على من تجب زكاة المحصول بعد بيعه
Siapa yang Wajib Membayar Zakat Hasil Panen Setelah Dijual?
Alih Bahasa : Reza Ervani bin Asmanu
Artikel Siapa yang Wajib Membayar Zakat Hasil Panen Setelah Dijual? ini masuk dalam Kategori Tanya Jawab Fiqh Zakat
السؤال:
Pertanyaan:
بسم الله الرحمن الرحيم .. رجل يملك أرضا زرعية وقد قام بحرث هذه الأرض وزرعها بقمح أو شعير . وقام ببيع هذ المحصول وهو في أرضه أي قبل حصاده وقبض ثمن ذلك . وقام المشتري بحصاد هذا الزرع هو وشريك له آخر فعلى من تكون زكاة هذا المحصول .. هل على البائع ( صاحب الأرض والذي قام بعملية الزرع ) أم على المشتري الذي قام بعملية الحصاد .. باعتبار قوله تعالى (( وآتوا حقه يوم حصاده )) مع التفصيل في ذلك من حيث ما يتوجب على الطرفين من الزكاة .
Bismillahir rahmaanir rahiim. Seorang pria memiliki lahan pertanian, ia telah membajak lahan tersebut dan menanaminya dengan gandum atau jelai (sha’ir). Ia kemudian menjual hasil panen tersebut saat masih berada di lahan (sebelum dipanen) dan telah menerima pembayarannya. Pembeli kemudian melakukan pemanenan tanaman tersebut bersama rekan lainnya. Maka, siapakah yang berkewajiban menunaikan zakat hasil panen tersebut? Apakah penjual (pemilik lahan yang menanamnya), ataukah pembeli yang melakukan pemanenan? Hal ini mengingat firman Allah Ta’ala: “Dan tunaikanlah haknya di hari memanennya.” Mohon rincian mengenai kewajiban zakat bagi kedua belah pihak.
الإجابــة:
Jawaban :
الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد:
Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarga, dan para shahabatnya. Amma ba’du:
فقد قرر الفقهاء أنه لا تجب الزكاة في الزروع إلا بعد أن ينعقد الحب ويشتد، كما أنه لا زكاة في الثمار، إلا بعد بُدوِّ صلاحها بظهور نضجها.
Para fuqaha telah menetapkan bahwa zakat tidak wajib pada tanaman (bijian) kecuali setelah biji tersebut terbentuk dan mengeras (yashtadd). Demikian pula tidak ada zakat pada buah-buahan kecuali setelah tampak kelayakannya (budu’ al-salah) dengan munculnya tanda kematangan.
وقرروا أن المالك إذا باع الزرع، أو الثمر قبل بدو الصلاح فيهما أثم إذا كان عالماً بالتحريم، وأنه إذا باعهما بعد وجوب الزكاة فيهما – لم يصح البيع في المقدار الذي يجب إخراجه منها – إلا إذا خُرِص الجميع أي قدر ما يكون من الثمار زبيباً، أو تمراً، وقدر ما يكون من الزروع حباً صافياً.
Mereka juga menetapkan bahwa jika pemilik menjual tanaman atau buah sebelum tampak kelayakannya (kematangannya), maka ia berdosa jika ia mengetahui keharamannya. Dan jika ia menjual keduanya setelah zakat menjadi wajib padanya, maka jual beli tersebut tidak sah pada kadar yang wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali jika seluruhnya telah di-khars (ditaksir), yaitu diperkirakan berapa jumlah buah tersebut jika menjadi kismis atau kurma kering, dan berapa jumlah tanaman tersebut jika telah menjadi biji yang bersih.
لأن الخرص تضمين للمالك قدر ما يستحق عليها من الزكاة، ومثل البيع كل تصرف بأكل أو هبة أو إتلاف، فإذا تصرف في شيء من ذلك غرم مقدار الزكاة.
Karena khars adalah bentuk pertanggungan bagi pemilik atas kadar zakat yang menjadi hak fakir miskin. Dan disamakan dengan jual beli adalah setiap tindakan berupa memakannya, menghibahkannya, atau merusaknya; maka jika ia melakukan tindakan-tindakan tersebut, ia wajib mengganti (menanggung) kadar zakatnya.
وعليه فإن بائع محصول مزرعته إما أن يبيعه قبل ثبوت الزكاة واستقرارها في ذمته أو لا، فإن كان قبل ثبوت الوجوب فلا زكاة على البائع.
Oleh karena itu, penjual hasil pertaniannya adakalanya menjualnya sebelum zakat tersebut tetap dan menjadi tanggung jawab (dzimmah)-nya, atau setelahnya. Jika penjualan terjadi sebelum tetapnya kewajiban zakat (yaitu sebelum biji mengeras), maka tidak ada kewajiban zakat bagi penjual.
وأما بعد الوجوب، فتلزمه الزكاة، ولا شيء على من ملكها بعد أن ثبت الوجوب. والله أعلم.
Adapun jika penjualan terjadi setelah adanya kewajiban (setelah biji mengeras), maka zakat tersebut menjadi kewajiban penjual, dan tidak ada kewajiban apa pun bagi orang yang memilikinya (pembeli) setelah tetapnya kewajiban tersebut pada pihak pertama. Wallahu a’lam.
Sumber : IslamWeb
Leave a Reply