Lafazh (ad-Diin) dalam Al-Qur’an



لفظ (الدِّين) في القرآن الكريم

Lafazh (ad-Diin) dalam Al-Qur’an

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Lafazh (ad-Diin) dalam Al-Qur’an ini masuk dalam Kategori Bahasa Al-Quran

لفظ (الدِّين) من الألفاظ الأساسية والمفتاحية في القرآن الكريم، وقد ورد هذا اللفظ في الكتاب العزيز بمعان متعددة، ومدلولات مختلفة، نحاول التعرف عليها في هذا المقال .

Lafazh ad diin termasuk di antara lafazh-lafazh dasar dan kunci di dalam al Qur-aan al Kariim. Lafazh ini telah disebutkan di dalam kitab yang mulia tersebut dengan makna-makna yang beraneka ragam dan konotasi yang berbeda-beda, yang akan coba kita kenali dalam artikel ini.

فلفظ (الدين) من دان بكذا ديانة، فهو دَيِّن؛ وتديَّن به فهو متدين؛ و(الدِّين) إذا أطلق يراد به: ما يَتَدَيَّنُ به الرجل، ويدين به من اعتقاد وسلوك؛ وبمعنى آخر، هو طاعة المرء والتزامه لِمَا يعتنقه من أفكار ومبادئ.

Maka lafazh ad diin berasal dari kata daana bi kadzaa diyaanah (ia memeluk agama), maka ia disebut dayyin (orang yang beragama); dan tadayyana bihi maka ia disebut mutadayyin (orang yang religius). Dan ad diin jika disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah: apa yang dianut oleh seseorang dan apa yang ia yakini dari sisi keyakinan maupun perilaku. Dalam makna lain, ia adalah ketaatan seseorang dan komitmennya terhadap gagasan serta prinsip yang ia anut.

و(الدَّيّانُ): من أَسماء الله عز وجل، معناه الحَكَم القاضي، و(الدَّيَّانُ): القَهَّار؛ وفي حديث أبي طالب، وقد قال له عليه الصلاة والسلام:

Dan ad Dayyaan adalah salah satu di antara asma Allah ‘Azza wa Jalla, maknanya adalah Sang Hakim penentu keputusan, dan ad Dayyaan juga bermakna Al Qahhaar (Yang Maha Menundukkan). Dalam hadits Abu Thalib, di mana beliau ‘alaihis shalaatu was salaam bersabda kepadanya:

(أُريد من قريش كلمة تَدينُ لهم بها العرب)

“Aku menginginkan dari Quraisy satu kalimat yang dengannya bangsa Arab akan tunduk (tadiinu) kepada mereka.” (HR. Ahmad dan at Tirmidziy serta selain keduanya)

أَي: تطيعهم وتخضع لهم. و(الدِّين): الطاعة؛ وقد دِنْته ودِنْتُ له أَطعته، وخضعت له؛ وفي أثر علي رضي الله عنه: (محبةُ العلماءِ دِينٌ يُدانُ به).

Artinya: mereka menaati dan tunduk kepada mereka. Dan ad diin bermakna ketaatan; ungkapan dintuhu dan dintu lahu bermakna aku menaatinya dan tunduk kepadanya. Dalam atsar ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu disebutkan: “Mencintai ulama adalah suatu bentuk ketaatan (diin) yang dengannya seseorang menjalankan agamanya.”

و(الدِّين): الإِسلام، قال تعالى:

Dan ad diin bermakna Islam, Allah Ta‘aala berfirman:

{إن الدين عند الله الإسلام} [آل عمران:19]

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” [‘Aali ‘Imraan: 19]

وقد دِنْتُ به، أي: اتخذته منهجًا لي في الحياة. و(الدين): الحسابُ، وفي الحديث:

Dan dintu bihi artinya: aku menjadikannya sebagai minhaaj (pedoman) bagiku dalam kehidupan. Dan ad diin bermakna perhitungan (hisaab), dan dalam hadits disebutkan:

(الكيِّس من دانَ نَفْسَه، وعَمِلَ لما بعد الموت؛ والأَحْمَقُ من أَتْبَعَ نفسه هواها وتَمَنَّى على الله)

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab (daana) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematian; dan orang yang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan kepada Allah.” (HR. Ahmad dan selainnya)

قال أَبو عبيد: قوله: دانَ نفسه، أَي: أَذلَّها واستعبدها، وقيل: حاسبها. و(الدِّين): الجزاء، ومنه قوله تعالى:

Abu ‘Ubaid berkata: Sabda beliau daana nafsahu artinya: ia menghinakan dan menundukkan nafsunya, dan dikatakan pula: ia menghisabnya. Dan ad diin bermakna balasan (jazaa’), di antaranya adalah firman Allah Ta‘aala:

{أئنا لمدينون} [الصافات:53]

“apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan (lamadiinuun)?” [as Saaffaat: 53]

أَي: مَجْزِيُّون مُحاسَبون؛ وفي مأثور القول:

Artinya: orang-orang yang diberi balasan lagi dihisab. Dalam ucapan yang masyhur disebutkan:

(كما تَدِينُ تُدان)

“Sebagaimana engkau memperlakukan, begitulah engkau akan diperlakukan (tudaan).” (Diriwayatkan oleh al Bukhaariy secara mu‘allaq)

أَي: كما تُجازي تُجازَى، أَي: تُجازَى بفعلك، وبحسب ما عملت. و(يومُ الدِّين): يومُ الجزاء؛ ومنه قوله تعالى:

Artinya: sebagaimana engkau membalas maka engkau akan dibalas, yakni engkau dibalas dengan perbuatanmu dan sesuai dengan apa yang telah engkau kerjakan. Dan Yaumud Diin bermakna hari pembalasan, di antaranya adalah firman Allah Ta‘aala:

{مالك يوم الدين} [الفاتحة:4]

“Yang menguasai di Hari Pembalasan.” [al Faatihah: 4]

أي: مالك يوم الجزاء والحساب. و(الدِّينُ): العادة والشأْن، تقول العرب: ما زالَ ذلك دِيني ودَيْدَني، أَي: عادتي وشأني. و(الدين): الحكم والقضاء والسلطان، وفي التنزيل العزيز:

Artinya: Pemilik hari pembalasan dan perhitungan. Dan ad diin bermakna kebiasaan dan urusan; orang Arab berkata: maa zaala dzaalika diinii wa daydanii, artinya: itu senantiasa menjadi kebiasaan dan urusanku. Dan ad diin bermakna hukum, ketetapan, dan kekuasaan, dan di dalam at Tanziil al ‘Aziiz disebutkan:

{ما كان ليأخذ أخاه في دين الملك} [يوسف:76]

“Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya dengan undang-undang (diin) raja…” [Yuusuf: 76]

قال قتادة: في قضاء الملك. و(الدِّينُ): الحالُ، قال بعضهم: سأَلت أَعرابيًّا عن شيء، فقال: لو لقيتني على دين غير هذه لأَخبرتك، يقصد: لو لقيتني على حال غير الحال التي أنا عليها الآن، لأخبرتك بما أنت سائل عنه. ومن معاني الدين -علاوة على ما تقدم- الورع، والقهر.

Qatadah berkata: dalam ketetapan raja. Dan ad diin bermakna keadaan (haal). Sebagian mereka berkata: Aku bertanya kepada seorang badui tentang sesuatu, lalu ia menjawab: “Jika engkau menemuiku di atas diin (keadaan) selain ini, niscaya aku akan mengabarkanmu,” maksudnya: seandainya engkau menemuiku dalam keadaan selain keadaan yang aku alami sekarang, niscaya aku akan memberitahumu apa yang engkau tanyakan. Dan di antara makna diin—selain dari apa yang telah disebutkan—adalah wara‘ (kesalehan/kehati-hatian) dan qahr (penundukan).

على أن من الألفاظ القرآنية الوثيقة الصلة بلفظ (الدين) لفظ (الشريعة) ولفظ (المِلَّة) ولنا وقفة مع هذين اللفظين في مقال آخر إذا يسر الله، وبالله التوفيق.

Di samping itu, di antara lafazh-lafazh Al-Qur’an yang memiliki hubungan erat dengan lafazh ad diin adalah lafazh asy syarii‘ah dan lafazh al millah. Kita akan membahas kedua lafazh tersebut dalam artikel lain jika Allah memudahkan, dan hanya kepada Allah-lah tumpuan kesuksesan.

والله أعلم.

Wallahu a’lam.

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.