المرأة التي سمع الله كلامها (الجزء 2 والأخير)
Wanita yang Allah Mendengar Perkataannya (Bagian 2 – Terakhir)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Wanita yang Allah Mendengar Perkataannya ini masuk dalam Kategori Asbabun Nuzul
ثم أخذت تحاور رسول الله لتقنعه أنها تحب زوجها، ولا تريد فراقه، وأنه يبادلها نفس المشاعر، فما كان من رسول الله إلا أن أجابها ثالثة: (ما أراك إلا قد حرمت عليه)؛ ومع هذا، فإنها لم تيأس من رحمة الله، ومن ثم أخذت من جديد تحاور رسول الله صلى الله عليه وسلم، عن طريق التركيز على الجانب العاطفي والإنساني، لعلها تقنعه بإيجاد مخرج للمأزق الذي هي فيه، فتقول له: فإني وحيدة، ليس لي أهل سواه…إن لي صبية صغارًا، إن ضممتهم إليه ضاعوا، وإن ضممتهم إلي جاعوا، فلا يجد لها رسول الله جوابًا إلا أن يقول لها: (لا أراك إلا قد حرمت)، فلما لم تجد لها جوابًا عند رسول الله، التجأت إلى الله قائلة: اللهم أنزل على لسان نبيك ما يقضي لي في أمري، فلم تكد تنتهي من دعائها، حتى أنزل الله على نبيه قوله سبحانه:
Kemudian ia terus berdialog dengan Rasulullah untuk meyakinkan beliau bahwa ia mencintai suaminya dan tidak ingin berpisah darinya, serta suaminya pun membalas perasaan yang sama. Namun Rasulullah tidak memberikan jawaban kepadanya melainkan untuk ketiga kalinya bersabda: “(Aku tidak melihatmu melainkan engkau telah haram baginya)”; meski demikian, ia tidak berputus asa dari rahmat Allah. Kemudian ia kembali berdialog dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan berfokus pada sisi emosional dan kemanusiaan, dengan harapan dapat meyakinkan beliau untuk menemukan jalan keluar dari kebuntuan yang ia hadapi. Ia berkata kepada beliau: “Sesungguhnya aku sebatang kara, tidak memiliki keluarga selain dia… aku memiliki anak-anak yang masih kecil; jika aku menyerahkan mereka kepadanya niscaya mereka akan telantar, dan jika aku membawa mereka bersamaku niscaya mereka akan kelaparan.” Rasulullah tidak menemukan jawaban baginya selain bersabda: “(Aku tidak melihatmu melainkan engkau telah haram)”, maka ketika ia tidak menemukan jawaban di sisi Rasulullah, ia bersandar kepada Allah seraya berucap: “Ya Allah, turunkanlah melalui lisan Nabi-Mu apa yang dapat memutuskan urusanku ini.” Belum sempat ia menyelesaikan doanya, Allah Subhaanahu menurunkan kepada Nabi-Nya firman-Nya:
{قد سمع الله قول التي تجادلك في زوجها وتشتكي إلى الله والله يسمع تحاوركما إن الله سميع بصير} [المجادلة: 1]
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan mengadukan (nasibnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar tanya jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” [Al-Mujaadilah: 1]
ثم إن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد أن أنزل الله عليه قرآنًا، بين فيه حكم هذه الواقعة، دعا زوجها أوسًا ، وسأله أن يحرر عبدًا كفارة عن فعله، فأخبر أوس رسول صلى الله عليه وسلم أنه لا طاقة له بذلك، فسأله رسول الله إن كان يستطيع أن يصوم شهرين، فأجابه أنه لا يستطيع؛ لأنه رجل قد تقدم به العمر، والصيام يضعفه، حينئذ طلب منه رسول صلى الله عليه وسلم أن يتصدق على ستين مسكينًا، فأخبره أنه لا يملك من المال ما يتصدق به، فلما رأى عليه الصلاة والسلام من حاله ما رأى، تصدق عنه، وطلب منه أن يعود إلى زوجته.
Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam setelah Allah menurunkan Al-Quran kepadanya yang menjelaskan hukum atas peristiwa ini, beliau memanggil suaminya, Aus, dan memintanya untuk memerdekakan seorang budak sebagai kafarat atas perbuatannya. Aus mengabarkan kepada Rasulullah bahwa ia tidak memiliki kemampuan untuk itu. Rasulullah kemudian bertanya kepadanya apakah ia sanggup berpuasa selama dua bulan, ia menjawab bahwa ia tidak sanggup karena ia telah lanjut usia dan puasa akan melemahkannya. Saat itulah Rasulullah meminta darinya untuk bersedekah kepada enam puluh orang miskin, namun ia mengabarkan bahwa ia tidak memiliki harta untuk disedekahkan. Maka ketika Rasulullah ‘alaihis shalaatu was salaam melihat keadaannya yang sedemikian rupa, beliau bersedekah atas namanya dan meminta agar ia kembali kepada istrinya.
وعلى ضوء سبب نزول هذه الآية وما تلاها من آيات، يمكننا الوقوف على بعض القضايا المهمة، والمتعلقة بشأن الأسرة والمجتمع:
Berdasarkan sebab turunnya ayat ini dan ayat-ayat setelahnya, kita dapat memahami beberapa poin penting terkait urusan keluarga dan masyarakat:
أولها: مكانة المرأة في الإسلام، وأن لها من الحقوق، وعليها من الواجبات، كالتي للرجل، إلا ما فضل الله به بعضهم على بعض؛ قال تعالى:
Pertama: Kedudukan wanita dalam Islam, bahwa ia memiliki hak dan kewajiban sebagaimana yang dimiliki oleh laki-laki, kecuali apa yang Allah lebihkan sebagian mereka di atas sebagian lainnya. Allah Ta‘aala berfirman:
{ولهن مثل الذي عليهن بالمعروف وللرجال عليهن درجة} [البقرة:228]
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya.” [Al-Baqarah: 228]
وليس الأمر كما يقول البعض: إن الإسلام قد ظلم المرأة، وحرمها الكثير من حقوقها؛ فها هي المرأة تتوجه بشكواها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم في قضية أسرية، ويسمع الله شكواها من فوق سبع سموات، ويُنـزِّل قرآنًا في أمرها، مبينًا المخرج من أزمتها، مما يؤكد منحها كامل الحق في طلب العدل في أمرها، وأمر أسرتها وأبنائها.
Urusannya tidaklah seperti yang dikatakan sebagian orang bahwa Islam telah menzalimi wanita dan menghalanginya dari banyak hak-haknya. Lihatlah wanita ini menyampaikan pengaduannya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah keluarga, dan Allah mendengar pengaduannya dari atas langit yang tujuh serta menurunkan Al-Quran dalam urusannya untuk menjelaskan jalan keluar dari krisisnya. Hal ini menegaskan pemberian hak penuh kepadanya untuk menuntut keadilan dalam urusannya, urusan keluarganya, dan anak-anaknya.
ثانيها: أن في هذه القصة درسًا عمليًا لنساء الأمة الإسلامية ورجالها، يبين واجب المرأة في الدفاع عن مصالحها ومصالح أسرتها، وأن ذلك حق مشروع لها، لا ينبغي التفريط به بحال من الأحوال.
Kedua: Bahwasanya dalam kisah ini terdapat pelajaran praktis bagi kaum wanita dan laki-laki umat Islam, yang menjelaskan kewajiban wanita dalam membela kemaslahatan dirinya dan keluarganya, dan bahwa hal tersebut merupakan hak yang disyariatkan baginya yang tidak boleh diabaikan dalam kondisi apa pun.
وثالثها: معرفة ما يسمى في شريعة الإسلام بأحكام الظهار، وهو أن يحرم الرجل على نفسه جماع زوجته، بأن يشبهها بأحد محارمه، كأمه وأخته؛ فيقول لزوجته مثلاً: أنت عليَّ كظهر أمي، أو أنت علي كأختي؛ فتحرم الزوجة على زوجها، ولا يجوز لهما أن يتعاشرا معاشرة الأزواج، إلا بعد أن يكفِّر الزوج عن يمينه، بحسب ما عرفت من مجريات هذه القصة.
Ketiga: Mengetahui apa yang disebut dalam syariat Islam dengan hukum-hukum zhihaar, yaitu seorang laki-laki mengharamkan atas dirinya menyetubuhi istrinya dengan cara menyerupakannya dengan salah satu mahram-nya, seperti ibu atau saudarinya. Ia berkata kepada istrinya misalnya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku,” atau “Engkau bagiku seperti punggung saudariku,” maka haramlah sang istri bagi suaminya, dan tidak boleh bagi keduanya untuk melakukan hubungan suami istri kecuali setelah sang suami membayar kafarat atas sumpahnya, sebagaimana yang telah diketahui dari rangkaian peristiwa dalam kisah ini.
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply