فجيعة يوم الرجيع
Tragedi Hari ar-Raji’ (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tragedi Hari ar-Raji’ (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
كانت بعض قبائل العرب تريد الثأر من رسول الله صلى الله عليه وسلم بطريقة غير مألوفة، وهو أسلوب الغدر والخيانة، وبدا ذلك على قبيلة هذيل التي سعت بجهدها للثأر من المسلمين، فلجأت إلى إرسال قبيلتي عضل والقارة إلى رسول الله ليطلبوا منه من يخرج معهم من دعاة الإسلام، وجعلت قبيلة هذيل لتلك القبيلتين جُعلاً لهم إن هم حققوا الهدف المنشود وهو الغدر والخديعة .
Sebagian kabilah Arab ingin menuntut balas terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan cara yang tidak biasa, yaitu metode kelicikan dan pengkhianatan. Hal ini tampak pada kabilah Hudzail (Hudzayl) yang berusaha keras untuk membalas dendam kepada kaum Muslimin. Maka mereka pun mengutus kabilah ‘Adhal dan al-Qaarah (al Qaarah) menemui Rasulullah untuk meminta beberapa orang dai Islam (du‘aatul islaam) agar pergi bersama mereka. Kabilah Hudzail menjanjikan upah (ju‘lan) bagi kedua kabilah tersebut jika mereka berhasil mencapai target yang diinginkan, yaitu kelicikan dan tipu daya.
فعندما وصلت تلك القبيلتين إلى المدينة ذهبوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وقالوا له: ” إن فينا إسلاماً، فابعث معنا نفراً من أصحابك يفقهوننا ويقرئوننا القرآن، ويعلمونا شرائع الإسلام ” .
Maka ketika kedua kabilah tersebut sampai ke Madinah, mereka mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata kepada beliau, “Sesungguhnya di kalangan kami ada yang telah memeluk Islam, maka utuslah bersama kami beberapa orang dari sahabatmu untuk memberikan pemahaman kepada kami, membacakan Al-Qur’an (al Qur-aan) kepada kami, serta mengajarkan kepada kami syariat-syariat (syarii‘at) Islam.”
فاستجاب رسول الله صلى الله عليه وسلم لطلبهم، وأرسل معهم عشرة من الصحابة، وأمّر عليهم عاصم بن ثابت الأنصاري رضي الله عنه، فلما وصل الصحابة إلى الرجيع – وهو موضع ماء لهذيل بالحجاز – ، غدر القوم بهم، واجتمع عليهم نفرٌ من هذيل، يقال لهم بنو لحيان، وكانوا نحواً من مائتي رجل، كلهم يحسن الرماية، فلما رآهم عاصم وأصحابه لجؤوا إلى مكان مرتفع، وأحاط بهم القوم، فقالوا لهم: انزلوا وأعطونا بأيديكم، ولكم العهد والميثاق ولا نقتل منكم أحدا، فقال عاصم أمير السرية، أما أنا فوالله لا أنزل اليوم في ذمة كافر، فجعل عاصم يقاتلهم وهو يقول: ” اللهم حميتُ دينك أول نهاري، فاحمِ لي لحمي آخره ” ! وكانوا بنو هذيل يجردون كل من قُتل من الصحابة، ثم قاتل رضي الله عنه حتى قتل في سبعة من أصحابه بالنبل، واستجاب الله دعاء عاصم فلم يتمكن المشركون من جثته حيث أرسل الله عليهم الدَّبر (الزنابير وهي حشرة أليمة اللسع) ليحمي جثته رضي الله عنه فلم يقدروا على شيء منه .
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan permintaan mereka, lalu mengutus sepuluh orang sahabat bersama mereka dan mengangkat ‘Aashim bin Tsaabit al-Anshaariy radhiyallaahu ‘anhu sebagai pemimpin mereka. Ketika para sahabat sampai di ar-Raji‘ (ar Rajii‘)—yaitu sebuah tempat mata air milik kabilah Hudzail di Hijaz—, kaum tersebut mengkhianati mereka. Sekelompok orang dari Hudzail yang disebut Bani Lihyan (Banuu Lihyaan) berkumpul mengepung mereka. Jumlah mereka sekitar dua ratus orang yang semuanya mahir memanah. Ketika ‘Aashim dan para sahabatnya melihat mereka, mereka segera berlindung ke tempat yang tinggi, lalu kaum tersebut mengepung mereka dan berkata, “Turunlah dan menyerahlah kepada kami! Kalian mendapatkan janji dan kesepakatan bahwa kami tidak akan membunuh seorang pun di antara kalian.” ‘Aashim selaku amir ekspedisi (amiirus sariyyah) berkata, “Adapun aku, demi Allah, hari ini aku tidak akan turun dalam jaminan orang kafir.” Maka ‘Aashim mulai memerangi mereka seraya berdoa, “Ya Allah, aku telah melindungi agama-Mu di awal siangku, maka lindungilah jasadku di akhir siangku!” Kaum dari Bani Hudzail biasa menelanjangi setiap sahabat yang gugur terbunuh. Kemudian beliau radhiyallaahu ‘anhu terus berperang hingga gugur bersama tujuh orang sahabatnya akibat terkena anak panah. Allah mengabulkan doa ‘Aashim sehingga kaum musyrik tidak mampu menyentuh jasadnya, karena Allah mengirimkan tawon (ad dabr, yaitu serangga yang sengatannya sangat menyakitkan) untuk melindungi jasad beliau radhiyallaahu ‘anhu, sehingga mereka tidak mampu melakukan apa pun terhadap jasadnya.
وأما البقية وهم خبيب الأنصاري و ابن الدثنة ورجل آخر، فقد نزلوا إليهم بالعهد والميثاق، فلما استمكنوا منهم، غدروا بهم فربطوهم وأوثقوهم، ثم قتلوا الرجل الثالث لأنه أبى وامتنع عن المسير معهم لما رأى الغدر والخيانة، وانطلقوا بخُبيب ، و ابن الدثنة حتى باعوهما بمكة، فاشترى خُبيبا بنو الحارث بن عامر بن نوفل بن عبد مناف ، وكان خُبيب قد قتل الحارث بن عامر يوم بدر، فلبث خبيب عندهم أسيراً .
Adapun sisanya yaitu Khubaib al-Anshaariy, Ibnud Datsinah, dan seorang pria lainnya, mereka turun menyerahkan diri berdasarkan janji dan kesepakatan tersebut. Namun ketika kaum itu telah menguasai mereka, mereka mengkhianatinya, lalu mengikat dan membelenggu mereka. Kemudian mereka membunuh pria ketiga karena ia menolak dan enggan berjalan bersama mereka setelah melihat kelicikan serta pengkhianatan tersebut. Mereka membawa Khubaib dan Ibnud Datsinah hingga menjual keduanya di Makkah. Khubaib dibeli oleh Bani al-Haarits bin ‘Aamir bin Nawfal bin ‘Abdu Manaf (Banuu al Haarits bin ‘Aamir bin Nawfal bin ‘Abdu Manaf). Sebelumnya, Khubaib telah membunuh al-Haarits bin ‘Aamir pada Perang Badar, maka Khubaib tinggal di tengah-tengah mereka sebagai tawanan.
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply