Siapa Cinta Bertemu Allah, Maka Allah Cinta Bertemu Dengannya



Siapa Cinta Bertemu Allah, Maka Allah Cinta Bertemu Dengannya

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Siapa Cinta Bertemu Allah, Maka Allah Cinta Bertemu Dengannya ini masuk dalam Kategori Hadits

w

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعـد:

فقد بين المصطفي صلى الله عليه وسلم معنى ذلك، كما في الصحيحين عن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: 

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah menjelaskan makna dari hadits tersebut, sebagaimana yang termuat dalam dua kitab shahih (Bukhari dan Muslim) dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda :

مَن أحَبَّ لقاءَ اللهِ أحَبَّ اللهُ لقاءَه ومَن كرِه لقاءَ اللهِ كرِه اللهُ لقاءَه

“Barang siapa yang mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah mencintai pertemuan dengannya, dan barang siapa yang membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya.”

. فقلت: يا نبي الله أكراهية الموت؟ فكلنا نكره الموت. فقال: ليس كذلك، ولكن المؤمن إذا بشر برحمة الله ورضوانه وجنته أحب لقاء الله فأحب الله لقاءه، وإن الكافر إذا بشر بعذاب الله وسخطه كره لقاء الله وكره الله لقاءه.

Maka aku (Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata: “Wahai Nabi Allah, apakah maksudnya kebencian terhadap kematian ? Karena kita semua membenci kematian.” Beliau bersabda: “Bukan begitu, tetapi seorang mukmin ketika diberi kabar gembira dengan rahmat Allah, keridhaan-Nya, dan surga-Nya, maka ia mencintai pertemuan dengan Allah dan Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Sedangkan orang kafir ketika diberi kabar dengan azab Allah dan kemurkaan-Nya, maka ia membenci pertemuan dengan Allah dan Allah pun membenci pertemuan dengannya.”

وذلك أن المؤمن يؤمن بما أعد الله للمؤمنين في الجنة من الثواب الجزيل والعطاء العميم الواسع فيحب ذلك وترخص عليه الدنيا ولا يهتم بها، لأنه سوف ينتقل إلى خير منها،. فحينئذ يحب لقاء الله،

Dan hal itu karena orang mukmin percaya dengan apa yang Allah sediakan untuk orang-orang mukmin di surga berupa pahala yang besar dan anugerah yang luas, sehingga ia mencintai hal tersebut dan dunia menjadi ringan baginya serta ia tidak peduli dengannya, karena ia akan berpindah ke tempat yang lebih baik dari dunia ini. Karena itulah ia mencintai pertemuan dengan Allah.

 ولاسيما عند الموت إذا بشر بالرضوان والرحمة فإنه يحب لقاء الله عز وجل ويتشوق إليه فيحب الله لقاءه.

Terutama ketika ajal tiba dan ia diberi kabar gembira dengan keridhaan dan rahmat-Nya, maka dia mencintai pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla dan sangat merindukannya, sehingga Allah pun mencintai pertemuan dengannya.

أما الكافر والعياذ بالله فإنه إذا بشر بعذاب الله وسخطه كره لقاء الله فكره الله لقاءه. شرح رياض الصالحين للعثيمين

Adapun orang kafir, semoga Allah melindungi kita darinya, ketika ia diberi kabar dengan azab Allah dan kemurkaan-Nya, ia membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah pun membenci pertemuan dengannya. Penjelasan Riyadhus Shalihin oleh Al-Utsaimin.

وقال النووي في شرح صحيح مسلم:

Imam Nawawi berkata dalam syarh (penjelasan) beliau atas Shahih Muslim :

 وَمَعْنَى الْحَدِيث: أَنَّ الْكَرَاهَة الْمُعْتَبَرَة هِيَ الَّتِي تَكُون عِنْد النَّزْع فِي حَالَةٍ لَا تُقْبَل تَوْبَته وَلَا غَيْرهَا، فَحِينَئِذٍ يُبَشَّر كُلّ إِنْسَان بِمَا هُوَ صَائِر إِلَيْهِ، وَمَا أُعِدَّ لَهُ، وَيُكْشَف لَهُ عَنْ ذَلِكَ.

“Makna hadits ini adalah bahwa kebencian yang dimaksud adalah yang terjadi pada saat sakaratul maut dalam keadaan di mana taubatnya tidak diterima dan tidak ada hal lainnya pula yang diterima (dari amal-amalnya). Pada saat itu, setiap orang diberitahukan tentang apa yang akan terjadi padanya dan apa yang telah disiapkan untuknya, pada saat itu hal-hal tersebut akan diungkapkan kepadanya.”

— Selesai Kutipan dari Imam an Nawawi —

وفي هذا الحديث إثبات صفة المحبة لله، وكذلك الكراهة، فهما صفتان ثابتتان لله تعالى على الوجه اللائق بجلاله، كما هو الشأن في سائر صفاته،

Dalam hadits ini terdapat penetapan sifat cinta dan benci bagi Allah. Kedua sifat tersebut merupakan sifat-sifat yang tetap bagi Allah Ta’ala dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, sebagaimana halnya sifat-sifat-Nya yang lain.

فأهل السنة والجماعة يثبتون لله سبحانه جميع ما وصف به نفسه في كتابه ووصفه به رسوله صلى الله عليه وسلم، من غير تحريف ولا تعطيل، ومن غير تكييف ولا تمثيل.

Ahlus Sunnah wal Jamaah meng-itsbat (menetapkan) bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala semua yang Dia sifatkan untuk diri-Nya dalam kitab-Nya dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa salam, tanpa tahrif (menyelewengkan), tanpa ta’thil (meniadakan/mengosongkan) maknanya, tanpa takyif (menggambarkan), juga tanpa tamtsil (menyerupakan Allah Ta’ala dengan makhluk).

Allahu Ta’ala ‘A’lam

Dikompilasikan oleh Reza Ervani bin Asmanu dari Islamweb.net



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.