بيعة الرضوان (سلسلة 4)
Bay’atur Ridhwaan (Seri 4)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Bay’atur Ridhwaan ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
وقد ثبت في صحيح الحديث – ناهيك على ما جاء في القرآن – الشهادة بالجنة لجميع من شهد بيعة الرضوان عام الحديبية؛ فعن أم مبشر رضي الله عنها: أنها سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول عند حفصة رضي الله عنها:
Telah tsabit di dalam hadits yang shohih—belum lagi apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an—persaksian dengan surga bagi semua orang yang menyaksikan Bay’atur Ridhwaan pada tahun Hudaibiyah. Dari Umm Mubasysyir radhiyallaahu ‘anhaa, bahwasanya ia mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda di sisi Hafshah radhiyallaahu ‘anhaa:
( لَا يَدْخُلُ النَّارَ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ، الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا )
“Tidak akan masuk neraka—insya Allah—seorang pun dari Ashaab asy Syajarah (para sahabat pohon), yaitu orang-orang yang berbaiat di bawahnya.” (HR. Muslim)
قالت: بلى يا رسول الله، فانتهرها، فقالت حفصة : { وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا } [مريم: 71] فقال النبي صلى الله عليه وسلم قد قال الله عز وجل: { ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوا وَّنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا } [مريم: 72] رواه مسلم .
Hafshah berkata: “Tentu (mereka akan masuk), wahai Rasulullah.” Maka beliau pun menghardiknya. Lalu Hafshah membaca firman Allah: “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu” [Maryam: 71]. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla juga telah berfirman: Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut [Maryam: 72].” (HR. Muslim).
وفي “سنن” أبي داود : ( لا يدخل النار أحد ممن بايع تحت الشجرة ) وفي “المصنف” ل ابن أبي شيبة ،قال: السابقون الأولون، من أدرك بيعة الرضوان. وقد وعد سبحانه هؤلاء بالجنة، قال الله تعالى: { وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ } [التوبة: 100] .
Dan dalam “Sunan” Abu Dawuud disebutkan: “Tidak akan masuk neraka seorang pun dari mereka yang berbaiat di bawah pohon”. Dan dalam “al Mushannaf” karya Ibnu Abi Syaibah disebutkan: “As Saabiquunal Awwaluun (orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam) adalah mereka yang menjumpai Bay’atur Ridhwaan.” Allah Subhaanahu telah menjanjikan surga kepada mereka, Allah Ta’ala berfirman: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Tawbah: 100].
وعلى العموم، فإن وقائع هذه البيعة تفيد العديد من العبر، ويُستنتج منها الكثير من الفوائد، وهاك بعضًا من ذلك:
Secara umum, peristiwa-peristiwa baiat ini memberikan banyak pelajaran (‘ibar), dan dapat ditarik darinya banyak faedah. Berikut adalah beberapa di antaranya:
– صحة إيمان الذين بايعوا النبي صلى الله عليه وسلم بيعة الرضوان، وصدق بصائرهم, وأنهم كانوا مؤمنين على الحقيقة أولياء لله; إذ من غير الجائز أن يخبر الله برضاه عن قوم بأعيانهم، إلا وباطنهم كظاهرهم في صحة البصيرة، وصدق الإيمان, وقد أكد ذلك المعنى سبحانه، بقوله: { فَعَلَمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ } [الفتح: 18] وهذا يدل دلالة واضحة على أن التوفيق والتسديد والتأييد مصاحب وملازم لمن صَدَق النية مع الله, وهذا الملحظ في معنى قوله تعالى: { إِن يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا } [النساء: 35] .
– Kesahihan iman orang-orang yang membaiat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada Bay’atur Ridhwaan, kejujuran mata hati (basha-ir) mereka, dan bahwa mereka benar-benar kaum mukminin yang hakiki sekaligus para wali Allah. Karena tidaklah mungkin Allah mengabarkan keridhaan-Nya terhadap sekelompok orang secara spesifik, melainkan batin mereka sama seperti lahirnya dalam kesahihan mata hati dan kejujuran iman. Allah Subhaanahu telah menegaskan makna tersebut dengan firman-Nya: “Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka” [al Fath: 18]. Hal ini menunjukkan dengan dalil yang jelas bahwa taufiq, kelurusan (tasdiid), dan dukungan (ta’yiid) senantiasa menyertai dan melekat pada orang yang jujur niatnya kepada Allah. Aspek ini selaras dengan makna firman Allah Ta’ala: “Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu” [An-Nisaa: 35].
– كانت تلك البيعة مقدمة وتمهيدًا وسببًا مباشرًا لإبرام صلح الحديبية، ذلك الصلح الذي كان فتحًا مبينًا، وكسبًا عظيمًا للمسلمين. فعندما علمت قريش بتلك البيعة، ومدى صلابة المسلمين في موقفهم، وقوتهم، وصبرهم، وثباتهم مع رسول الله صلى الله عليه وسلم، علمت أن ذلك هو الحق، فأرسلت إلى المسلمين فريقًا للتفاوض معهم، وإبرام الصلح .
– Baiat tersebut merupakan mukadimah, pendahuluan, dan sebab langsung bagi disepakatinya Perjanjian Hudaibiyah (Shulhul Hudaibiyyah); sebuah perjanjian yang merupakan kemenangan yang nyata dan keuntungan yang besar bagi kaum Muslimin. Ketika Quraisy mengetahui tentang baiat tersebut, serta mengetahui betapa teguhnya kaum Muslimin dalam sikap mereka, kekuatan mereka, kesabaran mereka, dan kekokohan mereka bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Quraisy pun sadar bahwa itulah kebenaran. Maka mereka mengirimkan sebuah tim kepada kaum Muslimin untuk bernegosiasi dan menyepakati perdamaian.
– ومما يستفاد من هذه الحادثة قوة العلاقة والترابط والتلاحم بين رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه الكرام؛ إذ إنهم بايعوه على الثبات والمصابرة وعدم التولي، ومواجهة الموقف بكل ما يقتضيه من إيمان وإخلاص؛ يتجلى ذلك في سرعة استجابة الصحابة لما دعاهم إليه رسول الله، ومسارعتهم لتلبية متطلبات ومستحقات الإيمان بالله، وبرسالة نبيه عليه الصلاة والسلام، إذ إن الصدق في الإيمان سبيل إلى تحصيل رضا الرحمن أولاً، وهو طريق أيضًا لحصول نصره وتأييده { وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ } [الحج: 40] .
– Di antara hal yang dapat dipetik dari peristiwa ini adalah kuatnya ikatan, persatuan, dan kekompakan antara Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabatnya yang mulia. Karena mereka membaiat beliau untuk tetap kokoh, bersabar (mushaabarah), tidak melarikan diri, dan menghadapi situasi dengan segala tuntutan keimanan dan keikhlasan. Hal ini nampak jelas pada cepatnya respon para shohabat terhadap seruan Rasulullah, serta ketergesaan mereka dalam memenuhi tuntutan dan konsekuensi iman kepada Allah dan risalah Nabi-Nya ‘alaihis shalaatu was salaam. Karena sesungguhnya, kejujuran dalam beriman adalah jalan pertama untuk meraih keridhaan ar-Rahman, dan ia juga merupakan jalan untuk meraih pertolongan dan dukungan-Nya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” [Al-Hajj: 40].
Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply