Al-Mustakhrajaat (2)



المستخرجات

Al-Mustakhrajaat (Bagian Kedua – Terakhir)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Al-Mustakhrajaat (Bagian Kedua – Terakhir) ini masuk dalam Kategori Hadits

حكم الرواية عن الكتب المستخرجة :

Hukum Meriwayatkan dari Kitab-Kitab Mustakhraj :

لم يلتزم واحد من هؤلاء الأئمة موافقة الكتاب الأصلي في ألفاظ الحديث ، لأنهم إنما يروون بالألفاظ التي وقعت لهم عن شيوخهم ، فحصل فيها تفاوت قليل في الألفاظ ، وتفاوت أقل منه في المعاني ، فلا يجوز لمن ينقل عن أحد هذه الكتب المستخرجة حديثـًا ثم ينسبه إلى الصحيحين مثلاً ، ويقول هو هكذا فيهما إلا أن يقابله بهما ، أو يكون صاحب الكتاب المستخرج قد صرح بأنه استخرجه بلفظه كأن يقول : أخرجه البخاري بلفظه .

Tidak satu pun dari para imam tersebut yang berkomitmen untuk mencocokkan lafal hadits dengan kitab aslinya. Hal itu dikarenakan mereka meriwayatkan dengan lafal yang mereka peroleh dari guru-guru mereka, sehingga terdapat sedikit perbedaan dalam lafal, dan perbedaan yang lebih sedikit lagi dalam makna. Oleh karena itu, tidak boleh bagi siapa pun yang menukil hadits dari salah satu kitab mustakhraj ini lalu menisbatkannya kepada ash-Shahiihayn, misalnya dengan mengatakan “Demikianlah hadits tersebut di dalam kedua kitab tersebut”, kecuali jika ia telah membandingkannya (muqaabalah) dengan keduanya, atau penulis kitab mustakhraj tersebut telah menegaskan bahwa ia mengeluarkannya dengan lafal yang sama, seperti perkataannya: “Diriwayatkan oleh al-Bukhaariy dengan lafalnya.”

فوائد المستخرجات :

Faedah-Faedah Kitab Mustakhraj :

1- ما يقع فيها من زيادات في الأحاديث لم تكن بالأصل ، وإنما وقعت لهم تلك الزيادات ؛ لأنهم لم يلتزموا إيراد ألفاظ الأصل بل الألفاظ التي وقعت لهم بالرواية عن شيوخهم .

1. Terdapat tambahan (ziyaadaat) dalam hadits yang tidak ada dalam kitab aslinya, yang terjadi karena mereka tidak berkomitmen untuk membawakan lafal asli, melainkan lafal yang mereka peroleh dari guru mereka melalui riwayat.

2- علو الإسناد لأن صاحب المستخرج لو روى الحديث من طريق صاحب الأصل لوقع أنزل من الطريق الذي يرويه به في المستخرج .

2. Sanad yang lebih tinggi (‘uluwwul isnaad), karena jika penyusun mustakhraj meriwayatkan melalui jalur penulis kitab asli, sanadnya akan lebih rendah daripada jalur yang ia gunakan dalam mustakhraj.

3- تقوية الحديث بكثرة الطرق ، وربما ساق له طرقـًا أخرى إلى الصحابي بعد فراغه من استخراجه كما يصنع أبو عوانة .

3. Menguatkan hadits dengan banyaknya jalur sanad (turuq). Terkadang ia membawakan jalur lain menuju shahabat setelah selesai menyusun mustakhraj-nya, seperti yang dilakukan oleh Abu ‘Awaanah.

4- أن يكون صاحب الأصل قد روى عمن اختلط ، ولم يبين أن السماع منه كان قبل الاختلاط أو بعده ، فيبينه المستخرِج صريحـًا أو بالرواية عمن لم يسمع منه إلا قبل الاختلاط .

4. Menjelaskan status perawi yang pernah mengalami ikhtilath (kerancuan hafalan) di mana penulis kitab asli belum menjelaskan apakah pendengaran hadits darinya terjadi sebelum atau sesudah ikhtilath, lalu penyusun mustakhraj menjelaskannya secara eksplisit atau melalui riwayat dari orang yang tidak mendengar darinya kecuali sebelum terjadi ikhtilath.

5- أن يروي صاحب الأصل عن مدلِّس بالعنعنة ، فيرويه صاحب المستخرج مع التصريح بالسماع أو نحوه .

5. Menjelaskan hadits yang diriwayatkan oleh penulis kitab asli dari perawi mudallis (yang melakukan tadlis) dengan bentuk ‘an‘anah, lalu penyusun mustakhraj meriwayatkannya dengan penjelasan tegas tentang pendengaran (as-samaa‘) hadits tersebut atau sejenisnya.

6- أن يروي صاحب الأصل الحديث عن مبهم كحدثنا رجل أو غير واحد فيعينه المستخرج .

6. Menjelaskan perawi yang samar (mubham) ketika penulis kitab asli meriwayatkan dari perawi samar seperti perkataan “telah menceritakan kepada kami seorang laki-laki” atau “lebih dari satu orang”, lalu penyusun mustakhraj menentukan identitasnya.

7- أن يروي صاحب الأصل عن مهمل كحدثنا محمد من غير ذكر ما يميزه عن غيره من المحمدين فيميزه المستخرِج .

7. Menjelaskan perawi yang tidak jelas identitas khususnya (muhmal) ketika penulis kitab asli meriwayatkan dari perawi yang diabaikan rincian namanya seperti “telah menceritakan kepada kami Muhammad” tanpa menyebutkan apa yang membedakannya dari orang-orang bernama Muhammad lainnya, lalu penyusun mustakhraj membedakannya.

8- أن يكون في الأصل حديث مخالف لقاعدة اللغة العربية يتكلف لتوجيهه ويتحمل لتخريجه، فيجئ من رواية المستخرج على القاعدة فيعرف بأنه هو الصحيح ، وأن الذي في الأصل قد وقع فيه الوهم من الرواة .

8. Jika dalam kitab asli terdapat hadits yang lafalnya menyelisihi kaidah bahasa Arab sehingga membutuhkan upaya keras untuk menjelaskannya atau memaksakan pembenaran takwilnya, maka ia datang dalam riwayat mustakhraj sesuai dengan kaidah yang berlaku, sehingga diketahui bahwa itulah yang shahih, dan riwayat di kitab asli mengandung kekeliruan (wahm) dari para perawi.

9- قال العلامة ابن حجر: وكل علة أُعِلَّ بها الحديث في أحد الصحيحين وجاءت رواية المستخرَج سالمة منها فهي من فوائده وذلك كثير جدًا أهـ .

9. Al-‘Allaamah Ibnu Hajar berkata: “Setiap cacat (‘illah) yang dilontarkan kepada hadits dalam salah satu kitab shahih, lalu datang riwayat mustakhraj yang selamat dari cacat tersebut, maka itulah di antara faedahnya, dan hal ini sangatlah banyak.” Selesai penuturan beliau.

حكم الزيادة الواقعة في الكتب المستخرجة على الصحيحين :

Hukum Tambahan dalam Kitab Mustakhraj Terhadap Ash-Shahiihayn :

ذهب الإمام ابن الصلاح في مقدمته عند الكلام على فوائد الكتب المستخرجة إلى أن الزيادة الواقعة في المستخرجات لها حكم الصحيح ؛ لأنها واردة بالأسانيد الثابتة في الصحيحين أو أحدهما أو خارجة من ذلك المخرج الثابت ، وقد تعقبه الحافظ ابن حجر فقال : هذا مسلَّم في الرجل الذي التقى فيه إسناد المستخرج ، وإسناد مصنف الأصل بعده ، وأما من بين المستخرج وبين ذلك الرجل فيحتاج إلى نقد ؛ لأن المستخرج لم يلتزم الصحة في ذلك ، وإنما جل قصده العلو ، فإن حصل وقع على غرضه ، فإن كان مع ذلك صحيحـًا أو فيه زيادة فزيادة حسن حصلت اتفاقـًا وإلا فليس ذلك همته أهـ .

Imam Ibnu ash-Shalaah dalam mukadimahnya saat membahas faedah kitab mustakhraj berpendapat bahwa tambahan yang terdapat dalam mustakhraj memiliki hukum shahih, karena datang dengan sanad-sanad yang tsabit dalam ash-Shahiihayn atau salah satunya, atau keluar dari jalur (makhraj) yang tsabit tersebut. Namun, hal ini dikritisi oleh al-Hafidz Ibnu Hajar: “Hal ini diterima pada perawi yang menjadi titik temu antara sanad mustakhraj dan sanad penulis kitab asli setelahnya. Adapun perawi di antara penyusun mustakhraj dan orang tersebut, maka memerlukan kritik (naqd), karena penyusun mustakhraj tidak berkomitmen pada keshahihan di bagian tersebut, tujuan utamanya hanyalah ‘uluww (sanad yang tinggi). Jika itu tercapai, maka tujuannya terpenuhi. Jika bersamaan dengan itu ternyata shahih atau terdapat tambahan, maka itu adalah tambahan kebaikan yang terjadi secara kebetulan, bukan tujuan utamanya.” Selesai penuturan beliau.

ثم إن الكلام إنما هو في الزيادة التي تقع تتمة لمحذوف في أحاديث الصحيحين ونحو ذلك ، أما زيادة أحاديث بتمامها فلا ريب أنها تتْبع قوة السند وضعفه ، فقد تكون صحيحة ، وقد تكون حسنة أو ضعيفة ، وقد وقع في مستخرج أبي عوانة أحاديث كثيرة زائدة على أصله من هذا النوع الأخير، وفيها الصحيح ، والحسن ، والضعيف .

Selanjutnya, pembahasan ini hanya pada tambahan yang menjadi pelengkap bagi bagian yang terhapus dalam hadits-hadits ash-Shahiihayn dan semacamnya. Adapun tambahan hadits secara keseluruhan, maka tidak diragukan lagi bahwa ia mengikuti kekuatan dan kelemahan sanadnya; terkadang shahih, terkadang hasan, atau dhaif. Dalam Mustakhraj Abu ‘Awaanah terdapat banyak hadits tambahan terhadap kitab aslinya dari jenis terakhir ini, di dalamnya terdapat hadits shahih, hasan, dan dhaif.

والله أعلم .

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.