Dasar-dasar Hubungan Timur dan Barat (2)



من منطلقات العلاقات الشرق والغرب (الاحتلال – تبادل المنافع)

Dasar-dasar Hubungan Timur dan Barat (Penjajahan – Pertukaran Manfaat) – Bagian Kedua (Terakhir)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Dasar-dasar Hubungan Timur dan Barat (Penjajahan – Pertukaran Manfaat) ini masuk dalam Kategori Tsaqafah Islamiyyah

وكان هذا هو مبلغ علمهم، لا سيما أن هذه الفئة لم تكن لتتعرف على الإسلام على أنه دين سماوي، وإنما تعرفت عليه بإيحاء من الاستشراق على أنه تعاليمُ محمديةٌ جاء بها ذلك الرجل في مكة، وألف كتابًا لقومه سماه القرآن، جمع فيه من تعاليم اليهودية والنصرانية والفارسية والهندية والرومانية واليونانية!

Dan inilah sejauh mana pengetahuan mereka, terlebih lagi karena kelompok ini tidak mengenal Islam sebagai agama samawi, melainkan mengenalnya melalui insinuasi dari orientalisme (al istisyraaq) sebagai ajaran Muhammad yang dibawa oleh pria tersebut di Makkah, dan ia menulis sebuah kitab untuk kaumnya yang dinamakan Al-Qur’an (al Qur-aan), yang di dalamnya mengumpulkan ajaran Yahudi, Kristen (an nashraaniyyah), Persia, India, Romawi, dan Yunani! 1

ولذا نجد أن بعض فرسان هذه الفئة من المنصرين يتخلَّون عن التنصير، عندما يتبين لهم خلاف ذلك، فيقبعون في دورهم وديارهم ينصرون بني قومهم، وقد يعتنقون الإسلام ويصبحون دعاة له بين أبناء جلدتهم!

Oleh karena itu, kita mendapati sebagian tokoh dari kelompok misionaris (al munashshiriin) ini meninggalkan gerakan kristenisasi (at tanshiir) ketika menjadi jelas bagi mereka hal yang sebaliknya. Mereka lalu berdiam di rumah dan negeri mereka untuk menolong kaum mereka sendiri, bahkan sebagian mereka memeluk Islam dan menjadi dai yang menyerukannya di antara bangsa mereka!

وهذه الفئة التي أسلمت شكلت تهديدًا واضحًا وقويًّا، لا للحملات التنصيرية فحسب، بل للحملات الاحتلالية كذلك، إلا أنهم إعلاميًّا لم يظهروا على الساحتين التنصيرية والاحتلالية، وهذا أمر واضح ومعلوم بالضرورة والممارسة الإعلامية التي لا تُظهِر إلا ما تريد هي إظهارَه.

Kelompok yang masuk Islam ini membentuk ancaman yang nyata dan kuat, tidak hanya bagi gerakan kristenisasi semata, melainkan juga bagi gerakan penjajahan. Akan tetapi, secara media mereka tidak dimunculkan di kancah kristenisasi maupun penjajahan, dan ini adalah perkara yang jelas serta diketahui secara aksiomatis dalam praktik media yang tidak menampakkan kecuali apa yang ingin ditunjukkannya saja.

وكان بعض المنصرين من ذوي الفئة البعيدة عن السياسة على قدر من السذاجة والطيبة، بحيث أصبحوا نهبًا للأطماع الاحتلالية، بحجة أن الاحتلال إنما هو امتداد للجهود التي ينبغي أن توجد في المجتمعات الضالة، ليقوم التنصير على هدايتها والرفعة بها من الظلام إلى النور؛ أي من ظلام الدين الذي هي عليه، وهو الإسلام هنا، إلى النور الذي عليه المنصرون، وهو النصرانية أو المسيحية، وهم، كما سبق، إنما جاؤوا لهذا.

Sebagian misionaris (al munashshiriin) dari kelompok yang jauh dari politik berada pada tingkat kenaifan dan keluguan, sehingga mereka menjadi mangsa bagi ambisi penjajahan, dengan alasan bahwa penjajahan tidak lain merupakan kelanjutan dari upaya yang harus ada di dalam masyarakat yang sesat, agar gerakan kristenisasi (at tanshiir) dapat menuntun mereka pada hidayah dan mengangkat mereka dari kegelapan menuju cahaya; yaitu dari kegelapan agama yang mereka anut—yang dimaksud di sini adalah Islam—menuju cahaya yang diyakini para misionaris, yaitu Kristen (an nashraaniyyah) atau Masehi, dan mereka, sebagaimana yang telah berlalu, datang memang untuk tujuan ini.

ويتأخر تبينهم النوايا واكتشافهم الحقائق من وراء استغلال الاحتلال لسذاجتهم، عندها تكون ردود الأفعال لديهم قويةً وعنيفة، ولكنها تأتي متأخرة، وقد ينساق بعضهم وراء هذه المؤامرة عليهم من بني جلدتهم، فيتركون التنصير الذي جاؤوا من أجله، وينخرطون فيما يمكن أن نسميه بتسييس التنصير، لا سيما إذا كانوا يحملون للمجتمع المسلم شحناء وبغضًا مترسبتين من خلفية صليبية لا تزال تطغى على كثير من العقول والأذهان.

Dan keterlambatan mereka dalam memahami niat serta menyingkap hakikat di balik eksploitasi penjajahan terhadap keluguan mereka, membuat reaksi mereka saat itu menjadi kuat dan keras, namun hal itu datang terlambat. Sebagian mereka mungkin terseret di belakang konspirasi dari bangsa mereka sendiri, sehingga mereka meninggalkan kristenisasi (at tanshiir) yang menjadi tujuan awal kedatangan mereka, lalu terlibat dalam apa yang bisa kita sebut sebagai politisasi kristenisasi, terlebih jika mereka menyimpan dendam dan kebencian terhadap masyarakat Muslim yang mengendap dari latar belakang Perang Salib (shaliibiyyah) yang masih mendominasi banyak akal dan pikiran. 2

ولعله في هذه الوقفة، والوقفة التي سبقتها، اتضحت الرؤية في العلاقة بين الاستشراق والاحتلال من جهة، وبين التنصير والاحتلال من جهة ثانية، وعندها يمكن لنا الولوج في الاحتلال، من حيث كونه محددًا من المحددات الرئيسية التي قامت عليها العلاقة بين المسلمين والغرب، وهو من المحددات التي يصعب علينا نحن المسلمين إغفالها، ولو في عقولنا الباطنة، عند الحديث عن الحوار بين المحورين الشرق والغرب.

Barangkali dalam catatan ini, dan catatan sebelumnya, telah menjadi jelas gambaran tentang hubungan antara orientalisme (al istisyraaq) dan penjajahan di satu sisi, serta antara kristenisasi (at tanshiir) dan penjajahan di sisi lain. Saat itulah kita dapat memasuki pembahasan mengenai penjajahan, ditinjau dari kedudukannya sebagai salah satu faktor penentu utama yang mendasari hubungan antara kaum Muslimin dan Barat. Ini merupakan salah satu faktor penentu yang sulit bagi kita, kaum Muslimin, untuk mengabaikannya—bahkan dalam alam bawah sadar kita—ketika berbicara mengenai dialog antara dua poros: Timur dan Barat.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : Alukah

Catatan Kaki

  1. Lihat: Bab Pertama “Para Orientalis dan Al-Qur’anul Karim” – hal. 79-144 – dari buku peneliti: *Naqd al-Fikr al-Istisyraaqiy: al-Islaam – al-Qur-aan al-Kariim – wa ar-Risaalah* (Kritik Pemikiran Orientalis: Islam – Al-Qur’anul Karim – dan Risalah) – Riyadh: Penulis, 1432 H / 2010 M – hal. 280.
  2. Lihat: Zaynab ‘Abdul ‘Aziiz, *Harb Shaliibiyyah bikulli al-Maqaayiis* (Perang Salib dengan Segala Tolok Ukur) – rujukan sebelumnya – hal. 184.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.