أقسام الصلاة مفصلة
Klasifikasi Shalat Secara Terperinci
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Klasifikasi Shalat Secara Terperinci ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Shalat
السؤال:
Pertanyaan:
أريد أن أعرف أنواع الصلاة؟
Saya ingin mengetahui jenis-jenis sholat?
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
ففي الصحيحين وغيرهما أن أعرابيا سأل النبي صلى الله عليه وسلم عمّا يجب عليه من الصلوات فأخبره بوجوب خمس صلوat في اليوم والليلة، فقال الأعرابي: هل علي غيرها؟ فقال: لا، إلا أن تطوع شيئا.
Dalam ash-shohihain dan selainnya disebutkan bahwa seorang A‘rabi bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang apa yang wajib atasnya dari sholat-sholat, maka beliau mengabarkan tentang kewajiban sholat lima waktu dalam sehari semalam. A‘rabi tersebut bertanya: “Apakah ada kewajiban lain atasku selain itu?” Beliau menjawab: “Tidak, kecuali jika engkau melakukan tathawwu‘ (sholat sunnah).”
فدل بوضوح على أن الصلاة تنقسم إلى نوعين لا ثالث لهما، فرض، وتطوع أو نافلة. والفرض منه ما هو واجب بأصل الشرع وهي الصلوات الخمس، ومنه ما يوجبه المكلف على نفسه بالنذر، ومنه ما هو فرض عين وهي الصلوات الخمس، ومنه ما هو فرض كفاية كصلاة الجنازة.
Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa sholat terbagi menjadi dua jenis yang tidak ada jenis ketiganya, yaitu: fardhu dan tathawwu‘ atau nafilah. Fardhu ada yang diwajibkan berdasarkan asal syara‘ yaitu sholat lima waktu, dan ada yang diwajibkan oleh seorang mukallaf atas dirinya sendiri melalui nadzar. Fardhu juga terbagi menjadi fardhu ‘ain yaitu sholat lima waktu, dan fardhu kifayah seperti sholat janazah.
والتطوع أقسام فمنه ما هو آكد من غيره كرواتب الصلوات المكتوبات، والوتر فإنه من آكد النوافل للاختلاف في وجوبه، ومنه ما تشرع له الجماعة كالعيد، والكسوف، والتراويح، ومنه ما له سبب كتحية المسجد، وسنة الوضوء. ومنه النفل المطلق الذي لا سبب له.
Sedangkan tathawwu‘ terbagi menjadi beberapa bagian: ada yang lebih ditekankan (muakkad) dari yang lain seperti rawatib sholat wajib, dan witr yang merupakan nawafil paling ditekankan karena adanya perbedaan pendapat mengenai kewajibannya. Ada pula yang disyariatkan secara jama‘ah seperti ‘ied, kusuf (gerhana), dan tarawih. Ada pula yang memiliki sebab seperti tahiyyatul masjid dan sunnah wudhu. Serta ada nafl muthlaq yang tidak memiliki sebab tertentu.
وعلى كل فالصلاة خير موضوع كما روي عن النبي صلى الله عليه وسلم، ومن النوافل ما هو مختلف في وجوبه كالعيد والكسوف والوتر، والراجح أنه لا يجب شيء سوى الصلوات الخمس بأصل الشرع وما عداها فتطوع لا يأثم تاركه.
Bagaimanapun juga, sholat adalah sebaik-baik amalan sebagaimana diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara nawafil ada yang diperselisihkan kewajibannya seperti ‘ied, kusuf, dan witr. Namun pendapat yang kuat (rajih) adalah tidak ada yang wajib selain sholat lima waktu berdasarkan asal syara‘, sedangkan selain itu adalah tathawwu‘ yang tidak berdosa bagi yang meninggalkannya.
قال ابن حزم رحمه الله: الصلاة قسمان: فرض، وتطوع، فالفرض هو الذي من تركه عامدا كان عاصيا لله عز وجل، وهو الصلوات الخمس: الظهر، والعصر، والمغرب، والعشاء الأخيرة، والفجر، والقضاء لما نسي منها أو ينم عنها هي نفسها.
Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Sholat terbagi menjadi dua bagian: fardhu dan tathawwu‘. Fardhu adalah yang apabila seseorang meninggalkannya dengan sengaja maka ia bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu sholat lima waktu: Zhuhur, ‘Ashr, Maghrib, ‘Isya, dan Fajr. Begitu pula qodho bagi yang lupa atau tertidur darinya adalah bagian dari fardhu itu sendiri.”
والفرض قسمان: فرض متعين على كل مسلم عاقل بالغ ذكر أو أنثى حر أو عبد وهو ما ذكرناه، وفرض على الكفاية يلزم كل من حضر فإذا قام به بعضهم سقط عن سائرهم وهو الصلاة على جنائز المسلمين.
“Fardhu ada dua jenis: fardhu yang ditentukan atas setiap muslim yang berakal, baligh, laki-laki maupun perempuan, merdeka maupun hamba sahaya, yaitu yang telah kami sebutkan. Serta fardhu kifayah yang diwajibkan bagi setiap orang yang hadir, namun jika sebagian telah melaksanakannya maka gugur kewajibannya dari yang lain, yaitu sholat atas janazah kaum muslimin.”
والتطوع هو ما إن تركه المرء عامدا لم يكن عاصيا لله عز وجl بذلك، وهو الوتر وركعتا الفجر وصلاة العيدين والاستسقاء والكسوف والضحى وما يتنفل المرء قبل صلاة الفرض وبعدها والأشفاع في رمضان وتهجد الليل وكل ما يتطوع به المرء، ويكره ترك كل ذلك.
“Dan tathawwu‘ adalah amalan yang jika seseorang meninggalkannya dengan sengaja maka ia tidak bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla karenanya. Hal itu meliputi witr, dua raka’at fajr, sholat dua hari raya, istisqa’, kusuf, dhuha, amalan sunnah sebelum dan sesudah sholat fardhu, sholat malam di bulan Ramadhan, tahajjud, dan setiap amalan tathawwu‘ lainnya. Makruh hukumnya meninggalkan itu semua.”
برهان ذلك أنه ليس في ضرورة العقل إلّا القسمان المذكوران إما شيء يعصي الله تعالى تاركُه وإمّا شيء لا يعصي الله تعالى تاركه ولا واسطة بينهما.
“Bukti akan hal ini adalah secara nalar akal tidak ada kecuali dua bagian tersebut; adakalanya sesuatu yang berdosa jika ditinggalkan, adakalanya sesuatu yang tidak berdosa jika ditinggalkan, dan tidak ada perantara di antara keduanya.”
وقولنا الفرض والواجب والحتم والإلزام والمكتوب ألفاظ معناها واحد وهو ما ذكرنا، وقولنا التطوع والنافلة بمعنى واحد وهو ما ذكرنا.
“Dan perkataan kami: Fardhu, Wajib, Hatm, Ilzam, dan Maktub adalah lafadz-lafadz yang maknanya satu (sama), yaitu apa yang telah kami sebutkan. Dan perkataan kami: Tathawwu’ dan Nafilah maknanya satu (sama), yaitu apa yang telah kami sebutkan.”
وقال قوم -أي الحنفية- ههنا قسم ثالث وهو الواجب، قال أبو محمد: هذا خطأ لأنه دعوى بلا برهان، فإن قالوا إن بعض ذلك أوكد من بعض قلنا نعم بعض التطوع أوكد من بعض وليس ذلك بمخرج شيء منه عن أن يكون تطوعا. انتهى.
“Sebagian kaum—yakni Hanafiyyah—mengatakan ada bagian ketiga yaitu Wajib. Abu Muhammad (Ibnu Hazm) berkata: Ini adalah kesalahan karena merupakan klaim tanpa bukti. Jika mereka berkata bahwa sebagian dari hal tersebut lebih ditekankan (muakkad) daripada yang lain, kami katakan: Benar, sebagian tathawwu’ lebih muakkad daripada yang lain, namun hal itu tidak mengeluarkan sedikit pun darinya untuk tetap dikategorikan sebagai tathawwu’.” Selesai kutipan.
وقال ابن قدامة رحمه الله: والصلوات المكتوبات خمس في اليوم والليلة ولا خلاف بين المسلمين في وجوبها ولا يجب غيرها إلا لعارض من نذر أو غيره، ثم ذكر قول الموجبين للوتر ثم احتج على عدم وجوبه بالأحاديث كحديث أنس:
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Sholat-sholat yang diwajibkan ada lima dalam sehari semalam, dan tidak ada perbedaan pendapat di antara kaum muslimin mengenai kewajibannya. Tidak ada kewajiban lainnya kecuali karena faktor luar seperti nadzar atau selainnya.” Kemudian beliau menyebutkan pendapat orang-orang yang mewajibkan sholat witr, lalu beliau berhujjah atas ketidakwajibannya dengan hadits-hadits seperti hadits Anas:
هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ، مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ
“Ia ada lima namun (pahalanya) ada lima puluh. Ketetapan di sisi-Ku tidak dapat diubah.” (Muttafaqun ‘Alaih)
وعن عبادة بن الصامت قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:
Dan dari ‘Ubadah bin ash-Shomit ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَمْسُ صَلَوَاتٍ افْتَرَضَهُنَّ اللَّهُ عَلَى عِبَادِهِ
“Lima sholat yang Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya.” (HR. Abu Dawud)
ثم ذكر حديث طلحة في سؤال الأعرابي عن الواجب من الصلوات وجواب النبي صلى الله عليه وسلم له وهو الذي صدرنا به الفتوى.
Kemudian beliau menyebutkan hadits Thalhah mengenai pertanyaan seorang A‘rabi tentang sholat yang wajib serta jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya, yaitu yang telah kami jadikan pembuka fatwa ini.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply