah jalan untuk keluar dari kondisi ini?

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb

 

 



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.