فجيعة يوم الرجيع
Tragedi Hari ar-Raji’ (Bagian Kedua – Terakhir)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tragedi Hari ar-Raji’ (Bagian Kedua – Terakhir) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
وروي أنه تمكن من طفل لابنة الحارث ، فلم يصبه بأذى، حتى إنها شهدت له بالخيرية، فقالت: والله ما رأيت أسيراً قط خيراً من خبيب ، والله لقد وجدته يوما يأكل من قطف عنب في يده، وإنه لموثق في الحديد، وما بمكة من ثمر، وكانت تقول إنه لرزق من الله رزقه خبيبا .
Dan diriwayatkan bahwa ia sempat memegang seorang anak kecil milik putri al-Haarits, namun ia tidak menyakitinya sedikit pun, hingga putri al-Haarits memberikan kesaksian atas kebaikannya. Ia berkata, “Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang tawanan pun yang lebih baik daripada Khubaib. Demi Allah, suatu hari aku mendapatinya sedang makan dari seikat buah anggur di tangannya, padahal ia sedang terbelenggu rantai besi dan di Makkah saat itu tidak ada buah-buahan.” Ia juga berkata, “Sesungguhnya itu adalah rezeki yang Allah berikan kepada Khubaib.”
فلما خرجوا من الحرم ليقتلوه في الحل، قال لهم خبيب ذروني أركع ركعتين، فتركوه فركع ركعتين، ثم قال: لولا أن تظنوا أن ما بي جزع لطولتها، اللهم أحصهم عددا، واقتلهم بددا ولا تبق منهم أحد . ثم قال :
Ketika mereka membawanya keluar dari tanah haram untuk membunuhnya di tanah halal, Khubaib berkata kepada mereka, “Biarkanlah aku mengerjakan shalat dua rakaat.” Mereka pun membiarkannya, lalu ia shalat dua rakaat, kemudian berkata, “Seandainya kalian tidak mengira bahwa aku takut mati, niscaya aku akan memperlama shalatku. Ya Allah, hitunglah jumlah mereka, hancurkanlah mereka tercerai-berai, dan janganlah Engkau sisakan seorang pun dari mereka.” Kemudian ia melantunkan syair:
ولست أبالي حين أقتل مسلماً على أي جنب كان في الله مصرعي
وذلك في ذات الإله و إن يشـأ يبارك على أوصال شلو ممــزع
Aku tidak peduli ketika aku dibunuh sebagai seorang Muslim… di bagian lambung mana pun kematianku terjadi di jalan Allah.
Yang demikian itu adalah demi Dzat Yang Maha Kuasa, dan jika Dia menghendaki… Dia akan memberkahi potongan-potongan jasad yang tercabik-cabik.
وكان خبيب أول من سن الركعتين لكل امرئ مسلم قتل صبرا، والحادثة رواها البخاري في صحيحه .
Khubaib adalah orang pertama yang menuntunkan (sanna) shalat dua rakaat bagi setiap orang Muslim yang dibunuh dalam keadaan tertawan (qatla shabran). Peristiwa ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab Shahihnya (Shahiihihii).
وأما زيد بن الدثنة رفت شراه صفوان بن أمية ، فقتله بأبيه يوم بدر وهو أمية بن خلف فعندما أخرجوا زيداً من الحرم إلى التنعيم ليقتلوه، قام رهط من قريش واجتمعوا عليه وكان فيهم أبو سفيان ، فقال أبو سفيان عندما أقبل على زيد : ” أنشدك الله يا زيد ، أتحب أن محمداً عندنا الآن في مكانك تضرب عنقه، وأنك في أهلك ” .
Adapun Zayd bin ad-Datsinah radhiyallaahu ‘anhu, ia dibeli oleh Safwan bin Umayyah, lalu ia membunuhnya sebagai balasan atas kematian ayahnya pada Perang Badar, yaitu Umayyah bin Khalaf. Ketika mereka membawa Zayd keluar dari tanah haram menuju Tan‘im (Tan‘iim) untuk membunuhnya, sekelompok orang Quraisy berdiri dan berkumpul mengepungnya, yang di antara mereka terdapat Abu Sufyan. Abu Sufyan berkata ketika mendekati Zayd, “Aku meminta sumpahmu demi Allah, wahai Zayd, apakah engkau ingin Muhammad berada di tempatmu sekarang ini untuk dipenggal lehernya, sementara engkau berkumpul bersama keluargamu?”
قال: والله ما أحب أن محمداً الآن في مكانه الذي هو فيه تصيبه شوكة تؤذيه، وإني جالس في أهلي، فقال أبو سفيان : ما رأيت من الناس أحداً يحب أحداً كحب أصحاب محمد محمداً . ثم قام مولى لصفوان بقتل زيد رضي الله عنه .
Zayd menjawab, “Demi Allah, aku tidak ingin Muhammad sekarang berada di tempatnya saat ini terkena sebatang duri yang menyakitinya, sementara aku duduk santai di tengah keluargaku.” Maka Abu Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang manusia pun mencintai orang lain seperti cintanya para sahabat Muhammad kepada Muhammad.” Kemudian seorang budak milik Safwan maju untuk membunuh Zayd radhiyallaahu ‘anhu.
وقد عرفت هذه الحادثة المفجعة بالرجيع، نسبة إلى ماء الرجيع الذي وقعت عنده الحادثة . وهذه الحادثة مع أنها فجيعة مؤلمة، إلا أنه يستفاد منها دروس وعبر: أبرزها الحذر من غدر الغادرين، وعدم الاعتماد على عهود الكافرين، إضافة إلى أهمية الصبر وأثره في حياة المؤمن، وخاصة في المواقف الحرجة والصعبة، فالصبر هو طريق الجنة الموصل إليها،
Peristiwa yang tragis ini dikenal dengan nama peristiwa ar-Raji‘ (ar Rajii‘), dinisbatkan kepada mata air ar-Raji‘ tempat terjadinya peristiwa tersebut. Peristiwa ini, meskipun merupakan tragedi yang memilukan, mengandung banyak pelajaran dan hikmah (‘ibar). Yang paling menonjol adalah keharusan untuk waspada terhadap kelicikan orang-orang yang berkhianat, tidak bersandar pada janji-janji orang kafir (al kaafiriin), di samping pentingnya kesabaran (as sabr) serta pengaruhnya dalam kehidupan seorang mukmin, khususnya dalam situasi-situasi kritis dan sulit. Sebab, sabar adalah jalan yang menyampaikan menuju surga.
{أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ويعلم الصابرين} [آل عمران: 142]
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” [‘Aali ‘Imraan: 142]
وتفيد أيضاً كيف أن الله سبحانه يكرم بعض عباده بكرامات تزيد إيمان أوليائه، وتؤثر في نفوس أعدائه، وأن الأمور بخواتيمها، فمن مات صابراً محتسباً له البشارة من الله،
Peristiwa ini juga memberikan pelajaran tentang bagaimana Allah Subhaanahu memuliakan sebagian hamba-Nya dengan karamah-karamah (karaamaat) yang menambah keimanan para kekasih-Nya serta mempengaruhi jiwa musuh-musuh-Nya. Di samping itu, sesungguhnya setiap perkara dinilai dari akhirnya (bi khawaatiimihaa); barangsiapa yang wafat dalam keadaan sabar dan mengharap pahala (muhtasiban), maka ia mendapatkan kabar gembira dari Allah.
{ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين} [البقرة: 155]
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” [Al-Baqarah: 155]
ويستفاد من الحادثة أن الله سبحانه يبتلي عبده المؤمن بما شاء، وتفيد أيضاً استجاب الله دعاء المسلم وإكرامه حياً وميتاً، وتفيد كذلك اللجوء إلى الله تعالى وقت الشدة، وفي هذه الحادثة برزت المحبة لرسول الله صلى الله عليه وسلم والدفاع عنه .
Pelajaran lain yang dapat diambil dari peristiwa ini adalah bahwa Allah Subhaanahu menguji hamba-Nya yang mukmin dengan apa saja yang Dia kehendaki. Peristiwa ini juga menunjukkan bagaimana Allah mengabulkan doa seorang Muslim serta memuliakannya baik ketika hidup maupun setelah wafatnya. Selain itu, ia mengajarkan pentingnya berserah diri dan berlindung kepada Allah Ta‘aala di saat genting. Dalam tragedi ini, tampak jelas betapa agungnya rasa cinta kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta pembelaan terhadap beliau.
والله أعلم .
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply