شبهات حول بعض مناسك الحج
Syubhat Seputar Beberapa Manasik Haji
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Syubhat Seputar Beberapa Manasik Haji ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Haji
السؤال:
Pertanyaan:
في بداية البعثة النبوية، جاءنا الرسول عليه السلام بالدين الاسلامي، رافضاً كل الآلهة والأصنام التي كانت موجودة في ذلك الوقت، والتي ستأتي لاحقاً، وبعد فرض فريضة الحج كان هناك الطواف، وكان هناك تقبيل الحجر الأسود، وكان هناك رمي الجمار. فالسؤال: لماذا كل هذا؟ وما الفرق بين (تقبيل الحجر الأسود والطواف) و (الشعائر التي كان يفعلها الأعراب عند حجهم إلى البيت العتيق)؟ علماً بأنهم كانوا يفعلون ذلك زلفى “أي تقرباً إلى الله”. أستغفر الله العظيم إن حدت قليلًا عن الدين، وأرجوكم أن تعطوني الجواب الشافي، لأنني في حيرة من أمري.
Pada awal risalah kenabian, Rasulullah ‘alaihis salam datang kepada kita dengan agama Islam, menolak semua tuhan dan berhala yang ada pada saat itu maupun yang akan datang kemudian. Namun, setelah kewajiban haji ditetapkan, di sana terdapat thawaf, mencium Hajar Aswad, dan melempar jamrah. Pertanyaannya: Mengapa semua ini ada? Apa perbedaan antara (mencium Hajar Aswad dan thawaf) dengan (syi‘ar-syi‘ar yang dilakukan orang-orang Arab pedalaman saat mereka berhaji ke Baitul ‘Atiq)? Padahal mereka melakukan hal itu sebagai zulfa, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Saya memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung jika saya sedikit menyimpang dari agama, dan saya mohon jawaban yang memuaskan karena saya merasa bingung.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فقد جاء الإسلام رافضاً كل الآلهة والأصنام التي تعبد من دون الله ومثبتاً الإلهية لله وحده، وهذا مضمون قولنا: لا إله إلا الله – أي لا معبود بحق إلا الله.
Sungguh Islam datang dengan menolak segala tuhan dan berhala yang disembah selain Allah, serta menetapkan uluhiyah hanya bagi Allah semata. Inilah kandungan ucapan kita: La ilaha illallah — artinya tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah.
وحقيقة العبودية تدور حول الامتثال والانقياد لأمر المعبود، وهذا ما دل عليه كل من اللغة والشرع، فالعرب تقول: طريق معبد أي مذلل خاضع، والشرع أمر بإسلام الوجه لله، وقبول ما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم مع التسليم وانتفاء الحرج.
Hakikat ‘ubudiyah (penghambaan) berporos pada kepatuhan dan ketundukan (inqiyad) terhadap perintah Dzat yang disembah. Inilah yang ditunjukkan secara bahasa maupun syara‘. Orang Arab berkata: “jalan yang mu’abbad” artinya jalan yang telah dipermudah dan tunduk (rata). Sedangkan syara‘ memerintahkan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, serta menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kepasrahan dan tanpa rasa keberatan. Allah Ta‘ala berfirman:
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [البقرة: ١١٢]
“(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Al-Baqarah: 112]
وقال تعالى:
Dan Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا [الحشر: ٧]
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” [Al-Hasyr: 7]
وقال تعالى:
Dan Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ [الأحزاب: ٣٦]
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” [Al-Ahzab: 36]
وقال:
Dan Dia berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِِّمُوا تَسْلِيمًا [النساء: ٦٥]
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [An-Nisa: 65]
فمن رضي بالعبودية لله لم يكن له أن يتقدم بين يدي الله سبحانه برأي أو ذوق أو معقول.
Maka barangsiapa yang rida dengan penghambaan kepada Allah, tidak selayaknya baginya untuk mendahului Allah Subhanahu dengan pendapat, selera, atau logika pribadinya. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [الحجرات: ١]
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Hujurat: 1]
ودين الجاهلية مشتمل على ضلالتين في هذا الباب: عبادة غير الله، وابتداع دين لم يأذن به الله. وقد كان المشركون يؤمنون بالله، ويدينون له ببعض العبادات مما ورثوه من دين إبراهيم عليه السلام، لكنهم زادوا فيها ونقصوا، وحرفوا وبدلوا، إضافة إلى شركهم وعبادتهم غير الله.
Agama Jahiliah mengandung dua kesesatan dalam bab ini: menyembah selain Allah dan mengada-ada dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah. Kaum musyrik dahulu beriman kepada Allah dan menjalankan beberapa ibadah yang mereka warisi dari agama Ibrahim ‘alaihis salam, namun mereka menambah, mengurangi, mengubah, dan menggantinya, di samping kesyirikan mereka dalam menyembah selain Allah.
وقد كان المشركون يحجون لله، طوافاً، وسعياً، ونحراً، وحلقاً، ووقوفاً بمزدلفة وعرفة، إلا أن قريشاً ابتدعت ترك الوقوف بعرفة، كما ابتدع الجميع تلبيتهم المشتملة على الشرك، وذلك قولهم: لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك، إلا شريكاً هو لك، تملكه وما ملك.
Kaum musyrik dahulu berhaji karena Allah dengan melakukan thawaf, sa‘i, menyembelih kurban (nahr), mencukur rambut (halq), serta wukuf di Muzdalifah dan Arafah. Hanya saja, kaum Quraisy mengada-ada dengan meninggalkan wukuf di Arafah, sebagaimana mereka semua mengada-ada dalam talbiyah yang mengandung kesyirikan, yaitu ucapan mereka: “Kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang milik-Mu, Engkau menguasainya dan apa yang ia kuasai.”
والحج فريضة الله عز وجل على عباده من أمة محمد صلى الله عليه وسلم، ومن غيرهم من الأمم، فقد حج إبراهيم وإسماعيل وموسى، وقبلهم نوح عليهم السلام، وأخبر نبينا صلى الله عليه وسلم أن عيسى عليه السلام يحج البيت بعد نزوله آخر الزمان.
Haji adalah kewajiban dari Allah ‘Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat-umat lainnya. Sungguh Ibrahim, Isma‘il, dan Musa telah berhaji, dan sebelum mereka ada Nuh ‘alaihimus salam. Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan bahwa ‘Isa ‘alaihis salam akan berhaji ke Baitullah setelah turunnya beliau di akhir zaman.
فلا حرج في وجود هذه الموافقة بين ما يفعله المسلمون في حجهم، وبين أكثر ما كان يفعله المشركون في حجهم، لأنه مما أخذوه عن إبراهيم عليه السلام.
Maka tidak ada masalah dengan adanya kesesuaian antara apa yang dilakukan kaum muslimin dalam haji mereka dengan sebagian besar apa yang dilakukan kaum musyrik dalam haji mereka, karena hal itu termasuk apa yang mereka ambil dari ajaran Ibrahim ‘alaihis salam.
ومن الحكمة في مشروعية تقبيل الحجر والطواف والرمي ابتلاء العباد، وإظهار العبودية، ليعلم المسلم أن ليس له اختيار مع أمر الله وأمر رسوله صلى الله عليه وسلم.
Di antara hikmah disyariatkannya mencium Hajar Aswad, thawaf, dan melempar jamrah adalah sebagai ujian (ibtila’) bagi hamba serta untuk menampakkan penghambaan, agar seorang muslim mengetahui bahwa ia tidak memiliki pilihan lain di hadapan perintah Allah dan perintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
فالذي حرم عبادة الأحجار والأشجار والأوثان، وحرم التقرب إليه بغير ما شرع الله، هو الذي أمر بالطواف حول بيته، وشرع تقبيل الحجر، ورمي الجمار، ولهذا قال عمر رضي الله عنه:
Maka Dzat yang mengharamkan penyembahan terhadap batu, pohon, dan berhala, serta mengharamkan pendekatan diri kepada-Nya dengan cara yang tidak disyariatkan, Dialah yang memerintahkan thawaf di sekeliling Rumah-Nya (Ka‘bah), menyariatkan mencium Hajar Aswad, dan melempar jamrah. Oleh karena itu, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
“Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi mudarat maupun manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Al-Bukhari)
فاحذر أن تعترض على شيء مما شرع الله، أو أن يكون في نفسك حرج وضيق من ذلك. وفقنا الله وإياك لما يحب ويرضى.
Maka berhati-hatilah jangan sampai engkau keberatan terhadap apa pun yang telah Allah syariatkan, atau timbul rasa sesak dan sempit dalam hatimu karenanya. Semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan Anda menuju apa yang Dia cintai dan rida.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply