Perjanjian Hudaibiyah dan Syarat-syaratnya (2)



صلح الحديبية وشروطه

Perjanjian Hudaibiyah dan Syarat-syaratnya (Bagian Kedua)

Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu

Artikel Perjanjian Hudaibiyah dan Syarat-syaratnya ini masuk dalam Kategori Sirah Nabawiyah

ثم أسرعت قريش في إرسال سهيل بن عمرو لعقد الصلح ، فلما رآه النبي صلى الله عليه وسلم قال : قد سهل لكم أمركم ، أراد القوم الصلح حين بعثوا هذا الرجل ، فتكلم سهيل طويلاً ثم اتفقا على قواعد الصلح ، وهي :

Kemudian kaum Quraisy segera mengutus Suhayl bin ‘Amr untuk mengadakan perjanjian damai. Tatkala Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau bersabda: “Sungguh telah dimudahkan urusan kalian.” Kaum tersebut menginginkan perdamaian saat mereka mengutus lelaki ini. Suhayl pun berbicara panjang lebar, hingga kemudian keduanya menyepakati kaidah-kaidah perdamaian, yaitu:

الأولى : رجوع الرسول صلى الله عليه وسلم وأصحابة من عامه وعدم دخول مكة ، وإذا كان العام القادم دخلها المسلمون بسلاح الراكب ، فأقاموا بها ثلاثاً .

Pertama: Kepulangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shohabatnya pada tahun ini dan tidak memasuki Makkah. Jika telah datang tahun depan, kaum Muslimin boleh memasukinya dengan senjata musafir (pedang di dalam sarungnya), lalu mereka menetap di sana selama tiga hari.

الثانية : وضع الحرب بين الطرفين عشر سنين ، يأمن فيها الناس .

Kedua: Penghentian perang antara kedua belah pihak selama sepuluh tahun, yang mana manusia merasa aman di dalamnya.

الثالثة : من أحب أن يدخل في عقد مع محمد وعهده دخل فيه ، ومن أحب أن يدخل في عقد مع قريش وعهدهم دخل فيه .

Ketiga: Barangsiapa yang ingin masuk ke dalam ikatan perjanjian dengan Muhammad dan janjinya, maka ia boleh masuk ke dalamnya. Dan barangsiapa yang ingin masuk ke dalam ikatan perjanjian dengan Quraisy dan janjinya, maka ia boleh masuk ke dalamnya.

الرابعة : من أتى محمداً من قريش من غير إذن وليه رده إليهم ، ومن جاء قريشاً ممن مع محمد لم يرد إليه .

Keempat: Barangsiapa dari kaum Quraisy yang mendatangi Muhammad tanpa izin walinya, maka Muhammad harus mengembalikannya kepada mereka. Dan barangsiapa dari pengikut Muhammad yang mendatangi Quraisy, maka mereka tidak mengembalikannya kepada Muhammad.

ثم قال الرسول صلى الله عليه وسلم : هات اكتب بيننا وبينك كتاباً ، فدعا الكاتب -وهو علي بن أبي طالب- فقال : اكتب : بسم الله الرحمن الرحيم، فقال سهيل : أما الرحمن ، فما أدري ما هو ؟ ولكن اكتب : باسمك اللهم كما كنت تكتب . فقال المسلمون : والله لا نكتبها إلا بسم الله الرحمن الرحيم ، فقال صلى الله عليه وسلم : اكتب : باسمك اللهم .

Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kemarilah, tuliskanlah surat perjanjian antara kami dan kalian.” Beliau pun memanggil juru tulis —yakni ‘Aliy bin Abi Thaalib— lalu bersabda: “Tulislah: Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.” Namun Suhayl berkata: “Adapun ar-Rahmaan, aku tidak tahu apa itu? Akan tetapi tulislah: Bismikallaahumma (Dengan nama-Mu, ya Allah) sebagaimana engkau biasa menulisnya.” Kaum Muslimin berkata: “Demi Allah, kami tidak akan menulisnya kecuali Bismillaahir Rahmaanir Rahiim.” Namun Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tulislah: Bismikallaahumma.”

ثم قال : اكتب : هذا ما قاضى عليه محمد رسول الله، فقال سهيل : والله لو نعلم أنك رسول الله ما صددناك عن البيت ، ولكن اكتب محمد بن عبد الله، فقال : إني رسول الله ، وإن كذبتموني اكتب محمد بن عبد الله، ثم تمت كتابة الصحيفة ، ودخلت قبيلة خزاعة في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ودخلت بنو بكر في عهد قريش .

Kemudian beliau bersabda: “Tulislah: Inilah yang disepakati oleh Muhammad Rasulullah.” Suhayl berkata: “Demi Allah, sekiranya kami tahu bahwa engkau adalah utusan Allah, niscaya kami tidak akan menghalangimu dari Baitullah. Akan tetapi tulislah: Muhammad bin ‘Abdullaah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, meskipun kalian mendustakanku. Tulislah: Muhammad bin ‘Abdullaah.” Kemudian penulisan lembaran tersebut selesai. Kabilah Khuza’ah masuk ke dalam perjanjian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Bani Bakr masuk ke dalam perjanjian Quraisy.

فبينما هم كذلك إذ جاء أبو جندل بن سهيل ، وقد خرج من أسفل مكة يرسف في قيوده ، حتى رمى بنفسه بين أظهر المسلمين ، فقال سهيل : هذا يا محمد! أول ما أقاضيك عليه أن ترده إلي ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : إنا لم نقض الكتاب بعد، فقال : إذاً والله لا أصالحك على شئ أبداً. فقال النبي صلى الله عليه وسلم : فأجزه لي، قال : ما أنا بمجيزه لك . قال : بلى، فافعل، قال : ما أنا بفاعل .

Tatkala mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhayl. Ia telah keluar dari pinggiran Makkah dengan berjalan terseret-seret dalam belenggunya, hingga ia melemparkan dirinya ke tengah-tengah kaum Muslimin. Suhayl berkata: “Ini wahai Muhammad! Perkara pertama yang aku tuntut darimu berdasarkan perjanjian ini adalah engkau harus mengembalikannya kepadaku.” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya kita belum menyelesaikan (penandatanganan) surat ini.” Suhayl berkata: “Kalau begitu, demi Allah, aku tidak akan berdamai denganmu atas urusan apa pun selamanya.” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berikanlah ia (kepadaku) sebagai pengecualian bagiku.” Suhayl menjawab: “Aku tidak akan memberikannya kepadamu.” Beliau bersabda: “Tentu, lakukanlah.” Suhayl menjawab: “Aku tidak akan melakukannya.”

قال أبو جندل : يا معشر المسلمين ! كيف أرد إلى المشركين وقد جئت مسلماً؟ ألا ترون ما لقيت ؟ -وكان قد عذب في الله عذاباً شديداً- قال عمر بن الخطاب : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ . فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم ، فقلت : يا رسول الله ! ألست نبي الله ؟ قال : بلى، قلت : ألسنا على الحق ، وعدونا على الباطل ؟ قال : بلى . قلت : علام نعطى الدنية في ديننا ؟ ونرجع ولما يحكم الله بيننا وبين أعدائنا ؟ فقال : إني رسول الله ، وهو ناصري ، ولست أعصيه .

Abu Jandal berkata: “Wahai sekalian kaum Muslimin! Bagaimana aku dikembalikan kepada kaum musyrikin padahal aku datang sebagai seorang Muslim? Tidakkah kalian lihat apa yang aku alami?” —saat itu ia telah disiksa dengan siksaan yang sangat berat karena Allah—. ‘Umar bin al-Khaththaab berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah ragu semenjak aku masuk Islam kecuali pada hari itu.” Maka aku mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah! Bukankah engkau adalah Nabi Allah?” Beliau menjawab: “Benar.” Aku bertanya: “Bukankah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan?” Beliau menjawab: “Benar.” Aku bertanya: “Mengapa kita memberikan kerendahan pada agama kita? Dan kita kembali padahal Allah belum memberikan keputusan antara kita dan musuh-musuh kita?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan Dialah penolongku, dan aku tidak akan memaksiati-Nya.”

قلت : ألست كنت تحدثنا : أنا نأتي البيت ، ونطوف به . قال : بلى ، أفاخبرتك أنك تأتيه العام ؟ قلت : لا، قال : فإنك آتيه ومطوف به . قال : فأتيت أبا بكر ، فقلت له مثلما قلت لرسول الله صلى الله عليه وسلم ، ورد علي كما رد علي رسول الله صلى الله عليه وسلم سواء ، وزاد : فاستمسك بغرزه حتى تموت، فوالله إنه لعلى الحق .

Aku bertanya: “Bukankah engkau dahulu menceritakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan melakukan thawaaf di sana?” Beliau menjawab: “Benar, namun apakah aku mengabarkan kepadamu bahwa engkau akan mendatanginya tahun ini?” Aku menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan melakukan thawaaf di sana.” ‘Umar berkata: “Lalu aku mendatangi Abu Bakr dan mengatakan kepadanya apa yang aku katakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan ia menjawabku persis sebagaimana jawaban Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan ia menambahkan: ‘Maka berpegang teguhlah pada perintah beliau sampai engkau mati, karena demi Allah, sesungguhnya beliau berada di atas kebenaran.'”

Bersambung ke bagian berikutnya in sya Allah

Sumber : IslamWeb



Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.