Doa ‘Ibadah dan Doa Mas’alah



دعاء العبادة ودعاء المسألة

Doa ‘Ibadah dan Doa Mas’alah

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Doa ‘Ibadah dan Doa Mas’alah ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Aqidah

السؤال:

Pertanyaan:

ماهو الفرق بين دعاء العبادة ودعاء المسألة؟

Apa perbedaan antara doa ‘ibadah dan doa mas’alah?

الإجابــة:

Jawaban :

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:

فدعاء العبادة أو دعاء الثناء هو عبادة الله تعالى بأنواع العبادات، من الصلاة والذبح والنذر والصيام وغيرها خوفاً وطمعاً رجاء رحمته وخوف عذابه وإن لم يكن في ذلك صيغة سؤال وطلب.

Maka doa ‘ibadah atau doa ats-tsana’ (pujian) adalah beribadah kepada Allah Ta‘ala dengan berbagai macam ‘ibadah, mulai dari sholat, menyembelih (dzabh), nazar, puasa, dan selainnya dengan rasa takut dan harap, mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, meskipun di dalamnya tidak terdapat redaksi permohonan atau permintaan.

فمن عبد الله تعالى راغباً في جنته راهباً من ناره فهو داعٍ له جل وعلا، وقد فُسِّر قول الله عز وجل:

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah Ta‘ala karena menginginkan surga-Nya dan takut akan neraka-Nya, maka ia adalah orang yang berdoa kepada-Nya Jalla wa ‘Ala. Sungguh telah ditafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ [غافر: ٦٠]

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” [Ghafir: 60]

أي اعبدوني وامتثلوا أمري أستجب لكم، ولهذا جاء بعدها:

Yaitu: sembahlah Aku dan patuhilah perintah-Ku niscaya Aku akan mengabulkan bagi kalian. Oleh karena itu, setelahnya disebutkan:

إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر: ٦٠]

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [Ghafir: 60]

وأما دعاء المسألة فهو طلب ما ينفع الداعي من جلب نفع أو كشف ضر. هذا؛ ودعاء العبادة والمسألة متلازمان، فكل دعاء عبادة مستلزم لدعاء المسألة، وكل دعاء مسألة متتضمن لدعاء العبادة.

Adapun doa mas’alah adalah meminta apa yang bermanfaat bagi orang yang berdoa, baik berupa mendatangkan manfaat atau menghilangkan mudarat. Ketahuilah; bahwa doa ‘ibadah dan doa mas’alah itu saling terkait (mutalaziman). Setiap doa ‘ibadah meniscayakan adanya doa mas’alah, dan setiap doa mas’alah mengandung doa ‘ibadah.

يقول الإمام ابن القيم رحمه الله في بدائع الفوائد: قوله عز وجل:

Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata dalam Bada’i’ al-Fawa’id: Firman Allah ‘Azza wa Jalla:

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً [الأعراف: ٥٥]

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” [Al-A‘raf: 55]

وقوله:

Dan firman-Nya:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا [الأعراف: ٥٦]

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harapan.” [Al-A‘raf: 56]

هاتان الآيتان مشتملتان على آداب نوعي الدعاء: دعاء العبادة ودعاء المسألة، فإن الدعاء من القرآن يرد بهذا تارة وهذا تارة، ويراد به مجموعهما وهما متلازمان.

Kedua ayat ini mencakup adab dari dua jenis doa: doa ‘ibadah dan doa mas’alah. Sesungguhnya kata doa dalam Al-Quran terkadang datang dengan makna ini (mas’alah) dan terkadang dengan makna itu (‘ibadah), dan yang dimaksudkan bisa jadi adalah gabungan keduanya, karena keduanya saling terkait.

فإن دعاء المسألة هو طلب ما ينفع الداعي وطلب كشف ما يضره أو دفعه، وكل من يملك الضر والنفع فإنه هو المعبود حقاً، والمعبود لا بد أن يكون مالكاً للنفع والضر.

Sebab doa mas’alah adalah meminta apa yang bermanfaat bagi orang yang berdoa dan meminta dihilangkan atau ditolaknya apa yang membahayakannya. Dan setiap yang memiliki (kuasa atas) mudarat dan manfaat, maka Dialah yang berhak disembah (Al-Ma’bud) dengan benar, dan Dzat yang disembah haruslah pemilik manfaat dan mudarat.

ولهذا أنكر الله تعالى على من عبد من دونه ما لا يملك ضراً ولا نفعاً، وذلك كثير في القرآن كقوله تعالى:

Oleh karena itu, Allah Ta‘ala mengingkari orang-orang yang menyembah selain-Nya yang tidak memiliki kuasa atas mudarat maupun manfaat, dan hal itu banyak terdapat dalam Al-Quran seperti firman-Nya Ta‘ala:

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ [يونس: ١٨]

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan.” [Yunus: 18]

وهذا في القرآن كثير بيّن، أن المعبود لا بد أن يكون مالكاً للنفع والضر، فهو يدعو للنفع والضر دعاء المسألة، ويدعو خوفاً ورجاء دعاء العبادة.

Dan hal ini banyak serta jelas di dalam Al-Quran, bahwa Dzat yang disembah haruslah pemilik manfaat dan mudarat. Maka hamba berdoa memohon manfaat dan mudarat dengan doa mas’alah, serta berdoa dengan rasa takut dan harap dengan doa ‘ibadah.

فعلم أن النوعين متلازمان، فكل دعاء عبادة مستلزم لدعاء المسألة، وكل دعاء مسألة متضمن لدعاء العبادة. انتهى.

Maka diketahuilah bahwa kedua jenis ini saling terkait; setiap doa ‘ibadah meniscayakan doa mas’alah, dan setiap doa mas’alah mengandung doa ‘ibadah. Selesai kutipan.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.