Batas Masa Mutaqaddimin dan Mutaakhirin



الحد الفاصل بين المتقدمين والمتأخرين

Batas Masa Mutaqaddimin dan Mutaakhirin

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Batas Masa Mutaqaddimin dan Mutaakhirin ini masuk dalam Kategori Tarikh

الصواب أن عصر السلف الصالح ينتهي بحدود عام ٣٠٠ هـ، فيكون النسائي (وهو آخر الأئمة الستة أصحاب الكتب المشهورة في السنة) هو خاتمة السلف حيث توفي سنة ٣٠٣ هـ.

Pendapat yang tepat adalah bahwa masa Salafush Shalih berakhir sekitar tahun 300 H, Imam An-Nasa’i yang merupakan salah satu dari enam imam yang terkenal dengan kitab-kitab mereka dalam Sunnah adalah penutup generasi Salafus Shalih, karena beliau meninggal pada tahun 303 H.

وكل من توفي بعد ذلك لا يعتبر من السلف. هذا نهاية عهد السلف وليس السلفيين، فلا تنافي بين بقاء طائفة على منهج السلف، وبين انقضاء عهد السلف أنفسهم. وقد ذكر الذهبي في مقدمة الميزان أن نهاية زمن المتقدمين هو رأس الثلاثمئة.

Semua orang yang meninggal setelah itu tidak dianggap sebagai bagian dari generasi Salaf. Ini merupakan akhir dari masa Salaf tapi bukan akhir Salafiyin, sehingga tidak bertentangan antara kelompok yang tetap mempertahankan metodologi Salaf dan berakhirnya masa Salaf itu sendiri. Adz Dzahabi juga menyebutkan dalam pendahuluan Al Mizan bahwa akhir zaman generasi Mutaqaddimin adalah pada awal abad ketiga hijriyah

وإذا نظرنا فإن الجيل الرابع وهو جيل الآخذين عن أتباع التابعين ومن كبارهم أحمد ومن صغارهم النسائي، فإنه ينتهي بنهاية القرن الثالث.

Jika kita perhatikan, generasi keempat, yaitu generasi yang belajar kepada para Tabi’ at Tabi’in, – misalnya di antara yang terkemuka dari mereka adalah Imam Ahmad, dan yang paling muda adalah Imam An Nasaa’i, – masanya berakhir pada akhir abad ketiga.

وفي حديث “خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم…” لم يدر الصحابي –رضي الله عنه– أذكر قرنا أم قرنين. أي أن القرون المفضلة ثلاثة أو أربعة، فإن كانت أربعة فنهاية الرابع تكون بانقضاء المئة الثالثة. والمقصود بالقرن هو الجيل من الناس بلا شك.

Hadits yang populer “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian yang mengikuti mereka, kemudian yang mengikuti mereka …, sahabat – semoga Allah meridhainya – tidak yakin apakah Nabi menyebut qurna  (satu generasi) atau qurnayni (dua generasi). Ini berarti bahwa generasi terbaik bisa tiga atau empat generasi. Jika empat generasi, maka akhir dari generasi keempat akan berada pada akhir dari seratus tahun ketiga. Yang dimaksud dengan “generasi” di sini adalah generasi manusia – tidak ada keraguan tentang hal tersebut.

دليل ذلك «ثم الذين يلونهم» فهو يتكلم عن البشر لا السنين. و الجيل من الناس لا يبلغ قرناً، بل هو ثلاثة أرباع القرن، فإنك تجد التابعين ينتهي عهدهم سنة ١٥٠ (في المتوسط) وأتباع التابعين في الربع الأول من القرن الثالث، أما من روى عن أتباع التابعين فينتهي عهدهم بنهاية القرن الثالث. إذا الأجيال الأربعة الأولى تنتهي بسنة ٣٠٠.

Buktinya ada pada frasa “kemudian mereka yang setelahnya”. Para frasa itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam berbicara tentang manusia, bukan tentang tahun. Dan satu generasi manusia tidaklah mencapai satu abad, melainkan tiga perempat abad. Kita menemukan bahwa masa para tabi’iin berakhir pada tahun 150 Hijriyah (rata-rata), masa para Tabi’ at Tabi’in pada seperempat pertama abad ketiga hijriyah, dan masa para perawi yang mengikuti para tabi’ tabi’iin berakhir pada akhir abad ketiga. Jadi, empat generasi pertama berakhir pada tahun 300 Hijriyah.

(ملاحظة: هذا في المتوسط وإلا فآخر الصحابة موتاً كان سنة ١١٠ وهو الطفيل رضي الله عنه. وآخر التابعين موتاً: خلف بن خليفة سنة ١٨٠، وآخر من كان في أتباع التابعين ممن يقبل قوله من عاش إلى حدود ٢٢٠).

Catatan: Ini adalah rata-rata, kecuali beberapa sahabat terakhir meninggal pada tahun 110, seperti Ath-Thufail bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Dan yang terakhir dari tabi’in meninggal: Khalaf bin Khalifah pada tahun 180, dan yang terakhir dari pengikut tabi’in yang ucapan mereka diterima hidup sampai sekitar tahun 220.

وهذا الرأي وجيه وله حظ من القوة، ففي تلك القرون عاش الجهابذة الذين كان لهم قصب السبق في حفظ السنة والذب عنها وبيان صحيحها من معلولها، وكان لهم المؤلفات الضخمة في الحديث والرجال والعلل وغيرها. إلا أنه وجد بعد الثلاثمئة من الأئمة من سار على منهج المتقدمين وحذا على قواعدهم وطرائقهم، فهو ملحق بهم.

Pendapat ini masuk akal dan memiliki kekuatan tersendiri. Pada zaman-zaman itu, hiduplah para ulama besar yang memimpin dalam menjaga sunnah, menjauhkan diri dari penyimpangan, dan menjelaskan kebenarannya dari kesalahan yang mungkin terjadi. Mereka memiliki karya-karya besar dalam hadits, biografi tokoh, kritik hadis, dan bidang lainnya. Namun, setelah tiga ratus tahun, ditemukan beberapa imam yang mengikuti jejak para pendahulu dan mengadopsi metodologi serta prinsip-prinsip mereka, sehingga mereka termasuk ke dalam golongan ini.

ِAllahu Ta’ala ‘A’lam



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.