Kitab-Kitab Himpunan Hadits-Hadits Hukum (2)



الكتب الجامعة لأحاديث الأحكام

Kitab-Kitab Himpunan Hadits-Hadits Hukum (Bagian Kedua – Terakhir)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Kitab-Kitab Himpunan Hadits-Hadits Hukum (Bagian Kedua – Terakhir) ini masuk dalam Kategori Hadits

3- عمدة الأحكام :

3. ‘Umdat al-Ahkaam :

للإمام الحافظ تقي الدين عبد الغني بن عبد الواحد المقدسي الجماعيلي ” ثم ” الدمشقي (541 ـ 600هـ) ، وهو يشتمل على أربعمائة وتسعة عشر حديثـًا من أعلى أنواع الصحيح ، مما اتفق عليه الشيخان البخاري ومسلم في صحيحيهما ، فكان كتابه هذا عمدة الأحكام حقـًا ، وهو كتاب قريب لكل إنسان ، ولا يستغني عنه الطالب ولا المتبحر في العلم .

Karya Imam al-Hafidz Taqiyuddin ‘Abdul Ghaniy bin ‘Abdul Waahid al-Maqdisiy al-Jamaa‘iiliy kemudian ad-Dimasdqiy (541–600 H). Kitab ini memuat empat ratus sembilan belas hadits dari tingkatan keshahihan yang paling tinggi, yaitu hadits-hadits yang disepakati (muttafaqun ‘alayhi) oleh asy-Syaykhayn (Imam al-Bukhaariy dan Muslim) di dalam kedua kitab Shahih mereka. Maka kitab beliau ini benar-benar menjadi pilar hukum (‘umdatul ahkaam) yang nyata, sebuah kitab yang dekat bagi setiap manusia, serta tidak dapat ditinggalkan oleh seorang penuntut ilmu maupun orang yang telah mendalam ilmunya.

وقد شرحه الإمام تقي الدين محمد بن علي القشيري المعروف بابن دقيق العيد شرحًا وسطًا ، وقد قال عن هذا الشرح شيخ الإسلام ابن تيمية : إنه كتاب الإسلام ، وإنه ما عمل أحد مثله ، ولا الحافظ الضياء ، ولا جدَّي أبو البركات ، ثم جاء علامة اليمن ومحيي علوم السنة في وقته السيد البدر محمد بن إسماعيل الأمير الحسني الصنعاني شارح كتاب بلوغ المرام المتقدم ذكره، فكتب حاشية نفيسة على كتاب شرح العمدة .

Kitab ini telah disyarah oleh Imam Taqiyuddin Muhammad bin ‘Aliy al-Qusyayriy yang dikenal dengan Ibnu Daqiiqil ‘Ied dengan penjelasan yang ringkas-sedang (syarhan wasathan). Mengenai syarah ini, Syaikhul Islam (Syaiikhul Islaam) Ibnu Taimiyah berkata: “Sesungguhnya ia adalah kitabnya Islam, dan sesungguhnya belum ada seorang pun yang mampu membuat karya seperti itu, tidak pula al-Hafidz adh-Dhiyaa’, dan tidak juga kakekku Abu al-Barakat.” Kemudian datang ulama besar (‘allaamah) negeri Yaman sekaligus penghidup ilmu-ilmu sunnah di zamannya, yaitu As-Sayyid al-Badr Muhammad bin Ismaa‘iil al-Amiir al-Hasaniy as-Shan‘aaniy—penyarah kitab Buluughul Maraam yang telah disebutkan sebelumnya—lalu beliau menulis catatan kaki yang sangat bernilai (haasyiyah nafiiisah) atas kitab syarah al-‘Umdah tersebut.

4- تقريب الأسانيد وترتيب المسانيد :

4. Taqriib al-Asaaniid wa Tartbiib al-Masaaniid :

لمجدد المائة الثامنة زين الدين أبي الفضل عبد الرحيم بن الحسين العراقي المولود عام (725هـ) المتوفى عام (806 هـ) . جمع فيه أحاديث الأحكام لابنه أبي زرعة .

Karya sang pembaharu (mujaddid) abad ke-8 Hijriah, Zaynuddin Abu al-Fadhl ‘Abdul Rahiim bin al-Husain al-‘Iraaqiy yang lahir pada tahun 725 H dan wafat pada tahun 806 H. Beliau mengumpulkan di dalamnya hadits-hadits hukum untuk putranya yang bernama Abu Zur‘ah.

قال في خطبته : ( وبعد فقد أردت أن أجمع لابنى أبي زرعة مختصراً في أحاديث الأحكام يكون متصل الأسانيد بالأئمة الأعلام فإنه يقبح بطالب الحديث ألا يحفظ بإسناده عدة من الأخبار يستغني بها عن حمل الأسفار في الأسفار وعن مراجعة الأصول عند المذاكرة والاستحضار … ثم قال : ولما رأيت صعوبة حفظ الأسانيد في هذه الأعصار لطولها وكان قصر أسانيد المتقدمين وسيلة لتسهيلها رأيت أن أجمع أحاديث عديدة في تراجم محصورة وتكون تلك التراجم فيما عُدَّ من أصح الأسانيد إما مطلقاً على قول من عممه أو مقيداً بصحابي تلك الترجمة ) ، ثم أخذ يبين طريقته في نقله عن الكتب وعزوه إليها . وهو كتاب عظيم في بابه .

Beliau berkata dalam khotbah pembukaannya: “Amma ba’du, sesungguhnya aku bermaksud untuk mengumpulkan sebuah ringkasan hadits-hadits hukum bagi putraku, Abu Zur‘ah, yang sanad-sanadnya bersambung (muttashilal asaaniid) hingga para imam terkemuka. Karena sesungguhnya merupakan hal yang buruk bagi seorang penuntut ilmu hadits jika ia tidak menghafal sejumlah riwayat beserta sanadnya yang dapat membuatnya tidak perlu membawa kitab-kitab tebal (hamlal asfaar) dalam safar-safarnya (fii al-asfaar), serta tidak perlu membuka kembali kitab-kitab induk saat melakukan diskusi (al-mudzaakarah) dan menghadirkan hafalan… Kemudian beliau berkata: Dan ketika aku melihat sulitnya menghafal sanad-sanad pada masa-masa sekarang ini karena saking panjangnya, padahal pendeknya sanad para ulama terdahulu merupakan sarana untuk mempermudahnya, maka aku berpandangan untuk mengumpulkan hadits yang banyak dalam ulasan biografi (taraajim) yang terbatas. Ulasan-ulasan biografi tersebut berada pada jalur yang dikategorikan sebagai sanad yang paling shahih (ashahh al-asaaniid), baik secara mutlak menurut pendapat orang yang menggeneralisasikannya, atau terikat dengan shahabat pemilik biografi tersebut.” Kemudian beliau mulai menjelaskan metodenya dalam menukil dari kitab-kitab dan menisbatkan hadits kepadanya. Ini adalah kitab yang sangat agung di bidangnya.

وقد شرح تقريب الأسانيد هذا مؤلفه نفسه وقد بدأ الشرح بمقدمة في تراجم رجال إسناده وضم إليهم من وقع له ذكر في أثناء الكتاب لعموم الفائدة .

Kitab Taqriib al-Asaaniid ini telah disyarah oleh penyusunnya sendiri, di mana beliau memulai syarah tersebut dengan sebuah mukadimah mengenai biografi para perawi sanadnya (taraajim rijaali isnaadihii), serta menggabungkan orang-orang yang namanya disebutkan di pertengahan kitab ke dalam mukadimah tersebut demi meluaskan faedah.

ولكنه لم يكمل هذا الشرح بل شرح منه عدة مواضع وقد أكمله ابنه أبو زرعة المذكور المتوفى سنة (826 هـ) واسم هذا الشرح : ( طرح التثريب في شرح التقريب ) وهو كتاب حافل بالفوائد والأبحاث جرى فيه مؤلفه على البحث العلمي الحر دون تعصب لمذهب من المذاهب وإن كان مذهبه ، مما رفع من شأن هذا الكتاب أضف إلى ذلك ما شحنه به من النكت الفقهية والفوائد الحديثية .

Akan tetapi, beliau tidak merampungkan syarah ini melainkan hanya menjelaskan beberapa bagian saja. Syarah ini kemudian disempurnakan oleh putranya, yaitu Abu Zur‘ah yang telah disebutkan di atas yang wafat pada tahun 826 H. Nama kitab syarah ini adalah Tharh at-Tatsriib fii Syarh at-Taqriib. Ini merupakan kitab yang penuh dengan faedah dan pembahasan mendalam, di mana penyusunnya berjalan di atas metode penelitian ilmiah yang bebas tanpa ada sikap fanatik (ta‘ashshub) terhadap suatu mazhab tertentu meskipun mazhab tersebut adalah mazhabnya sendiri. Hal inilah yang mengangkat kedudukan kitab ini, di samping banyaknya muatan poin-poin fikih yang mendalam (an-nukat al-fiqhiyyah) serta faedah-faedah dalam bidang hadits di dalamnya.

والله أعلم .

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.