تأملات في خطبة الوداع (القسم الثاني والأخير)
Tadabbur Terhadap Khuthbah al Wada’ (Bagian Kedua/Terakhir)
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Tadabbur Terhadap Khuthbah al Wada’ (Bagian Kedua/Terakhir) ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah
أما ما تضمنته خطبة الوداع من مبادئ وتوصيات، فنقف عند بعضٍ منها، فيما تبقَّى من هذه السطور:
Adapun prinsip-prinsip dan wasiat-wasiat yang terkandung dalam Khuthbah al Wada’, maka kita akan meninjau sebagian darinya dalam baris-baris berikut:
المبدأ الأول حرمة سفك الدماء بغير حق، وفي هذا يقول عليه الصلاة والسلام :
Prinsip pertama adalah haramnya menumpahkan darah tanpa alasan yang benar. Dalam hal ini, beliau ‘alaihis shalaatu was salaam bersabda:
( أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ إِلَى أَنْ تَلْقَوْا رَبَّكُمْ، كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، وَحُرْمَةِ شَهْرِكُمْ هَذَا.. )
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya darah kalian dan harta kalian adalah haram bagi kalian hingga kalian menjumpai Tuhan kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini dan haramnya bulan kalian ini…”
فأين أمة الإسلام اليوم من تطبيق هذا المبدأ، وقد أخذ بعضها برقاب بعض، وتسلط القوي فيها على الضعيف، وآل أمرها إلى ما هو غير خاف على أحد، حتى أضحت في موقع لا تحسد عليه.
Lantas, di manakah posisi Ummah Islam hari ini dalam menerapkan prinsip tersebut? Padahal sebagian mereka telah saling memukul leher sebagian yang lain, yang kuat di antara mereka menindas yang lemah, dan urusan mereka telah berujung pada kondisi yang tidak tersembunyi lagi bagi siapa pun, hingga mereka berada pada posisi yang tidak patut dicemburui.
وقد كرر عليه الصلاة والسلام هذه الوصية في خاتمة خطبته – كما ذكر ابن هشام في سيرته – مؤكدًا ضرورة الاهتمام بها بقوله :
Beliau ‘alaihis shalaatu was salaam mengulang wasiat ini di bagian akhir khotbahnya—sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hisyaam dalam sirah-nya—guna menegaskan pentingnya memperhatikan hal tersebut dengan sabdanya:
( تَعْلَمُنَّ أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ أَخٌ لِلْمُسْلِمِ، وَأَنَّ الْمُسْلِمِينَ إِخْوَةٌ، فَلَا يَحِلُّ لِامْرِئٍ مِنْ أَخِيهِ إِلَّا مَا أَعْطَاهُ عَنْ طِيبٍ مِنْهُ، فَلَا تَظْلِمُنَّ أَنْفُسَكُمْ.. )
“Ketahuilah bahwa setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, dan bahwa kaum Muslimin itu bersaudara. Maka tidak halal bagi seseorang (mengambil sesuatu) dari saudaranya kecuali apa yang ia berikan dengan kerelaan hatinya. Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri…”
المبدأ الثاني قوله صلى الله عليه وسلم :
Prinsip kedua adalah sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
( أَلَا إِنَّ كُلَّ شَيْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَيَّ مَوْضُوعٌ، دِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ…وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ.. )
“Ketahuilah bahwa segala sesuatu dari perkara Jahiliyyah telah diletakkan di bawah kedua telapak kakiku (dibatalkan). Darah Jahiliyyah telah dibatalkan… dan Riba Jahiliyyah juga telah dibatalkan…”
وهذا نص واضح، وتصريح صارخ أن كل ما كان عليه أمر الجاهلية قد بَطَل، ولم يبقَ له أي اعتبار، بل هو جيفة منتة، لا يمكن أن ينهض بأمة، بَلْهَ أن يبني حضارة تكون هدى للبشرية، بل هو إلى الهدم والخراب أقرب.
Ini adalah teks yang jelas dan pernyataan yang gamblang bahwa segala perkara Jahiliyyah telah batil dan tidak lagi memiliki nilai apa pun. Bahkan ia ibarat bangkai yang busuk; tidak mungkin ia dapat membangkitkan suatu umat, apalagi membangun peradaban yang menjadi petunjuk bagi kemanusiaan. Sebaliknya, ia justru lebih dekat pada kehancuran dan kerusakan.
وثالث المبادئ في خطبته صلى الله عليه وسلم وصيته بالنساء خيرًا :
Dan prinsip yang ketiga dalam khotbah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah wasiat beliau untuk berbuat baik kepada para wanita:
( وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا )
“Dan berwasiatlah kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.”
ما أروعها من وصية، وما أحرى بالإنسانية اليوم أن تلتزم بها وتهتدي بهديها، بعد أن أذاقت المرأة أشد العذاب – تحت مسمى حرية المرأة – ودفعت بها إلى مهاوي الذل والرذيلة، وجردتها من كل معاني الكرامة والشرف، تحت شعارات مزيفة، لا تمت إلى الحقيقة في شيء.
Betapa agungnya wasiat tersebut, dan betapa patutnya kemanusiaan hari ini untuk berkomitmen serta mengikuti petunjuknya. Terlebih setelah wanita merasakan siksaan yang pedih—di bawah nama kebebasan wanita—yang telah menyeretnya ke jurang kehinaan dan kemerosotan moral, serta melucutinya dari segala makna kemuliaan dan kehormatan di bawah slogan-slogan palsu yang sama sekali tidak berpijak pada kebenaran.
لقد جهل أصحاب تلك الشعارات بل تجاهلوا الفرق بين كرامة المرأة وحقوقها الطبيعية التي كفلها لها شرع الله، وما نادوا به من شعارات تطالب بحرية المرأة، وهي عند التحقيق والتدقيق دعوة لاستباحة الوسائل المختلفة للتمتع بالمرأة والتلهي بها.
Para pengusung slogan-slogan tersebut tidak mengetahui, atau pura-pura tidak tahu, perbedaan antara kemuliaan wanita dan hak-hak alaminya yang telah dijamin oleh syari’at Allah, dengan slogan-slogan yang mereka teriakkan untuk menuntut kebebasan wanita. Jika diteliti dan dicermati, hal itu sebenarnya adalah ajakan untuk melegalkan berbagai cara guna mengeksploitasi wanita dan menjadikannya sebagai sarana hiburan semata.
إن المرأة اليوم تنجرف مع تيار كاسح يكاد يختزل المرأة وقيمتها ووظيفتها في الجسد المزوَّق، والمظهر المنمَّق، المعروض في كل مكان، والمبذول لكل راغب ومريد!!
Sesungguhnya wanita hari ini sedang terseret arus deras yang seolah-olah mereduksi sosok wanita, nilai, serta fungsinya hanya pada tubuh yang didandani dan penampilan yang dipoles, yang dipajang di mana-mana dan dipersembahkan bagi setiap orang yang menginginkannya!!
أما المبدأ الرابع فكان وصيته عليه الصلاة والسلام لأمته التمسك بكتاب ربها والاعتصام به، مبينًا أنه سبيل العزة والنجاح :
Adapun prinsip keempat adalah wasiat beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya untuk berpegang teguh pada kitab Tuhannya dan berlindung kepadanya, seraya menjelaskan bahwa hal itu adalah jalan kemuliaan (‘izzah) dan keberhasilan:
( وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ: كِتَابَ اللهِ )
“Dan sungguh telah aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat setelahnya jika kalian berpegang teguh kepadanya: Kitab Allah.”
صدقت يا رسول لقد ضمنتَ لأمتك الأمان من كل شقاء وضلال إذا هي تمسكت بهدي هذا الكتاب. وهل وصلت أمة الإسلام إلى ما وصلت إليه إلا بهجر كتاب ربها وترك منهج نبيها، ولا يصلح أمر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها.
Engkau benar, wahai Rasulullah. Sungguh engkau telah menjamin bagi umatmu keamanan dari segala kesengsaraan dan kesesatan jika mereka berpegang teguh pada petunjuk kitab ini. Bukankah Ummah Islam sampai pada kondisi seperti sekarang ini melainkan karena meninggalkan kitab Tuhannya dan mengabaikan manhaj Nabi-Nya? Dan urusan umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah membuat generasi awalnya menjadi baik.
كم هي البشرية اليوم بحاجة ماسَّة إلى مراجعة نفسها وتدارك أمرها والاهتداء بهدي من أرسله الله رحمة للعالمين، فهل تفيء البشرية إلى رشدها أم تبقى في غيِّها لا تلوي على أحد، ولا تُقيم وزنًا لدين أو خلق.
Betapa kemanusiaan hari ini sangat membutuhkan upaya untuk mengevaluasi diri, memperbaiki keadaannya, dan mengikuti petunjuk beliau yang diutus Allah sebagai rahmat bagi semesta alam. Lantas, akankah kemanusiaan kembali pada kesadarannya, ataukah ia akan tetap dalam kesesatannya tanpa memperpedulikan siapa pun serta tidak memberikan nilai pada agama maupun akhlak?
والله أعلم.
Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply