Sesungguhnya Aku Dekat dan Mengabulkan Doa



فإني قريب أجيب

Sesungguhnya Aku Dekat dan Mengabulkan Doa

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Sesungguhnya Aku Dekat dan Mengabulkan Doa ini masuk dalam Kategori Tadabbur al Qur’an

دعوة القرآن إلى الدعاء والحث عليه وردت في مواضع عديدة من كتاب الله، نختار منها قوله تعالى:

Seruan al Qur’an terhadap du’a dan anjuran untuk melakukannya telah disebutkan di berbagai tempat dalam kitab Allah, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ} [البقرة: 186]

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” [al Baqarah: 186]

وقوله سبحانه:

Dan firman-Nya Subhaanahu:

{ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً} [الأعراف: 55]

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” [al A’raf: 55]

وقوله جلا وعلا:

Dan firman-Nya Jalla wa ‘Alaa:

{وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} [غافر: 60]

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.’” [Ghafir: 60]

وغير ذلك من الآيات الداعية إلى الدعاء. والدعاء من جهة اللغة يطلق على سؤال العبد من الله حاجته، ويطلق من جهة الشرع على معان عدة، منها العبادة، وعلى هذا فُسر قوله تعالى: {وقال ربكم ادعوني أستجب لكم} أي: اعبدوني وأخلصوا لي العبادة دون من تعبدون من دوني؛ وعن ثابت، قال: قلت لأنس رضي الله عنه: يا أبا حمزة أبلغك أن الدعاء نصف العبادة ؟ قال: لا، بل هو العبادة كلها.

Dan ayat-ayat lainnya yang menyeru kepada du’a. Du’a dari sisi bahasa dimaknai sebagai permintaan seorang hamba kepada Allah akan hajatnya, sedangkan dari sisi syara’ ia dimaknai dengan beberapa makna, di antaranya adalah ibadah. Atas dasar inilah firman Allah Ta’ala: {Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu} ditafsirkan sebagai: Sembahlah Aku dan ikhlaskanlah ibadah hanya kepada-Ku, bukan kepada selain-Ku. Diriwayatkan dari Tsaabit, ia berkata: Aku bertanya kepada Anas radhiyallaahu ‘anhu: Wahai Abu Hamzah, benarkah sampai kepadamu bahwa du’a itu separuh ibadah? Beliau menjawab: Tidak, bahkan ia adalah ibadah seluruhnya.

وإذ كان الدعاء هو العبادة كما جاء في الحديث، فإن العبادة أيضًا هي الدعاء، إذ لا تخلو عبادة من الدعاء، ولكن ما نريد إدارة الحديث حوله هنا، هو أهمية الدعاء بمعناه الأصلي واللغوي، ونقصد بذلك توجه العباد إلى الله تعالى طلبًا لقضاء الحاجات وكشف الكربات، وهو أمر يكاد يغفل عنه كثير من المسلمين، مع ندب الشرع إليه، وشدة احتياجهم إليه.

Jika du’a adalah ibadah sebagaimana disebutkan dalam hadits, maka ibadah juga adalah du’a, karena tidak ada ibadah yang kosong dari du’a. Namun, yang ingin kita bicarakan di sini adalah pentingnya du’a dalam makna asli dan bahasanya, yaitu menghadapkan diri hamba kepada Allah Ta’ala untuk meminta pemenuhan hajat dan penghilangan kesulitan. Hal ini sering kali dilalaikan oleh banyak kaum Muslimin, padahal syara’ menganjurkannya dan kebutuhan mereka kepadanya sangatlah besar.

فمن فضل الله تبارك وتعالى وكرمه أن ندب عباده إلى دعائه، وتكفل لهم بالإجابة؛ ففي الحديث:

Maka di antara keutamaan Allah Tabaaraka wa Ta’ala dan kemurahan-Nya adalah Dia menganjurkan hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya, dan menjamin bagi mereka pengabulan; sebagaimana dalam hadits:

(يقول الله تعالى: أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه إذا دعاني)

“Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia berdoa kepada-Ku.’” (HR. Muslim)

وفي حديث آخر:

Dan dalam hadits lainnya:

(إن الله تعالى ليستحي أن يبسط العبد إليه يديه يسأله فيهما خيراً فيردهما خائبتين)

“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar malu jika seorang hamba membentangkan kedua tangannya kepada-Nya untuk meminta kebaikan, lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan hampa.” (HR. Ahmad)

ويلاحظ أن طلب الدعاء في الخطاب القرآني جاء مقرونًا ومرتبًا عليه الإجابة؛ فالعلاقة بينهما علاقة السبب بالمسبَّب، والشرط بالمشروط، والعلة بالمعلول، فليس على العبد إلا الالتجاء إلى الله – بعد الأخذ بالأسباب – وطلب العون منه في كل عسر ويسر، وفي المنشط والمكره، ووقت الفرج ووقت الكرب؛ ففي حديث أبي سعيد الخدري رضي الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

Dapat diperhatikan bahwa permintaan du’a dalam khithab al Qur’ani datang bergandengan dan berurutan dengan pengabulannya. Hubungan di antara keduanya adalah hubungan sebab dan akibat, syarat dan yang disyaratkan. Maka tidak ada kewajiban bagi hamba kecuali berlindung kepada Allah —setelah mengambil sebab-sebab— dan meminta pertolongan-Nya dalam setiap kesulitan maupun kemudahan, di saat semangat maupun enggan, serta di waktu luang maupun sempit. Sebagaimana dalam hadits Abu Sa’iid al Khudriy radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(ما من مسلم يدعو بدعوة ليس فيها إثم ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث؛ إما أن يعجل له دعوته، وإما إن يدخر له، وإما إن يكف عنه من السوء بمثلها. قالوا: إذن نكثر ؟ قال: الله أكثر)

“Tidaklah seorang Muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak pula memutus tali silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: disegerakan pengabulan doanya, atau disimpan baginya (di akhirat), atau dipalingkan darinya keburukan yang semisal dengannya. Para shahabat berkata: ‘Kalau begitu kami akan memperbanyak (doa).’ Beliau bersabda: ‘Allah lebih banyak (pemberian-Nya).’” (HR. Ahmad)

وعن أبى هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

Dan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(يستجاب لأحدكم ما لم يعجل، يقول: دعوت فلم يستجب لي)

“Akan dikabulkan bagi salah seorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa, dengan berkata: ‘Aku telah berdoa namun tidak dikabulkan bagiku.’” (HR. al Bukhariy dan Muslim)

قال السدي في تفسير قوله تعالى: {وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع} ليس من عبد مؤمن يدعو الله إلا استجاب له، فإن كان الذي يدعو به هو له رزق في الدنيا أعطاه الله، وإن لم يكن له رزقًا في الدنيا ذخره له إلى يوم القيامة، ودفع عنه به مكروها.

As Suddiy berkata dalam tafsir firman-Nya Ta’ala: {Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa}: Tidaklah seorang hamba mukmin berdoa kepada Allah kecuali Dia akan mengabulkannya. Jika apa yang dia minta adalah rezekinya di dunia, maka Allah akan memberikannya. Jika itu bukan rezekinya di dunia, maka Allah akan menyimpannya untuknya hingga hari kiamat, dan menolak keburukan darinya dengan doa tersebut.

ولسائل أن يسأل: فما لنا ندعو فلا يُستجاب لنا؟ وفي الجواب على هذا نختار ما أجاب به القرطبي عن هذا الإشكال، إذ قال رحمه الله: الجواب أن يُعْلَم أن قوله الحق في الآيتين {أُجيب} و{أستجب} لا يقتضي الاستجابة مطلقًا لكل داع على التفصيل، ولا بكل مطلوب على التفصيل، فقد قال ربنا تبارك وتعالى في آية أخرى: {ادعوا ربكم تضرعًا وخفية إنه لا يحب المعتدين} (الأعراف:55) وكل مصر على كبيرة عالمًا بها أو جاهلاً فهو معتد، وقد أخبر أنه لا يحب المعتدين، فكيف يُستجاب له؛ وأنواع الاعتداء كثيرة.

Dan seseorang mungkin bertanya: Mengapa kita berdoa namun tidak dikabulkan? Sebagai jawaban atas problematika ini, kita memilih jawaban al Qurthubiy, di mana beliau rahimahullaah berkata: Jawabannya adalah harus diketahui bahwa firman-Nya yang benar dalam dua ayat {Aku mengabulkan} dan {akan Kuperkenankan} tidak mengharuskan pengabulan secara mutlak bagi setiap orang yang berdoa secara terperinci, tidak pula untuk setiap yang diminta secara terperinci. Sungguh Tuhan kita Tabaaraka wa Ta’ala telah berfirman dalam ayat lain: {Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas} (al A’raf: 55). Dan setiap orang yang terus-menerus melakukan dosa besar baik ia mengetahuinya maupun tidak, maka ia adalah orang yang melampaui batas (mu’tadin), dan Allah telah mengabarkan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas, maka bagaimana doanya akan dikabulkan? Sedangkan jenis melampaui batas itu sangatlah banyak.

ويمكن أن يقال أيضًا: إن إجابته سبحانه متعلقة بإرادته، فيجيب لمن يشاء من عباده، ويُعْرِض عمن يشاء، لحكمة يريدها الله، يؤيد هذا قوله تعالى:

Dan bisa dikatakan juga: Sesungguhnya pengabulan-Nya Subhaanahu bergantung pada kehendak-Nya, maka Dia mengabulkan bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, dan berpaling dari siapa yang Dia kehendaki, karena hikmah yang Allah inginkan. Hal ini dikuatkan oleh firman-Nya Ta’ala:

{فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ} [الأنعام: 41]

“Maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki.” [al An’am: 41]

والقرآن يفسر بعضه بعضًا. إذا تبين هذا كان من اللازم القول: يمنع من إجابة الدعاء موانع لا بد من مراعاتها والتحفظ منها؛ وهي على العموم فعل كل ما لا يرضي الله سبحانه، كأكل الحرام وما كان في معناه، وفي الحديث أنه صلى الله عليه وسلم ذكر:

Dan al Qur’an itu menafsirkan sebagiannya dengan sebagian yang lain. Jika hal ini telah jelas, maka menjadi suatu keharusan untuk mengatakan: Ada penghalang-penghalang dari pengabulan du’a yang harus diperhatikan dan dihindari. Secara umum adalah melakukan segala hal yang tidak diridhai Allah Subhaanahu, seperti memakan yang haram dan yang semakna dengannya. Dalam hadits disebutkan bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan:

(…الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يا رب يا رب ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام فأنى يستجاب)

“…seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berkata: ‘Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim)

وهذا استفهام على جهة الاستبعاد من قبول دعاء من كانت هذه صفته؛ فإن إجابة الدعاء لا بد لها من شروط في الداعي، وفي الدعاء، وفي الشيء المدعو به. فمن شرط الداعي أن يكون عالمًا أنه لا قادر على قضاء حاجته إلا الله، وأن يدعو بنية صادقة وقلب حاضر، فإن الله لا يستجيب دعاءً من قلب غافل لاه، وأن يكون مجتنبًا لأكل الحرام، وألا يمل من الدعاء. وغير ذلك من الشروط التي فصل العلماء القول فيها.

Ini adalah bentuk pertanyaan yang menunjukkan kemustahilan diterimanya doa orang yang memiliki sifat-sifat tersebut. Karena sesungguhnya pengabulan doa mengharuskan adanya syarat-syarat pada orang yang berdoa, pada doanya, dan pada sesuatu yang diminta dalam doa tersebut. Di antara syarat orang yang berdoa adalah ia mengetahui bahwa tidak ada yang mampu memenuhi hajatnya kecuali Allah, berdoa dengan niat yang jujur dan hati yang hadir, karena Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah, menjauhi makanan haram, serta tidak bosan dalam berdoa. Dan syarat-syarat lainnya yang telah diperinci oleh para ulama.

والذي نخرج به مما تقدم، أن أمر الدعاء في حياة المسلم لا ينبغي أن يُقَلِّل من شأنه، ولا أن يحرم المسلم نفسه من هذا الخير الذي أكرمه الله به، والمسلم حريص على الخير، أولم يقل رسول الله صلى الله عليه وسلم: (واحرص على ما ينفعك) وتأمل في قوله عليه الصلاة والسلام: (احرص) ليتبين لك قيمة هذا الهدي النبوي. ولا شك فإن النفع كل النفع في الدعاء، وخاصة إذا استوفى أسبابه؛ ولعل فيما خُتمت فيه آية البقرة: {لعلهم يرشدون} ما يؤكد هذا المعنى؛ كما أنَّ فيما خُتمت به آية غافر: {إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين} ما يشد من أزر هذا المعنى.

Kesimpulan yang kita peroleh dari penjelasan di atas adalah bahwa perkara du’a dalam kehidupan seorang Muslim tidak boleh diremehkan, dan seorang Muslim jangan sampai mengharamkan dirinya dari kebaikan yang telah Allah muliakan dengannya. Seorang Muslim harus bersemangat atas kebaikan, bukankah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu.” Renungkanlah kata “bersemangatlah” agar jelas bagimu nilai petunjuk nabawi ini. Tidak diragukan lagi bahwa manfaat yang sesungguhnya ada pada du’a, terutama jika telah memenuhi sebab-sebabnya. Mungkin penutup ayat al Baqarah: {agar mereka mendapat petunjuk} menegaskan makna ini; sebagaimana penutup ayat Ghafir: {Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina} memperkuat makna tersebut.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.