هل يُحْكَمُ بكفر تارك الصيام ومانع الزكاة
Apakah Orang yang Meninggalkan Puasa dan Penolak Zakat Dihukumi Kafir?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Apakah Orang yang Meninggalkan Puasa dan Penolak Zakat Dihukumi Kafir? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Ibadah
السؤال:
Pertanyaan:
هل عدم الصيام أو عدم الزكاة لغير عذر شرعي مخرج من الملة (أي بأن يكون كافراً)؟ أثابكم الله.
Apakah tidak berpuasa atau tidak menunaikan zakat tanpa ‘udzur syar‘i mengeluarkan seseorang dari agama (yakni menjadi kafir)? Semoga Allah membalas Anda.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shohabah-nya. Amma ba’du:
فمن ترك الزكاة والصوم جحوداً بوجوبهما فلا شك في كفره وخروجه عن ملة الإسلام، وذلك لقيام الأدلة الصحيحة الصريحة من الكتاب والسنة والإجماع على وجوبهما.
Maka barangsiapa yang meninggalkan zakat dan puasa karena mengingkari (juhudan) kewajibannya, maka tidak diragukan lagi kekafirannya dan keluarnya ia dari agama Islam. Hal itu dikarenakan adanya dalil-dalil yang shohih lagi tegas dari Al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma‘ atas kewajiban keduanya.
فأما الكتاب، فقوله سبحانه وتعالى في حق الزكاة:
Adapun Al-Kitab, maka firman-Nya Subhanahu wa Ta‘ala mengenai hak zakat:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ [البقرة: ٤٣]
“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” [Al-Baqarah: 43]
وفي الصوم:
Dan mengenai puasa:
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ [البقرة: ١٨٥]
“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” [Al-Baqarah: 185]
وأما الحديث، فقوله صلى الله عليه وسلم:
Adapun hadits, maka sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: …، وذكر منها: أَدَاءِ الزَّكَاةِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima perkara: … dan beliau menyebutkan di antaranya: menunaikan zakat dan puasa Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
وأما الإجماع، فقد أجمع المسلمون على وجوبهما وركنيتهما. أما إذا كان تركه لهما تكاسلاً مع إقراره بوجوبهما، فهذا وإن كان قد أتى ذنباً عظيماً بتركه ركنين من أركان الإسلام، فإنه لا يكفر.
Adapun ijma‘, maka kaum muslimin telah bersepakat atas kewajiban dan kedudukan keduanya sebagai rukun. Adapun jika ia meninggalkannya karena malas (takasulan) padahal ia mengakui kewajibannya, maka orang ini—meskipun ia telah melakukan dosa yang besar karena meninggalkan dua rukun dari rukun-rukun Islam—sesungguhnya ia tidak kafir.
لكن تؤخذ منه الزكاة كُرْهاً ولو أدى ذلك إلى مقاتلته. قال صاحب طرح التثريب: وأما تارك الزكاة بخلاً، فإنها تؤخذ منه قهراً، فإن امتنع بالقتال قوتل.
Akan tetapi zakat tersebut diambil darinya secara paksa (kurhan) meskipun hal itu mengakibatkan ia diperangi. Penulis kitab Tharhu at-Tatsrib berkata: “Adapun orang yang meninggalkan zakat karena kikir, maka sesungguhnya ia diambil darinya secara paksa. Jika ia menolak hingga berperang, maka ia diperangi.”
أما تارك الصوم، فقد نقل الصاوي في حاشيته على الشرح الصغير عن القاضي عياض أنه يحبس، ويمنع الطعام والشراب.
Adapun orang yang meninggalkan puasa, maka Ash-Shawi telah menukil dalam Hasyiyah-nya atas asy-Syarhu ash-Shoghir dari Al-Qadhi ‘Iyadh bahwasanya ia dipenjara, serta dilarang (mendapatkan) makanan dan minuman.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply