تشريع الجهاد في المدينة
Syariat Jihad di Madinah (Bagian Pertama)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Syariat Jihad di Madinah (Bagian Pertama) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
شرع الجهاد لأول مرة في العهد المدني ، وقبل ذلك كان المسلمون مأمورين بعدم استعمال القوة في مواجهة المشركين وأذاهم، فكان الشعار المعلن :
Jihad disyariatkan untuk pertama kalinya pada periode Madinah (al ‘ahd al madaniy). Sebelum itu, kaum Muslimin diperintahkan untuk tidak menggunakan kekuatan dalam menghadapi kaum musyrik dan gangguan mereka, sehingga syiar yang dikumandangkan adalah:
{كفوا أيديكم وأقيموا الصلاة} [النساء: 77]
“Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat.” [An-Nisaa’: 77]
فقد كانت الدعوة في المرحلة المكية جديدة مثل النبتة الصغيرة تحتاج إلى الماء الغذائي والوقت لترسخ جذورها وتقوى على مواجهة العواصف ، فلو واجهت الدعوة آنذاك المشركين بحد السيف فإنهم يجتثونها ويقضون عليها من أول الأمر ، فكانت الحكمة تقتضي أن يصبر المسلمون على أذى المشركين ، وأن يتجهوا إلى تربية أنفسهم ونشر دعوتهم .
Sebab, dakwah pada fase Makkah (al marhalah al makkiyyah) masih baru, ibarat tanaman kecil yang membutuhkan air, nutrisi, dan waktu untuk memperkokoh akar-akarnya agar kuat menghadapi badai. Jika dakwah saat itu menghadapi kaum musyrik dengan mata pedang, niscaya mereka akan mencabutnya hingga ke akar-akar dan memusnahkannya sejak awal. Oleh karena itu, hikmah menuntut kaum Muslimin untuk bersabar atas gangguan kaum musyrik, serta memfokuskan diri untuk membina diri mereka dan menyebarkan dakwah.
فلما قامت للإسلام دولة في المدينة، شرع الله الجهاد دفاعاً عن النفس فقط في أول الأمر :
Ketika Daulah Islam tegak di Madinah, Allah menyariatkan jihad untuk membela diri saja pada awalnya:
{أذن للذين يقاتلون بأنهم ظلموا وإن الله على نصرهم لقدير} [الحج: 39]
“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” [Al-Hajj: 39]
{وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا إن الله لا يحب المعتدين} [البقرة: 190]
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Baqarah: 190]
ثم أذن بمبادرة العدو للتمكين للعقيدة من الانتشار دون عقبات، ولصرف الفتنة عن الناس ليتمكنوا من اختيار الدين الحق بإرادتهم الحرة :
Kemudian diizinkan untuk memulai serangan terhadap musuh demi mengukuhkan akidah (al ‘aqiidah) agar tersebar tanpa hambatan, serta untuk menjauhkan fitnah dari manusia sehingga mereka mampu memilih agama yang benar dengan kehendak bebas mereka:
{وقاتلوهم حتى لا تكون فتنة ويكون الدين لله} [البقرة: 193]
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya bagi Allah semata.” [Al-Baqarah: 193]
وقد التزم المقاتلون المسلمون بضوابط الحق والعدل والرحمة، فسجل التاريخ لهم انضباطهم الدقيق، حيث لم ترد أية إشارة إلى القيام بمجازر، أو سلب الأموال، أو الاعتداء على الأعراض في المناطق المفتوحة مما يقع عادة في الحروب المدنية خلال مراحل التأريخ المختلفة .
Para pejuang Muslim senantiasa memegang teguh batasan-batasan kebenaran, keadilan, dan kasih sayang. Sejarah mencatat kedisiplinan mereka yang sangat ketat, di mana tidak ada satu pun catatan mengenai pembantaian, penjarahan harta benda, atau pelecehan terhadap kehormatan di wilayah-wilayah yang dibebaskan (al manaathiq al maftuuhah), yang biasanya lazim terjadi dalam perang sipil di berbagai fase sejarah.
وقبل ذلك كله لم تفرض العقيدة الإسلامية بالقوة على سكان المناطق المفتوحة ، بل سمح لأهل الكتاب بالمحافظة على أديانهم الأخرى ، ولا زالوا يعيشون بأديانهم حتى الوقت الحاضر بسبب السماحة الدينية .
Di samping itu semua, akidah Islam (al ‘aqiidah al islaamiyyah) tidak pernah dipaksakan dengan kekerasan kepada penduduk di wilayah-wilayah yang dibebaskan tersebut. Sebaliknya, Ahli Kitab (ahlul kitaab) diizinkan untuk mempertahankan agama mereka masing-masing, dan mereka masih tetap hidup dengan agama mereka hingga masa sekarang karena adanya toleransi beragama.
وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يبين للمسلمين ضرورة اقتران النية بالجهاد ، وأن لا يكون الدافع إلى القتال الحصول على الغنائم، أو الرغبة في الشهرة والمجد الشخصي، أو الوطني، فقد سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الرجل يقاتل شجاعة، ويقاتل حمية، ويقاتل رياءً، أي ذلك في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menjelaskan kepada kaum Muslimin tentang urgensi menyertakan niat (an niyyah) dalam berjihad (al jihaad). Beliau menekankan agar dorongan untuk berperang bukanlah demi meraih harta rampasan perang (al ghanaa-im), popularitas, kejayaan pribadi, atau nasionalisme. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberanian, berperang karena kesukuan (hamiyyah), atau berperang karena ria (riyaa’), manakah di antara semua itu yang berada di jalan Allah (fii sabiilillaah)? Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله”
“Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah.” (HR. Muslim)
بل لا بد من إخلاص النية لله بأن لا يقترن القصد من الجهاد بأي غرض دنيوي لأن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان خالصا له وابتغي به وجهه .
Bahkan, niat harus benar-benar diikhlaskan karena Allah dengan tidak mencampuradukkan tujuan jihad dengan kepentingan duniawi apa pun, karena Allah tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang murni untuk-Nya dan mengharapkan wajah-Nya semata.
وفي الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
Dan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“تضمَّن الله لمن خرج في سبيله ، لا يخرجه إلا جهاداً في سبيلي ، وإيماناً بي ، وتصديقاً برسلي ، فهو عليَّ ضامن أن أدخله الجنة ، أو أرجعه إلى مسكنه الذي خرج منه نائلاً ما نال من أجر أو غنيمة ، والذي نفس محمد بيده ما من كلم ـ جرح ـ يكلم في سبيل الله إلا ما جاء يوم القيامة كهيئته حين كلم ، لونه لون دم ، وريحه مسك ، والذي نفس محمد بيده ، لولا أن يشق على المسلمين ما قعدت خلاف سرية تغزو في سبيل الله أبداً ، ولكن لا أجد سعة فأحملهم ، ولا يجدون سعة ، ويشق عليهم أن يتخلفوا عني ، والذي نفس محمد بيده ! لوددت أن أغزو في سبيل الله فأقتل ، ثم أغزو فأقتل ، ثم أغزو فأقتل”
“Allah menjamin bagi orang yang keluar di jalan-Nya, di mana tidak ada yang menyebabkannya keluar selain untuk berjihad di jalan-Ku, beriman kepada-Ku, dan membenarkan para Rasul-Ku, maka Dia menjamin untuk memasukkannya ke dalam surga, atau mengembalikannya ke tempat tinggalnya yang semula ia keluar darinya dengan membawa pahala atau harta rampasan perang yang diraihnya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada satu luka pun yang terluka di jalan Allah, melainkan ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan seperti saat ia terluka; warnanya warna darah dan aromanya aroma kesturi. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya tidak memberatkan kaum Muslimin, niscaya aku tidak akan pernah duduk tinggal di belakang pasukan (sariyyah) yang berperang di jalan Allah selama-lamanya. Akan tetapi, aku tidak menemukan kelapangan harta untuk membawa mereka, dan mereka pun tidak memiliki kelapangan, serta sangat berat bagi mereka untuk tertinggal dariku. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh aku sangat menginginkan untuk berperang di jalan Allah lalu aku terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh, kemudian berperang lagi lalu terbunuh.” (HR. Muslim)
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply