Lafazh (al-Ikhbat) dalam Al-Qur’an



لفظ (الإخبات) في القرآن

Lafazh (al-Ikhbat) dalam Al-Qur’an

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Lafazh (al-Ikhbat) dalam Al-Qur’an ini masuk dalam Kategori Bahasa Al-Quran

ورد لفظ (الإخبات) في القرآن الكريم في ثلاثة مواضع هي؛ قوله تعالى:

Lafazh al ikhbaat disebutkan di dalam al Qur-aan al kariim pada tiga tempat, yaitu firman Allah Ta’aala:

{إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات وأخبتوا إلى ربهم أولئك أصحاب الجنة هم فيها خالدون} [هود:23]

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan merendahkan diri kepada Tuhan mereka, mereka itu adalah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” [Huud: 23]

وقوله سبحانه:

Dan firman-Nya Subhaanahu:

{فإلهكم إله واحد فله أسلموا وبشر المخبتين} [الحج:34]

“Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahlah diri kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” [al Hajj: 34]

وقوله عز من قائل:

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla:

{وليعلم الذين أوتوا العلم أنه الحق من ربك فيؤمنوا به فتخبت له قلوبهم} [الحج:54]

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Quran itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya.” [al Hajj: 54]

وكان من دعائه صلى الله عليه وسلم:

Dan di antara doa beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah:

(رب اجعلني لك شكَّارًا، لك ذكَّارًا، لك رهَّابًا، لك مِطواعًا، إليك مخبتًا، لك أوَّاهًا منيبًا)

“Wahai Tuhanku, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak berdzikir kepada-Mu, sangat takut kepada-Mu, sangat taat kepada-Mu, sangat tunduk (mukhbitan) kepada-Mu, serta banyak merintih dan kembali kepada-Mu.” (HR. Ahmad dan para penyusun kitab Sunan kecuali an Nasaa-iy)

وأيضًا قوله صلى الله عليه وسلم:

Dan juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

(اللهم إنَّا نسألك قلوبًا أوَّاهة مخبتة منيبة في سبيلك)

“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu hati yang banyak merintih (karena takut kepada-Mu), tunduk patuh, dan kembali di jalan-Mu.” (HR. al Haakim)

وأصل (الإخبات) في اللغة من الخَبْت، وهو المكان المنخفض والمطمئن من الأرض، ضد المُصعد والمرتفع؛ ثم استعير لمعنى التواضع، كأن المخبت سلك نفسه في الانخفاض، فأصبحت سهلة سمحة مطواعة؛ ويقال: فيه خِبْتة، أي: تواضع ودماثة.

Asal kata al ikhbaat secara bahasa berasal dari kata al khabt, yaitu tempat yang rendah dan tenang di bumi, lawan kata dari tempat yang menanjak dan tinggi. Kemudian kata ini dipinjam (sebagai metafora) untuk makna tawadhu (rendah hati), seolah-olah orang yang melakukan ikhbaat menempatkan dirinya di tempat yang rendah, sehingga ia menjadi mudah, toleran, dan penurut. Dikatakan: fiihi khibtah, artinya: pada dirinya terdapat ketawadhuan dan keluhuran budi.

وبناء على هذا الأصل اللغوي تفرع القول في معنى (الإخبات) فقالوا في معناه: هو الخشوع، والخضوع، والتواضع؛ يقال: أخبت لله، خشع؛ وأخبت، تواضع؛ وأخبت إلى ربه، أي: اطمأن إليه؛ وقد رُوي عن مجاهد في قوله عز وجل: {وبشر المخبتين} قال: هم المطمئنون، وقيل: هم المتواضعون؛ والمراد بهم المؤمنون؛ لأن التواضع من شيمهم، كما أن التكبر من سمات المشركين.

Berdasarkan asal linguistik ini, muncul berbagai pendapat mengenai makna al ikhbaat. Mereka berkata dalam maknanya: yaitu khusyu’, khudhu’, dan tawadhu. Dikatakan: akhbata lillaah (ia khusyuk kepada Allah); akhbata (ia bertawadhu); akhbata ilaa rabbihi (artinya ia merasa tenang/tentram kepada Tuhannya). Telah diriwayatkan dari Mujaahid mengenai firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (al-mukhbitin)”, ia berkata: Mereka adalah orang-orang yang tenang (al muthma-innuun). Dikatakan pula: Mereka adalah orang-orang yang rendah hati. Yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang mukmin, karena tawadhu adalah karakter mereka, sebagaimana kesombongan adalah ciri kaum musyrik.

قال تعالى:

Allah Ta’aala berfirman:

{كذلك يطبع الله على كل قلب متكبر جبار} [غافر:35]

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” [Ghaafir: 35]

وقال المفسرون في تفسير قوله تعالى: {وأخبتوا إلى ربهم} أي: أطاعوا ربهم أحسن طاعة، وتواضعوا لأمره بامتثاله؛ وأيضًا فُسِّر قوله تعالى: {فتخبت له قلوبهم} بأنه التواضع، أي: فيستقر الحق في قلوبهم فيخضعوا له، ويستسلموا لحكمه، كما قال تعالى في حق إبراهيم الخليل عليه السلام:

Para mufasir berkata dalam menafsirkan firman Allah Ta’aala: “dan merendahkan diri (akhbatuu) kepada Tuhan mereka,” artinya: mereka menaati Tuhan mereka dengan ketaatan yang paling baik, dan tunduk kepada perintah-Nya dengan melaksanakannya. Demikian pula firman Allah Ta’aala: “dan hati mereka tunduk (fatukhbita) kepadanya,” ditafsirkan sebagai ketawadhuan, artinya: kebenaran menetap di dalam hati mereka sehingga mereka tunduk kepadanya dan berserah diri pada hukum-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’aala mengenai Ibraahiim al Khaliil ‘alaihis salaam:

{قال بلى ولكن ليطمئن قلبي} [البقرة:260]

“Allah berfirman: ‘Belum yakinkah kamu?’. Ibrahim menjawab: ‘Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap tenang (li-yathma-inna qalbii)’.” [al Baqarah: 260]

وكما ترى، فإن لفظ (الإخبات) يفيد معنى الخشوع، والخضوع، والتواضع، كما يفيد معنى الهبوط، والنزول؛ وهو على ارتباط وثيق بهذه المعاني كلها، فيشترك معها في كثيرٍ من الدلالات اللغوية، وإن كنا لا نعدم فرقًا طفيفيًا بين كل واحدٍ منها، كما تفيد بذلك كتب الفروق اللغوية.

Sebagaimana yang Anda lihat, lafazh al ikhbaat memberikan makna khusyu’, khudhu’, dan tawadhu, sebagaimana ia juga memberikan makna turun atau merendah. Ia memiliki hubungan yang sangat erat dengan semua makna ini, serta bersekutu dengannya dalam banyak indikasi linguistik, meskipun kita tidak menafikan adanya perbedaan tipis di antara masing-masing istilah tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab al furuuq al lughawiyyah.

ولك أن تلاحظ – أخي القارئ الكريم – أن الآيات والأحاديث السابقة، والتي ذُكر فيها لفظ (الإخبات) أن هذا اللفظ قد جاء فيها مضافًا إلى الله سبحانه وتعالى، ولم يأتِ في القرآن الكريم ذِكْرٌ لهذا اللفظ مضافًا لغير الله تعالى؛ بينما جاء لفظ (التراحم) و(الذل) وصفًا مضافًا للمؤمنين.

Perlu Anda perhatikan—wahai pembaca yang mulia—bahwa ayat-ayat dan hadits-hadits terdahulu yang menyebutkan lafazh al ikhbaat, menunjukkan bahwa lafazh ini datang dalam keadaan disandarkan (mudhaaf) kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala, dan tidak ada penyebutan lafazh ini di dalam al Qur-aan al kariim dalam keadaan disandarkan kepada selain Allah Ta’aala. Sementara lafazh at taraahum dan adz dzull datang sebagai sifat yang disandarkan kepada kaum mukminin.

قال تعالى:

Allah Ta’aala berfirman:

{رحماء بينهم} [الفتح:29]

“berkasih sayang sesama mereka.” [al Fath: 29]

وقال جل علاه:

Dan Allah Jalla ‘Alaahu berfirman:

{أذلة على المؤمنين أعزة على الكافرين} [المائدة:54]

“yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” [al Maa-idah: 54]

ويمكن أن يُستفاد من هذا المَلْحَظ، أن لفظ (الإخبات) ليس تواضعًا فحسب، وإنما هو تواضع مع انقياد؛ فالإخبات لله هو التواضع له سبحانه، وذلك يكون بفعل ما أمر الله به، واجتناب ما نهى عنه، وتعظيم شرعه، والذل والخضوع بين يديه، وتحكيم شرعه في مناحي الحياة كافة، مع القبول والتسليم بكل ما شرع.

Dapat diambil faedah dari poin ini bahwa lafazh al ikhbaat bukan sekadar tawadhu saja, melainkan ketawadhuan yang disertai dengan ketundukan (inqiyaad). Maka al ikhbaat kepada Allah adalah tawadhu kepada-Nya Subhaanahu, yang hal itu diwujudkan dengan mengerjakan apa yang Allah perintahkan, menjauhi apa yang Dia larang, mengagungkan syariat-Nya, merasa rendah dan tunduk di hadapan-Nya, serta menjadikan syariat-Nya sebagai hukum dalam segala aspek kehidupan, disertai dengan penerimaan dan penyerahan diri secara total terhadap segala yang Dia syariatkan.

وإذ تبين هذا، أمكن لنا أن نقول: إن التواضع المجرد، وإن كان فيه لين جانب وسهولة طبع، يفارق معنى (الإخبات) من جهة أن التواضع المجرد، تواضع غير مقرون بالانقياد، أما (الإخبات) فهو تواضع مقرون بالانقياد، وهو الذي امتدح الله به عباده المؤمنين.

Apabila hal ini telah jelas, maka kita dapat mengatakan: Bahwa tawadhu semata, meskipun di dalamnya terdapat kelembutan sikap dan kemudahan karakter, berbeda dengan makna al ikhbaat dari sisi bahwa tawadhu semata adalah ketawadhuan yang tidak disertai dengan ketundukan (inqiyaad). Adapun al ikhbaat adalah tawadhu yang disertai dengan ketundukan, dan itulah yang dipuji oleh Allah pada hamba-hamba-Nya yang beriman.

نسأل الله أن ينفعنا بالقرآن العظيم، وأن يجعله حجة لنا لا حجة علينا، وأن يجعلنا من الذين يجمعون بين القول والعمل في سلوكهم، ومن الذين وصفهم الله سبحانه بقوله: {وأخبتوا إلى ربهم}.

Kami memohon kepada Allah agar memberikan manfaat kepada kita melalui al Qur-aan al ‘azhiim, menjadikannya pembela bagi kita dan bukan penggugat atas kita, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang menggabungkan antara ucapan dan perbuatan dalam perilakunya, dan termasuk orang-orang yang Allah Subhaanahu sifati dengan firman-Nya: “dan merendahkan diri (akhbatuu) kepada Tuhan mereka.”

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.