المستدركات
Al-Mustadrakaat
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Al-Mustadrakaat ini masuk dalam Kategori Hadits
الاستدراك في اصطلاح أهل الحديث : هو جمع الأحاديث التي تكون على شرط أحد المصنفين ولم يخرجها في كتابه ، ومعلوم أن الشيخين البخاري ومسلم لم يستوعبا الصحيح في كتابيهما ، ولا التزما ذلك ، إذن فهناك أحاديث هي على شرطهما أو على شرط أحدهما لم يخرجاها في كتابيهما ، وقد عنى العلماء بالاستدراك عليهما ، وألفوا في ذلك المصنفات ، وأطلقوا عليها اسم المستدركات ، ومن أهم هذه المستدركات وأشهرها :
Al-Istidraak dalam istilah ahli hadits adalah mengumpulkan hadits-hadits yang sesuai dengan syarat salah seorang penyusun kitab (hadits) namun ia tidak mengeluarkan hadits tersebut di dalam kitabnya. Telah dimaklumi bersama bahwa asy-Syaykhayn (Imam al-Bukhaariy dan Muslim) tidak menghimpun seluruh hadits shahih di dalam kedua kitab mereka, dan tidak pula berkomitmen untuk melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, terdapat hadits-hadits yang sesuai dengan syarat keduanya atau syarat salah satunya yang tidak mereka berdua keluarkan di dalam kitab mereka. Para ulama memberikan perhatian besar untuk melakukan istidraak terhadap keduanya, menyusun berbagai kitab dalam hal ini, dan menamakannya dengan sebutan Al-Mustadrakaat. Di antara kitab-kitab mustadrak yang paling penting dan paling terkenal adalah:
1- المستدرك : لأبي عبد الله محمد بن عبد الله بن محمد بن حمدويه الحاكم النيسابوري المتوفى سنة (405 هـ) ، أودعه من الأحاديث ما كان على شرط الشيخين أو شرط أحدهما ، ولم يخرجاه في كتابيهما ، وما أدى اجتهاده إلى تصحيحه ، وإن لم يكن على شرط واحد منهما .
1. Al-Mustadrak: Karya Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdillah bin Muhammad bin Hamdawih al-Haakim an-Naysaabuuriy yang wafat tahun 405 H. Beliau memasukkan ke dalamnya hadits-hadits yang sesuai dengan syarat asy-Syaykhayn atau syarat salah satu dari keduanya namun tidak dikeluarkan di dalam kitab mereka, serta hadits-hadits yang berdasarkan ijtihad beliau dinilai shahih meskipun tidak memenuhi syarat salah satu dari keduanya.
وهو ينبه على القسم الأول بقوله : هذا حديث على شرط الشيخين أو على شرط البخاري أو على شرط مسلم ، وعلى القسم الثاني بقوله : هذا حديث صحيح الإسناد ، وقد يورد ما لم يصح عنده منبهـًا على ذلك ، وهو متساهل في التصحيح .
Beliau memberikan peringatan (penjelasan) pada bagian pertama dengan perkataannya: “Hadits ini sesuai dengan syarat asy-Syaykhayn” atau “sesuai dengan syarat al-Bukhaariy” atau “sesuai dengan syarat Muslim”. Sedangkan pada bagian kedua, beliau menjelaskannya dengan perkataan: “Hadits ini shahih sanadnya (shahiihul isnaad)”. Terkadang beliau juga menyebutkan hadits yang tidak shahih menurut pandangannya dengan memberikan catatan ringkas mengenai hal tersebut, dan beliau termasuk ulama yang longgar (mutasaahil) dalam menilai keshahihan hadits.
وقد لخص المستدرك الحافظ الذهبي المتوفى سنة (748 هـ) ، وتعقب كثيرًا منه ببيان ضعفه أو نكارته ووضعه ، وجمع جزءًا في الأحاديث الموضوعة التي وجدت فيه بلغت نحو مائة حديث ، وذكر له ابن الجوزي في موضوعاته نحو ستين حديثـًا أيضـًا .
Kitab Al-Mustadrak ini telah diringkas oleh al-Hafidz adz-Dzahabiy yang wafat tahun 748 H. Beliau mengkritisi banyak bagian di dalamnya dengan menjelaskan kedhaifannya, kemungkarannya (nakaarah), atau kepalsuannya (wadh‘u). Beliau juga mengumpulkan satu bagian khusus mengenai hadits-hadits palsu (al-ahaadiits al-mawdhuu‘ah) yang ditemukan di dalamnya hingga mencapai sekitar seratus hadits, dan Ibnu al-Jawziy juga menyebutkan sekitar enam puluh hadits dari kitab tersebut di dalam kitab Al-Mawdhuu‘aat miliknya.
وقد بالغ أبو سعد الماليني فحكم بأنه ليس في المستدرك حديث على شرط الشيخين ، ورد عليه الذهبي بأن فيه جملة وافرة على شرطهما ، وأخرى كبيرة على شرط أحدهما ، ولعل مجموع ذلك نحو نصف الكتاب ، وفيه نحو الربع مما صح سنده ، وإن كان فيه علة ، وما بقي وهو نحو الربع فهو مناكير وواهيات لا تصح ، وفي بعض ذلك موضوعات أهـ .
Abu Sa‘d al-Maaliiniy telah berlebihan dengan menghukumi bahwa di dalam kitab Al-Mustadrak tidak ada satu hadits pun yang sesuai dengan syarat asy-Syaykhayn. Pendapat ini dibantah oleh adz-Dzahabiy, yang menyatakan bahwa di dalam kitab tersebut terdapat sejumlah besar hadits yang sesuai dengan syarat keduanya, dan bagian besar lainnya sesuai dengan syarat salah satunya, yang mana total akumulasi dari bagian tersebut barangkali mencapai sekitar setengah isi kitab. Di dalamnya juga terdapat sekitar seperempat hadits yang shahih sanadnya meskipun mengandung cacat (‘illah), sedangkan sisanya yang sekitar seperempat lagi merupakan hadits-hadits mungkar (manaakiir) dan rapuh yang tidak shahih, dan pada sebagian kecil dari itu terdapat hadits-hadits palsu (mawdhuu‘aat). Selesai penuturan beliau.
هذا وقد اعتذر الحافظ ابن حجرعن التساهل الواقع في مستدرك الحاكم فقال : ” إنما وقع للحاكم التساهل ؛ لأنه سود الكتاب لينقحه فعاجلته منيته ، ولم يتيسر له تحريره ، وتنقيحه ، قال : وقد وجدت قريبـًا من نصف الجزء الثاني من تجزئة ستة من المستدرك : (إلى هنا انتهى إملاء الحاكم) وما عدا ذلك من الكتاب لا يؤخذ عنه إلا بطريق الإجازة ، والتساهل في القدر المُمْلَى قليل جدًا بالنسبة إلى ما بعده ” أهـ .
Terkait hal ini, al-Hafidz Ibnu Hajar telah memberikan uzur atas kelonggaran (at-tasaahul) yang terjadi dalam kitab Mustadrak al-Haakim, beliau berkata: “Sesungguhnya kelonggaran itu terjadi pada al-Haakim karena beliau baru menulis draf kasar kitab tersebut untuk kemudian direvisi (diedit), namun kematian menjemputnya lebih cepat sebelum beliau sempat menyunting dan merapikannya kembali.” Beliau melanjutkan: “Dan aku mendapati pada bagian yang mendekati setengah dari jilid kedua dari pembagian enam jilid kitab Al-Mustadrak tertulis catatan: ‘(Sampai di sini batas akhir dikte al-Haakim)’. Dan bagian kitab selain dari itu tidak diambil darinya kecuali melalui jalur ijazah (al-ijaazah), sedangkan tingkat kelonggaran pada bagian yang sempat didiktekan tersebut sangat sedikit sekali jika dibandingkan dengan bagian setelahnya.” Selesai penuturan beliau.
وكثير من المحدثين على أن ما انفرد بتصحيحه الحاكم في المستدرك عن أئمة الحديث يبحث عنه ويحكم عليه بما يليق بحاله من الصحة أو الحسن أو الضعف .
Dan mayoritas ahli hadits berpandangan bahwa hadits yang keshahihannya hanya dinilai secara tunggal oleh al-Haakim dalam kitab Al-Mustدرك tanpa ada penilaian dari para imam hadits lainnya, maka hadits tersebut harus diteliti kembali dan dihukumi dengan status yang sesuai dengan keadaannya, baik berupa shahih, hasan, maupun dhaif (adh-dha‘f).
2- الإلزامات : لأبي الحسن علي بن عمر بن أحمد الدارقطني البغدادي أمير المؤمنين في الحديث ، المتوفى سنة (385 هـ) ، جمع فيه ما وجده على شرط الشيخين من الأحاديث ، وليس بمذكور في كتابيهما وألزمهما ذكره – وهو غير لازم كما ذكر ذلك غيره من الحفاظ ـ ورتَّبه على المسانيد في مجلد لطيف .
2. Al-Ilzaamaat: Karya Abu al-Hasan ‘Aliy bin ‘Umar bin Ahmad ad-Daaraquthniy al-Baghdaadiy, sang Amiirul Mu’miniin dalam bidang hadits, wafat tahun 385 H. Beliau mengumpulkan di dalamnya hadits-hadits yang beliau temukan sesuai dengan syarat asy-Syaykhayn namun tidak disebutkan di dalam kedua kitab mereka, lalu beliau ‘mewajibkan’ keduanya untuk menyebutkannya—walaupun hal itu sebenarnya tidak wajib sebagaimana dikemukakan oleh para hafidz lainnya—. Beliau menyusun kitab ini berdasarkan metode musnad (al-masaniid) dalam satu jilid yang ringkas.
3- المستدرك على الصحيحين : للحافظ أبي ذر عبد بن أحمد بن محمد بن عبد الله الأنصاري الهروي نزيل مكة ، صاحب التصانيف الكثيرة ، المتوفى سنة (434 هـ) ، وهو كالمستخرج على كتاب الدارقطني .
3. Al-Mustadrak ‘ala al-Shahiihaayn: Karya al-Hafidz Abu Dzarr ‘Abd bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdillah al-Anshaariy al-Harawiy yang menetap di Makkah, seorang penulis banyak kitab yang wafat tahun 434 H. Kitab ini kedudukannya seperti kitab mustakhraj terhadap kitab karya ad-Daaraquthniy.
والله أعلم
Wallahu A’lam
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply