Dasar-dasar Hubungan Timur dan Barat (1)



من منطلقات العلاقات الشرق والغرب (الاحتلال – تبادل المنافع)

Dasar-dasar Hubungan Timur dan Barat (Penjajahan – Pertukaran Manfaat) – Bagian Pertama

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Dasar-dasar Hubungan Timur dan Barat (Penjajahan – Pertukaran Manfaat) ini masuk dalam Kategori Tsaqafah Islamiyyah

كما قامت علاقة وطيدة بين الاحتلال والاستشراق، قامت علاقة أيضًا بين الاحتلال والتنصير، حتى عَد الباحثون كثيرًا من المنصرين على أنهم محتلون.

Sebagaimana terjalin hubungan yang erat antara penjajahan dengan orientalisme (al istisyraaq), terjalin pula hubungan antara penjajahan dengan gerakan kristenisasi (at tansiir), hingga para peneliti menganggap banyak misionaris (al munassiriun) sebagai bagian dari penjajah itu sendiri.

ودعا التنصير الاحتلال إلى البلاد العربية والإسلامية؛ ليسهِّل له الحملات التنصيرية، التي كانت تواجه رفضًا رسميًّا من بعض حكام البلاد العربية والإسلامية آنذاك، فكان من الأنسب للمنصرين أن ينضوي هؤلاء الحكام تحت الحماية الغربية؛ ليخلو الجو لأرباب الحملات التنصيرية للتوغل في المجتمع المسلم باسم المسيح عيسى ابن مريم – عليهما السلام – أو باسم العِلْم أو الطب أو الإغاثة أو التدريب أو التنمية، أو غيرها من الوسائل الخفية للتنصير، هذا من وجه.

Gerakan kristenisasi mengundang penjajah ke negeri-negeri Arab dan Islam untuk memudahkan misi-misi mereka, yang pada masa itu menghadapi penolakan resmi dari sebagian penguasa negeri Arab dan Islam. Oleh karena itu, para misionaris menganggap lebih tepat jika para penguasa tersebut tunduk di bawah protektorat (perlindungan) Barat; agar suasana menjadi kondusif bagi para pimpinan misi kristenisasi untuk menyusup ke dalam masyarakat Muslim atas nama Al-Masih (al Masiih) ‘Iysaa putra Maryam—‘alaihimas salaam—atau atas nama ilmu pengetahuan, kedokteran, bantuan kemanusiaan, pelatihan, pembangunan, maupun sarana-sarana tersembunyi lainnya dari gerakan kristenisasi, ini dari satu sisi. 1

وفي الوجه الثاني استخدم المحتلون المنصرين ممهدين لهم للولوج في الفكر العربي الإسلامي للناس البسطاء في عمومهم آنذاك، عندما أوهم المنصرون المسلمين أن الاحتلال إنما يقصد رفع مستوى المسلمين المعيشي، وعمارة بلادهم وأنفسهم، والارتقاء بهم إلى مستوى حضاري بعيد قطعًا عن الانتماء الديني للإسلام.

Di sisi kedua, para penjajah memanfaatkan para misionaris sebagai perintis bagi mereka untuk menyusup ke dalam pemikiran Arab-Islam masyarakat awam pada umumnya kala itu. Hal ini terjadi ketika para misionaris memberikan ilusi kepada kaum Muslimin bahwa penjajahan tersebut hanyalah bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup kaum Muslimin, memakmurkan negeri dan diri mereka, serta mengangkat mereka ke tingkat peradaban yang sama sekali jauh dari keterikatan agama terhadap Islam.

بل إن هذا الاحتلال كما يصوره المنصرون إنما جاء بسبب بَركة المسيح عيسى ابن مريم – عليهما السلام – ودعوته المستمرة للمنصرين أن ينقذوا الناس في المشرق، ويخلصوهم من الظلام والضلال الذي هم فيه.

Bahkan, penjajahan ini—sebagaimana yang digambarkan oleh para misionaris—datang karena berkah dari Al-Masih ‘Iysaa putra Maryam—‘alaihimas salaam—dan seruannya yang terus-menerus kepada para misionaris untuk menyelamatkan orang-orang di Timur (al Masyriq), serta membebaskan mereka dari kegelapan dan kesesatan yang mereka alami.

ومن وجه ثالث ربما استُخدِم المنصِّرون من المحتلين، من دون أن يدرك المنصِّرون هذا الاستخدام ومغزاه؛ ذلك أن من المنصرين من كان بعيدًا عن السياسة، ومنهم كذلك مَن أخذ التنصير بجدية لا تحمل خلفها أي مغزى آخر، سوى زعمهم بأنهم إنما يلبون تعاليمَ النصرانية في نقل الناس من الضلالة إلى الهدى.

Dari sisi ketiga, bisa jadi para misionaris dimanfaatkan oleh para penjajah tanpa para misionaris itu menyadari pemanfaatan tersebut beserta tujuannya. Hal itu karena di antara misionaris tersebut ada yang menjauhkan diri dari politik, and di antara mereka ada pula yang menjalankan misi kristenisasi dengan kesungguhan tanpa membawa motif lain di belakangnya, selain klaim mereka bahwa mereka sekadar memenuhi ajaran Kristen (an nasraaniyyah) dalam memindahkan manusia dari kesesatan menuju petunjuk.

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Lihat: ‘Aliy bin Ibraahiim al-Hamad an-Namlah, *at-Tanshiir: al-Mafhuum – al-Wasaa-il – al-Muwaajahah* (Kristenisasi: Konsep – Sarana – Strategi Menghadapi) – rujukan sebelumnya – hal. 295.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.